Batang (iddaily.net) –Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Batang, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), kalangan akademisi, dan kelompok tani meluncurkan Program Minapadi Salin di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Program ini adalah upaya mengoptimalkan lahan pesisir berkadar garam tinggi menjadi kawasan produksi pangan terpadu.
Program yang mengusung tema “Green Manufacturing untuk Optimalisasi Lahan Salin Pesisir pada Kawasan Salinitas Tinggi di Kabupaten Batang” tersebut mengintegrasikan budidaya padi toleran salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu sistem produksi yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Peluncuran program ini menjadi respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi sektor pangan, mulai dari perubahan iklim, intrusi air laut, alih fungsi lahan pertanian, hingga meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.
BRIN menilai lahan salin yang selama ini dianggap kurang produktif memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi.
Dalam sambutan Kepala BRIN yang disampaikan Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, ditegaskan bahwa pemanfaatan lahan salin dapat menjadi solusi strategis untuk menciptakan sumber pangan baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Menurut BRIN, hasil riset harus mampu memberikan manfaat nyata di lapangan dan berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.
Program Minapadi Salin juga menjadi contoh penerapan hilirisasi hasil penelitian yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Teknologi dan inovasi yang dikembangkan para periset tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi diterapkan langsung oleh petani dan masyarakat pesisir untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi kawasan.
Melalui Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, BRIN menerapkan konsep Green Manufacturing dalam pengelolaan lahan salin.
Pendekatan tersebut mencakup sistem produksi rendah emisi, efisiensi penggunaan sumber daya, penerapan ekonomi sirkular, kajian keberlanjutan berbasis Life Cycle Assessment (LCA), hingga pengembangan rantai nilai dan hilirisasi pascapanen.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa konsep manufaktur berkelanjutan tidak hanya relevan untuk sektor industri, tetapi juga dapat diterapkan pada sektor pertanian dan perikanan guna meningkatkan produktivitas serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
Selain sistem budidaya terpadu, BRIN juga menghadirkan sejumlah teknologi pendukung untuk meningkatkan hasil produksi di lahan berkadar garam tinggi.
Salah satunya adalah teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) atau pupuk lepas lambat yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Proses.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menjelaskan bahwa teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dengan menyediakan unsur hara secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman.
Pendekatan ini dinilai mampu membantu pertumbuhan padi pada kondisi salinitas tinggi sekaligus mengurangi kehilangan nutrisi di lahan.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah teknologi desalinasi air untuk menghasilkan air berkadar garam rendah yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya pertanian. Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Yunita Rahman, menyebut teknologi tersebut juga menghasilkan air tua yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku garam industri.
Menurut periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Vina Eka Aristya, integrasi teknologi pupuk lepas lambat dan desalinasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan salin, memperbaiki efisiensi penggunaan air dan pupuk, serta memperkuat ketahanan pangan di wilayah pesisir.
Keberhasilan program ini didukung kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Alinandar, menilai sinergi tersebut menjadi faktor penting dalam mendorong penerapan teknologi secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Dalam implementasinya, sejumlah kelompok tani di Kabupaten Batang menjadi lokasi percontohan pengembangan Minapadi Salin, di antaranya Gapoktan Sido Barokah Mulyo, Kelompok Tani Intani Kasepuhan, dan Kelompok Tani Dewi Sri VI Depok yang berada di kawasan Sicepit, Kelurahan Kasepuhan.
BRIN menargetkan model pertanian dan perikanan terpadu berbasis lahan salin ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.
Selain mendukung peningkatan produksi pangan, program tersebut juga diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir.
Kabupaten Batang diproyeksikan menjadi model nasional pengembangan kawasan pertanian dan perikanan terpadu berbasis lahan salin.
Jika berhasil diterapkan secara berkelanjutan, konsep Minapadi Salin diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan pesisir.
