Jakarta (iddaily.net) – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp17.300 per dolar AS dinilai mencerminkan persoalan yang lebih dalam dari sekadar tekanan global.
Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Didik Prasetiyono, menyebut bahwa meskipun penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia memberi tekanan, dampaknya menjadi lebih besar karena faktor domestik yang belum terselesaikan.
“Ketergantungan terhadap impor energi masih tinggi, beban subsidi terus melebar, dan arah kebijakan fiskal belum sepenuhnya memberikan keyakinan kepada pasar. Dalam situasi seperti ini, pelemahan rupiah lebih mencerminkan keraguan terhadap arah kebijakan dibandingkan sekadar dinamika global,” ujar Didik dalam keterangannya.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah juga berdampak langsung pada sektor industri, terutama kawasan industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan komponen produksi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri nasional di tengah ketidakpastian global.
Didik menilai, respons pemerintah selama ini masih bersifat defensif dan jangka pendek. Intervensi pasar oleh Bank Indonesia dinilai penting untuk meredam gejolak, namun belum menyentuh akar persoalan struktural yang dihadapi perekonomian.
“Yang dibutuhkan adalah langkah korektif yang lebih tegas dan konsisten. Perbaikan struktur impor energi, penajaman subsidi agar tepat sasaran, serta kepastian arah kebijakan fiskal menjadi kunci untuk meredam tekanan jangka menengah dan panjang,” tegasnya.
Ia menambahkan, tanpa perbaikan mendasar, setiap gejolak global berpotensi terus berulang menjadi tekanan domestik. Karena itu, pelemahan rupiah saat ini perlu dibaca sebagai peringatan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional, khususnya dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah.
“Kurs saat ini adalah alarm. Stabilitas tidak cukup dijaga di pasar, tetapi harus dibangun dari kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi itu sendiri,” pungkas Didik.
