Jakarta (iddaily.net) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 21–27 Agustus 2026.
Penguatan El Nino hingga kategori sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperkuat kondisi atmosfer yang lebih kering.
Meski demikian, hujan tetap berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator, serta faktor lokal dapat memicu pertumbuhan awan hujan di beberapa daerah.
76,5 Persen Wilayah Indonesia Musim Kemarau
BMKG mencatat berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi kering juga tercermin dari distribusi curah hujan.
Sebanyak 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 87,28 persen wilayah memiliki sifat hujan di bawah normal.
Pada Dasarian III Agustus, kondisi kering diperkirakan masih berlanjut.
Sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian.
Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat hingga Papua Barat Daya.
El Nino dan IOD Positif Perkuat Kondisi Kering
BMKG menyebut El Nino saat ini telah mencapai intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan IOD yang berada pada fase positif.
Kombinasi keduanya berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia sehingga atmosfer menjadi lebih kering dan curah hujan cenderung menurun.
Kondisi tersebut sebenarnya telah diperkirakan BMKG sejak beberapa bulan sebelumnya.
Dalam siaran pers 30 Juli 2026, BMKG menyebut El Nino diprediksi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027, dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.
BMKG juga mengingatkan potensi IOD positif pada September–Desember 2026 yang dapat memperparah kondisi kekeringan.
Puncak Kemarau Terjadi pada Agustus-September
BMKG sebelumnya memproyeksikan Agustus menjadi puncak musim kemarau 2026 dengan cakupan sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia.
September diperkirakan menjadi puncak kemarau bagi sekitar 25,41 persen wilayah.
Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia juga diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Curah hujan kategori tinggi diprediksi baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober–November 2026.
Sementara mengutip BMKG pada awal Agustus menyebut sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026.
Hujan Lebat Masih Bisa Terjadi
Meski kemarau dan El Nino sangat kuat, masyarakat tidak boleh menganggap seluruh Indonesia akan bebas hujan.
BMKG mencatat pada 17–19 Agustus 2026 sejumlah wilayah justru mengalami hujan lebat hingga ekstrem.
Curah hujan harian tercatat mencapai 159 milimeter di Sumatera Barat, 131 milimeter di Banten, 127 milimeter di Bengkulu, 110 milimeter di Sumatera Utara, 109 milimeter di Riau, 77 milimeter di Jawa Barat, dan 69 milimeter di Aceh.
Hujan tersebut dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer dan faktor lokal.
MJO, gelombang Kelvin, gelombang MRG, belokan serta pertemuan angin, dan suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat Sumatra turut meningkatkan suplai uap air.
Faktor lokal seperti pemanasan permukaan, topografi serta interaksi angin darat dan laut juga dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Potensi Hujan 21–27 Agustus 2026
Untuk periode 21–23 Agustus, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang.
Peningkatan potensi hujan sedang perlu diwaspadai di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Papua.
Sementara itu, angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.
Untuk periode 24–27 Agustus, cuaca secara umum diprakirakan mulai bervariasi dari cerah berawan hingga hujan lebat.
Potensi peningkatan hujan sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. BMKG juga memberikan kategori siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatera Barat.
Angin kencang juga berpotensi terjadi di Lampung, Banten, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Ancaman Karhutla Meningkat
Kondisi kemarau yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG melaporkan berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan serta Kalimantan.
Sebagian asap bahkan terbawa pola angin ke wilayah sekitarnya.
Sebelumnya, hingga 29 Juli 2026 BMKG mendeteksi 5.019 titik panas yang terutama terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Papua Selatan dan Riau.
BMKG juga menyebut risiko karhutla diperkirakan mencapai titik tertinggi pada periode puncak kemarau Agustus–September, terutama di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua Selatan.
BMKG Ingatkan Hemat Air-Waspada Kebakaran
Menghadapi kondisi kemarau yang semakin dominan, BMKG mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta karhutla.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar dan hutan.
Di sisi lain, hujan lokal yang muncul tiba-tiba tetap perlu diwaspadai. Hujan dapat disertai petir dan angin kencang sehingga berpotensi menyebabkan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan hingga sambaran petir.
Dengan kondisi cuaca yang kontras antara kemarau dominan dan hujan lokal, masyarakat perlu mengikuti perkembangan prakiraan serta peringatan dini cuaca dari BMKG.
