Surabaya (iddaily.net) – Setelah informasi mengenai sesar aktif Surabaya-Madura ramai diperbincangkan, pertanyaan berikutnya muncul: wilayah mana saja di Surabaya yang berada dalam jalur sesar aktif?
BMKG menjelaskan, sesar di wilayah Surabaya bukanlah satu patahan tunggal yang berdiri sendiri.
Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto, mengatakan wilayah Surabaya memiliki beberapa segmen yang merupakan bagian dari sistem sesar besar Sesar Kendeng.
“Di Surabaya itu ada Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Jadi itu masuk di bagian Sesar Kendeng sebenarnya, segmen dari Sesar Kendeng,” ujar Suwarto, seperti dikutip detikJatim, Rabu (9/9/2026).
Sesar Kendeng Membentang Panjang
Sesar Kendeng merupakan zona patahan aktif yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Sistem tersebut terbagi menjadi beberapa segmen. Untuk kawasan sekitar Surabaya, dua nama yang disebut BMKG adalah Sesar Surabaya dan Sesar Waru.
Dalam pemetaan PusGen 2024, sistem tersebut berkaitan dengan Java Back-arc Thrust.
Sesar Surabaya berada di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Sementara Sesar Waru berkaitan dengan kawasan Surabaya dan Sidoarjo.
Bagaimana dengan Madura?
Wilayah Madura memiliki sistem sesar yang berbeda.
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, wilayah Bangkalan tercatat memiliki bagian dari sistem Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).
Karena itu, penyebutan “Sesar Surabaya-Madura” dalam unggahan media sosial perlu dibaca secara hati-hati.
Secara geologi, sistem sesar di Surabaya dan Madura memiliki segmen serta nomenklatur masing-masing.
Data Bukan Peta Baru
BMKG menegaskan keberadaan sesar tersebut bukan informasi yang baru ditemukan pada 2026.
Sesar di kawasan Surabaya telah dipetakan sejak 2017. Data kemudian diperbarui pada 2024 seiring perkembangan kajian sumber dan bahaya gempa Indonesia.
Pemetaan tersebut penting karena wilayah yang berada di sekitar jalur sesar perlu memperhatikan aspek keselamatan dalam pembangunan.
Namun, keberadaan sesar aktif tidak berarti setiap saat akan terjadi gempa.
Masyarakat justru perlu menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan untuk menimbulkan kepanikan.
Dilansir dari Kompas.com, Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Amien Widodo, menyarankan agar pemerintah proaktif melakukan antisipasi terhadap potensi gempa.
Amien menjelaskan, Surabaya dilewati oleh dua sesar aktif yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru.
Keduanya berpotensi gempa dengan kekuatan berbeda. Maksimal 5 Mv (Sesar Surabaya) dan maksimal 6 Mw (Sesar Waru).
Meski begitu, dia mengimbau agar masyarakat tidak panik. Tetapi, antisipasi juga penting dilakukan agar tidak menimbulkan efek yang lebih parah.
Antisipasinya dengan memasang Global Positioning System (GPS) dan Seismograf.
“Itu kan ada sesar, untuk mengetahui dia bergerak atau enggak mestinya dipasar beberapa GPS. Naik turunnya bisa dipantau. Kedua, pasang Seismograf,” kata Amien.
