Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah membakar sekitar 1.120,3 hektare lahan.
Meski titik api kini sudah tidak ditemukan, petugas gabungan masih melakukan penyisiran dan pembasahan untuk memastikan tidak ada sisa bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Malang per 14 Agustus 2026, luas total lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 1.120,3 hektare.
Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menyebut area yang terdampak di wilayah TNBTS sekitar 899 hektare.
Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan cakupan wilayah dan proses pendataan lahan terdampak yang masih berlangsung.
Kebakaran pertama kali terpantau pada 3 Agustus 2026 di kawasan Kaldera Bromo, tepatnya Blok Bantengan.
Api kemudian merambat ke sejumlah kawasan lain, termasuk Watu Gede, Bukit Jantur, B29, Dingklik, hingga wilayah yang berada di sekitar Kabupaten Malang dan Pasuruan.
Titik Api Sudah Tak Ditemukan
Kabar terbaru dari lapangan menunjukkan kondisi kebakaran mulai terkendali. Komandan Sektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, titik api sudah tidak ditemukan dalam pemantauan pada Sabtu (15/8/2026).
Meski begitu, petugas belum menghentikan operasi dan tim gabungan masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Operasi darat difokuskan antara lain di wilayah Pusung Duwur dan Pakis Binjil, Kabupaten Pasuruan.
Petugas melakukan pembasahan area yang dinilai masih berpotensi menyimpan bara dan
pemantauan juga dilakukan dari udara.
Dua helikopter tetap disiagakan untuk mendukung pembasahan apabila ditemukan lokasi yang memiliki potensi menyimpan bara api.
Selain itu, pesawat nirawak atau drone digunakan untuk membantu mendeteksi titik panas, asap, dan bara di kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran.
Meski tidak ditemukan titik api aktif, kawasan Bromo belum sepenuhnya dinyatakan aman.
Petugas masih memastikan seluruh area terdampak terbebas dari bara tersembunyi yang dapat kembali menyala, terutama karena kondisi medan yang sulit dan vegetasi yang kering.
Tim gabungan juga terus melakukan evaluasi hingga kawasan TNBTS benar-benar dinyatakan aman.
Penutupan akses wisata ke Gunung Bromo masih diberlakukan untuk mendukung proses penanganan sekaligus menjaga keselamatan wisatawan dan petugas.
