Jakarta (iddaily.net) – Gunung Marapi merupakan salah satu gunung api aktif di Sumatera Barat.
Gunung ini berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar dengan ketinggian sekitar 2.891 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung Marapi merupakan gunung api yang aktivitasnya terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi.
Gunung Marapi Berada di Mana?
Gunung Marapi berada di kawasan Sumatera Barat dan memiliki hubungan geografis yang sangat dekat dengan sejumlah wilayah permukiman serta kawasan wisata.
Aktivitasnya dapat berdampak terhadap wilayah di sekitar gunung, terutama ketika terjadi erupsi yang menghasilkan abu vulkanik.
Gunung Marapi Kembali Erupsi
Gunung Marapi kembali mengalami erupsi pada Sabtu, 26 September 2026 sekitar pukul 21.40 WIB.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum sekitar 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 19 detik.
Karena terjadi pada malam hari, tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara langsung dari Pos Pengamatan Gunungapi Marapi.
Erupsi tersebut juga diikuti laporan hujan abu yang berdampak ke sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Status Gunung Marapi
Setelah erupsi tersebut, Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada.
Laporan pengamatan pada 27 September 2026 juga mencatat adanya sejumlah aktivitas kegempaan.
Petugas Pos Pengamatan Gunungapi Marapi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti zona rekomendasi Badan Geologi.
Masyarakat, pendaki, pengunjung dan wisatawan diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek sesuai rekomendasi yang berlaku saat itu.
Apa Bahaya Erupsi Gunung Marapi?
Erupsi gunung api dapat menghasilkan berbagai material dan ancaman, antara lain abu vulkanik, lontaran material pijar serta material vulkanik lainnya.
Hujan abu juga dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat dan kualitas udara.
Abu yang menumpuk di atap bangunan juga perlu diperhatikan karena dapat menambah beban bangunan apabila jumlahnya banyak.
Masyarakat yang berada di daerah terdampak abu dapat menggunakan masker dan pelindung mata serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan PVMBG.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, aliran atau bantaran sungai yang berhulu di Gunung Marapi perlu mewaspadai potensi lahar, terutama ketika hujan turun.
Sejarah Erupsi Gunung Marapi
Gunung Marapi merupakan gunung api aktif yang telah mengalami aktivitas erupsi berulang.
Salah satu erupsi yang mendapat perhatian besar terjadi pada 3 Desember 2023, ketika erupsi menyebabkan sejumlah pendaki terdampak.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah aktivitas Gunung Marapi.
Aktivitas Gunung Marapi kembali tercatat sepanjang 2026. Hingga 7 September 2026, data Badan Geologi yang dirangkum IndonesiaBaik mencatat Gunung Marapi termasuk gunung api yang mengalami erupsi pada tahun tersebut dan berada pada Level II Waspada.
Mengapa Gunung Marapi Harus Dipantau?
Gunung api memiliki sistem yang dinamis sehingga aktivitasnya dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pemantauan dilakukan melalui pengamatan visual dan instrumen kegempaan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik.
Hasil pemantauan kemudian menjadi dasar evaluasi status serta rekomendasi keselamatan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi dari media sosial ketika Gunung Marapi mengalami erupsi.
Informasi mengenai status dan zona rekomendasi perlu diperiksa melalui sumber resmi Badan Geologi/PVMBG dan pemerintah daerah.
