Jakarta (idddaily.net) – Fenomena bediding tengah melanda sejumlah wilayah Jawa Timur sejak pertengahan Juni 2026.
Dr Kurnia Dwi Artanti dr M Sc, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR)menyebut bediding merupakan kondisi yang normal dan umumnya terjadi di setiap tahun.
“Fenomena bediding ini memang terjadi justru di musim kemarau. Memang biasanya terjadi di Bulan Juni. Kemudian makin tinggi di bulan Juli dan menurun nanti di Agustus ketika menuju ke musim penghujan,” tutur Kurnia yang dilansir dari laman unair.
Dia mengaku kondisi bediding, kelembapan akan cenderung menurun hingga menyebabkan tubuh terasa kering sehingga lebih sering mengalami haus.
Pihaknya menyarankan masyarakat mengonsumsi air putih, buah, vitamin yang cukup agar imunitas tetap terjaga.
Jia dibiarkan haus dan dehidrasi, menurut dia, bisa mengganggu kesehatan pernapasan, apalagi kondisi tubuh yang tidak fit berpotensi memperparah gangguan ini.
“Tenggorokan yang ga enak berdampaknya ke radang tenggorokan. Kalau radang saja itu kan proses inflamasi. Tapi kemudian kalau dalam kondisi tersebut ada bakteri yang masuk sedangkan kondisi tubuh kita lagi tidak fit, maka itu bisa jadi ISPA. Kalau ada batuk atau keluar dahak kekuningan, tandanya bukan hanya radang saja tapi ada infeksi di situ,” tegasnya.
Bahkan bediding mengakibatkan kondisi kulit menjadi kering.
Untuk itu, pihaknya mengimbau memakai pelembab kulit agar kelempannya tetap terjaga.
“Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir, yang penting selalu waspada. Asalkan kita melakukan upaya preventif dan proteksi pribadi,” tandasnya.
