Jakarta (iddaily.net) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mewaspadai multibencana.
Sebab, Indonesia rentan terhadap ancaman hidrometeorologi basah sekaligus kering secara bersamaan.
Ini menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi transisi cuaca ganda menjelang Juni 2026.
Mengapa ada multibencana dan ancaman hidrometeorologi basah sekaligus kering secara bersamaan? Mengutip dari laman BPBD, hidrometeorologi basah dan kering terjadi bersamaan saat suatu wilayah mengalami curah hujan ekstrem.
Seperti hujan lebat hingga menyebabkan banjir di tengah musim kemarau atau mengalami defisit air, yang memicu dua ancaman bencana berbeda (Banjir dan kekeringan/karhutla).
Berikut Penjelasan Hidrometeorologi Basah-Hidrometeorologi Kering:
1. Hidrometeorologi Basah
Kondisi yang dipicu oleh curah hujan sangat tinggi atau ekstrem yang berlangsung secara terus-menerus.
2. Hidrometeorologi Kering
Kondisi yang dipicu oleh kurangnya curah hujan dalam jangka waktu yang panjang sehingga terjadi defisit air.
Lalu mengapa terjadi secara bersamaan, menurut BMKG wilayah Indonesia, termasuk area Jawa Timur dan sekitarnya, sering mengalami cuaca ekstrem karena dinamika atmosfer saat transisi musim.
Di satu sisi, wilayah ini memasuki musim kemarau (Potensi kekeringan), namun fenomena cuaca lokal atau regional memicu hujan lebat singkat dengan intensitas tinggi (potensi banjir).
Selain itu ada anomali cuaca global, yakni fenomena seperti La Nina atau gangguan sirkulasi udara (MJO) yang menyebabkan wilayah dengan pola iklim kering masih diguyur hujan lebat.
Hal ini menyebabkan tanah sangat kering dan mudah terbakar di beberapa tempat, namun di tempat lain tergenang karena drainase yang tidak mampu menampung hujan ekstrem.
