Close Menu
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About Us
  • Q&A
  • Privacy Policy
  • Dukung Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
iddaily.netiddaily.net
Home»Voice»Esai»Untuk Kapolri Listyo Sigit dan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
Esai

Untuk Kapolri Listyo Sigit dan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

ID NugrohoID Nugroho25 April 2026 / 10:57 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Tangerang (iddaily.net) – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki dan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Banten Berly Rizki Natakusumah.

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya menjadi warga negara taat pajak.

Singkat cerita, plat nomor polisi sepeda motor milik saya, kebetulan akan habis masa berlakunya.

Saya harus mengurus perpanjangan plat nomor selama lima tahun.

Istilah anak zaman sekarang: ganti kaleng.

Karena lokasi sepeda motor saya di luar wilayah kota asal, maka saya melakukan apa yang disebut: Cek Fisik Bantuan.

Saya yakin pak Listyo dan pak Purbaya tidak pernah melakukan ini ketika jadi Kapolri atau Menkeu.

Gampangnya, saya ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap atau Samsat.

Kebetulan, yang paling dekat dengan tempat tinggal saya adalah Samsat Ciledug.

Sabtu (25/4/26) sekitar jam 09.00 WIB, saya ke Samsat Ciledug, Jl. Raya Raden Patah, Ciledug, Kota Tangerang.

Sampai di sana, saya diarahkan tukang parkir, untuk membawa sepeda motor ke sayap kiri, tempat proses “esek-esek” nomor rangka dan nomor mesin dilakukan.

Petugas meminta saya menyiapkan motor, dan langsung “diesek-esek”.

“Bawa hape?” tanya petugas yang mengaku bernama YSL.

“Bawa.” jawab saya

“Tolong saya difoto, lalu fotonya diprint di atas formulir, printnya di tempat fotokopi di depan,” kata YSL sambil menyerahkan formulir kuning.

Saya manut aja. Ketika proses esek-esek dilakukan, saya foto.

Formulir saya bawa, dan menuju ke tempat fotokopi yang dimaksud.

Lokasinya, di depan-kiri Samsat Ciledug.

Tukang fotokopi bernama Anwar membantu saya. Dan dalam sekejap, foto itu sudah terprint di atas formulir.

“5000 rupiah,” kata Anwar.

Saya kembali ke tempat esek-esek, dan langsung menyerahkan hasil print-nya pada YSL.

“Untuk proses ini ada biayanya 50 ribu rupiah,” kata YSL. “Nanti saya akan bawa ke dalam.”

Saya tidak tahu maksudnya.

“Apakah ada Qris? Saya tidak bawa cash,” tanya saya.

“Tidak ada,” katanya.

Saya pun ke ATM di dekat gerbang, mengambil uang pecahan 100 ribu, dan menyerahkannya pada YSL, dan memberi “uang kembalian” 50 ribu rupiah.

Pak Listyo dan pak Purbaya, saya sangat terbantu dengan petugas yang cekatan.

Mulai meminta saya memotret pake hape, mengarahkan saya ke tukang fotokopi, sampai meminta uang 50 ribu sebagai biaya.

Saya tidak menerima tanda terima dari “uang biaya” 50 ribu itu.

Saya sempat riset online, apakah Cek Fisik Bantuan itu berbayar, atau gratis? Kata Google gini:

Secara resmi, layanan cek fisik kendaraan di Samsat Ciledug maupun Samsat lainnya tidak dipungut biaya alias gratis (Rp 0). Biaya cek fisik, termasuk cek fisik bantuan, tidak ada dalam komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) resmi. Jika ada permintaan uang, hal tersebut di luar ketentuan resmi.

Saya tidak tahu, apakah Google salah, atau Petugas YSL yang benar.

Bagi saya, 50 ribu rupiah itu yah, lumayan lah. Uang makan 2 kali.

Tapi bagi negara (dengan asumsi 50 ribu itu adalah uang pembayaran resmi), maka pendapatan yang dihasilnya, cukup besar.

Kalau sehari 10 orang, dan masing-masing membayar 50 ribu, maka sehari dapat 500,000 rupiah.

Dalam sebulan, dihitung 22 hari, maka akan didapat Rp.11 juta

Kata Google, ini setara dengan gaji profesional di tingkat manajerial/struktural (usia 25-29 tahun), atau fresh graduate perusahaan perminyakan/multinasional, pekerja hotel berbintang di luar negeri (seperti Taiwan), serta pejabat daerah.

Dalam setahun, ada pemasukan dari biaya bantuan esek-esek, Rp 130 juta.

Besar juga ya.

Bila pak Listyo dan pak Purbaya membaca tulisan ini, mungkin ada baiknya, biaya 50 ribu untuk setiap bantuan Cek Fisik itu bisa dimasukkan Komponen Pajak Resmi.

Biar orang-orang seperti saya bisa ikut membantu negara yang sedang getol membangun ini.

bapeda biaya kapolda kapolri menkeu Samsat
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleJejak Petarung Tiongkok di Kelenteng Sam Poo Kong
Next Article Dari Kandang Sapi Ke Tanah Suci
ID Nugroho

Jurnalis dan blogger senior, tergila-gila pada dunia jurnalistik dan musik

Related Posts

Jempol untuk Blak-Blakan Dony

27 Oktober 2026 / 08:22 WIB

KontraS Surabaya: Hentikan Intimidasi dan Pembungkaman Kebebasan Sipil

23 Oktober 2026 / 09:35 WIB

Negara Bangkrut Saat Pemerintah Kehilangan Kemampuan Melayani Rakyat

20 Oktober 2026 / 14:04 WIB
Leave A Reply Cancel Reply

Hari Sumpah Pemuda 2026: Mengapa Persatuan Pemuda Tetap Penting?

27 Oktober 2026 / 13:00 WIB

Meiska Rilis Ulang Aku Cuma Punya Hati, Intro dan Bridge Kini Berbeda

27 Oktober 2026 / 12:15 WIB

Negara Gagal Lindungi Korban Karhutla, 293 Perusahaan Terseret Sepanjang 2026

27 Oktober 2026 / 11:56 WIB

Jempol untuk Blak-Blakan Dony

27 Oktober 2026 / 08:22 WIB

Kemenhaj: Hindari Transit Malaysia dan Singapura demi Keamanan dan Ekonomi Nasional

27 Oktober 2026 / 06:56 WIB

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.