Gresik (iddaily.net) – Suasana Ramadan hingga Idul Fitri di Gresik selalu dipenuhi aktivitas keagamaan dan tradisi budaya yang berlangsung nyaris tanpa henti. Dari ibadah di masjid dan pesantren hingga ziarah ke makam tokoh penyebar Islam seperti Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim, puncak kemeriahan bermuara pada perhelatan Pasar Bandeng dan pesta rakyat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Selama tiga hari pelaksanaan, ratusan pedagang ikan bandeng memadati kawasan Jalan Samanhudi, Pasar Kota Gresik. Sekitar 200 pedagang bandeng berbaur dengan ribuan pelaku usaha lain yang menjajakan berbagai kebutuhan Lebaran, mulai dari pakaian hingga makanan dan mainan anak. Tradisi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan Ramadan sekaligus memperkuat identitas lokal sebagai kota pesisir yang lekat dengan hasil tambak.
Sejarah Pasar Bandeng tidak memiliki catatan pasti, namun sejumlah sumber menyebut tradisi ini telah berlangsung sejak Gresik menjadi pusat perdagangan penting di Nusantara. Sejak abad ke-11, wilayah ini ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara seperti Tiongkok, Arab, hingga India. Dalam proses itulah Islam berkembang di Jawa, dibawa oleh tokoh seperti Maulana Malik Ibrahim. Latar sejarah maritim ini turut membentuk karakter masyarakat yang banyak menggantungkan hidup pada sektor perikanan, khususnya budidaya bandeng.
Sebagai daerah dengan wilayah pesisir luas, Gresik memiliki ratusan kilometer tambak yang menjadi sumber utama produksi bandeng. Ikan ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga simbol status sosial. Dalam tradisi lokal, semakin besar ukuran bandeng yang dikonsumsi saat Ramadan atau Idul Fitri, semakin tinggi pula prestise seseorang.
Fenomena ini terlihat jelas di Pasar Bandeng, di mana ikan berukuran besar menjadi incaran utama. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, bandeng berukuran jumbo dilelang dengan nilai fantastis. Transaksi lelang mampu menembus ratusan juta rupiah, dengan satu ekor bandeng berbobot sekitar 8 kilogram bisa menghasilkan keuntungan hingga puluhan juta rupiah.
Suyatin, pedagang bandeng asal Bungah, merupakan generasi ketiga dalam keluarganya yang terlibat dalam tradisi ini. Ia menyiapkan sekitar enam ton bandeng dengan berbagai ukuran untuk dijual selama acara berlangsung. Sebagian besar pasokan berasal dari tambak di Gresik dan daerah sekitarnya. Meski ukuran bandeng tahun ini cenderung lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya, optimisme tetap tinggi karena permintaan pasar yang stabil.
Hal serupa disampaikan Kusnulhadi, pedagang lain dari Sedayu. Ia mengungkapkan bahwa faktor cuaca menjadi tantangan utama. Minimnya curah hujan menyebabkan kadar garam di tambak meningkat, sehingga pertumbuhan bandeng terhambat dan sebagian bahkan mati sebelum panen. Kondisi ini berdampak langsung pada ketersediaan bandeng berukuran besar.
Selain faktor produksi, dinamika harga juga menjadi perhatian. Jika sebelumnya bandeng raksasa bisa dijual hingga Rp125 ribu per kilogram, kini harga cenderung stagnan di kisaran Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan akhir bulan turut memengaruhi daya beli masyarakat, yang lebih memprioritaskan kebutuhan sandang untuk Lebaran.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Pasar Bandeng tetap menjadi magnet ekonomi dan budaya yang kuat di Gresik. Tradisi ini tidak hanya menggerakkan roda perekonomian lokal, tetapi juga memperkuat identitas daerah sebagai salah satu pusat budaya pesisir di Jawa Timur. Di tengah perubahan zaman, Pasar Bandeng terus bertahan sebagai simbol keberlanjutan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
