Surabaya (iddaily.net) – Siapa sebenarnya sosok yang layak disebut sebagai pahlawan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan itu menjadi titik berangkat kegelisahan seorang seniman asal Nganjuk, Jawa Timur, Waluyohadi, yang melihat fenomena pemujaan berlebihan terhadap tokoh-tokoh populer global.
Nama-nama seperti Superman, Che Guevara, Rambo, SpongeBob SquarePants, hingga John Lennon dan Iwan Fals kerap hadir dalam berbagai atribut budaya populer seperti kaos, poster, dan aksesori. Namun bagi Waluyohadi, fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang relevansi tokoh-tokoh tersebut dalam kehidupan nyata masyarakat.
Keresahan itu kemudian diwujudkan dalam sebuah karya seni bertajuk “Superhero Jaman Sekarang” yang dipamerkan di Centre Culturel et de Coopération Linguistique (CCCL) pada akhir November hingga awal Desember. Melalui pameran ini, ia mencoba menggeser perspektif publik tentang siapa yang layak diidolakan.
Waluyohadi, yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung, menilai bahwa masyarakat kerap mengagungkan figur-figur yang jauh dari realitas kehidupan mereka. Padahal, menurutnya, ada sosok-sosok di sekitar yang memiliki dampak langsung dan nyata, meski sering terabaikan.
Dalam eksplorasi artistiknya, ia memperkenalkan konsep bahwa “teman” adalah superhero sesungguhnya. Sosok yang hadir dalam keseharian, memberikan dukungan emosional, menemani dalam situasi sulit, hingga membantu dalam hal-hal sederhana. Konsep ini lahir dari pengalaman personalnya yang penuh interaksi bermakna dengan orang-orang di sekitarnya.
Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika ia menjadi relawan di Aceh pascabencana tsunami. Di sana, ia menjalin kedekatan dengan seorang anak korban bencana bernama Rizky Ananda. Hubungan tersebut menjadi simbol penting dalam karyanya, merepresentasikan bagaimana relasi manusia dapat membentuk makna kepahlawanan yang lebih relevan.
Pengalaman lain juga ia dapatkan saat menempuh studi di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Interaksi dengan keluarga angkat, rekan studi, hingga tim pendakian Gunung Fuji memperkaya perspektifnya tentang arti persahabatan. Ia merasakan secara langsung bagaimana hubungan antarmanusia dapat melampaui batas budaya dan bahasa.
Dalam pamerannya, Waluyohadi menggunakan medium kaos dan patung berbahan polimer karbon untuk menyampaikan pesan. Menariknya, tokoh-tokoh populer lama justru ditampilkan dalam bentuk yang kaku dan statis, sebagai simbol bahwa konsep kepahlawanan lama telah “membatu”.
Sebaliknya, ruang pamer diisi dengan potret orang-orang biasa yang memiliki makna luar biasa dalam hidupnya. Mulai dari sahabat di Jepang seperti Minamide Naoyuki, hingga seorang pria tua yang ia temui saat pendakian Gunung Fuji. Sosok-sosok ini ditampilkan sebagai representasi “superhero” masa kini—nyata, dekat, dan relevan.
Fenomena ini sekaligus menjadi kritik terhadap budaya populer yang cenderung membentuk pola konsumsi simbol tanpa refleksi makna. Waluyohadi melihat bahwa ketergantungan pada figur global dapat membuat masyarakat melupakan nilai-nilai hubungan personal yang justru lebih berdampak.
Melalui karya tersebut, ia tidak hanya menawarkan perspektif baru, tetapi juga mengajak publik untuk meninjau ulang siapa yang sebenarnya berperan penting dalam kehidupan mereka. Dalam konteks ini, kepahlawanan tidak lagi diukur dari kekuatan super atau popularitas, melainkan dari kedekatan emosional dan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus budaya populer global, pesan ini menjadi relevan, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dengan berbagai simbol idola dari luar. Karya Waluyohadi menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap ikon dunia, ada sosok-sosok sederhana yang justru menjadi pilar utama dalam kehidupan manusia.
