Jakarta (iddaily.net) – Jalan hidup manusia itu misteri. Jangan sekali-kali meremehkan seseorang.
Tapi, saat sudah di atas, jangan juga jadi lupa diri.
Pesan itu terungkap saat -setelah sekian tahun tak bersua- kongkow bareng Diana
Amaliyah Verawatiningsih Sasa, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Jatim IX -Pacitan, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, dan Ngawi.
Satu pertanyaan terlontar pada Sasa, apa sih yang ditakuti seorang politisi? Kehilangan jabatan, kehilangan kursi, atau apa. Sasa punya jawaban menarik untuk itu.
”Saya lebih takut kehilangan jiwa dan diriku sendiri daripada kehilangan kekuasaan,” katanya.
Sasa berprinsip, jabatan itu hanya sementara. Kadang, ia merenung, berbagai perlakuan istimewa yang didapatnya, bukan karena seorang Sasa, tapi lebih kepada jabatan yang melekat padanya. Karena kursi yang ia duduki.
”Tetaplah tulus dan melakukan hal-hal baik. Karena kekuasaan yang begitu menggoda dan bisa membuat seseorang melakukan apa saja tanpa terkontrol itu tak kita miliki selamanya,” tukasnya.
Mengenang kerusuhan Agustus setahun lalu, yang awalnya diakibatkan kekesalan masyarakat pada polah wakil rakyat, Diana Sasa menganggap memang seharusnya legislator menjalankan fungsi representasi dengan benar.
”Wajar saja kalau rakyat marah kepada anggota dewan, terutama kalau yang dinampakkan tidak sesuai harapan,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan itu.
Menurut Sasa, bagaimana rakyat tidak marah, jika dalam situasi seperti saat ini -cari makan susah, cari kerja susah, PHK di mana-mana, infrastruktur tak karuan, tarikan pajak tinggi- sementara anggota DPR atau DPRD memamerkan hal-hal yang kontras dengan semua itu.
”Seharusnya kawan-kawan lebih sensitif. Jangan ‘shock culture‘. Tetaplah menjadi anggota dewan yang mudah dijangkau, jangan berpagar tinggi” kata lulusan Universitas Negeri Surabaya ini.
Dua periode di DPRD Jawa Timur, Sasa masih ngontrak rumah di Magetan. “Saya berusaha tak bermewah-mewah di depan rakyat. Rasanya, hati ini tak akan sampai,” ujar ibu dua anak itu.
Rapat di kawasan Jalan Indrapura, Surabaya, ia memilih pulang pergi ke Magetan dengan transportasi umum, seperti kereta api.
“Anggaran atau tunjangan rumah ada, tapi saya biasa menggunakan itu untuk kebutuhan konstituen. Banyak proposal masuk sana-sini,” ujarnya.
Sukses dan sehat ya, Sasa. Tetap rendah hati, dan ’eling‘. Meski ada yang tak berubah memang. Cara bicaramu tetap ceplas-ceplos seperti 20 puluh tahun lalu.
