Jakarta (iddaily.net) – Malam itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno bukan hanya menjadi saksi kemenangan Timnas Indonesia 2-0 atas Singapura dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
Jumat, 25 September 2026, stadion kebangaan rakyat Indonesia ini juga menjadi tempat bertemunya dua hal yang sering kali kita lupa dalam sepak bola: rivalitas dan persahabatan.
Di tengah riuhnya puluhan ribu suporter Indonesia -total 38.702 pasang mata hadir di GBK, saya bertemu Syed Faris, Koordinator Singa Brigade, kelompok suporter Timnas Singapura.
“Kami tetap bangga meski hasilnya tak menyenangkan. Kami tahu ini pertandingan tak mudah, tapi timnas Singapura sudah berjuang amat keras. Timnas Indonesia dengan pemain-pemain diaspora dari Eropa benar-benar lawan yang begitu tinggi levelnya,” kata Syed Faris.
Faris datang tidak sendirian. Sebanyak 55 suporter Singapura terbang langsung ke Jakarta untuk memberikan dukungan kepada tim kesayangan mereka.
Di Zona 11 GBK, mereka tak lelah mengibarkan bendera Singapura, tetap memberikan tepuk tangan untuk para pemainnya, dan berulang nge-chant, ’Satu Singapura’.
”Satu Nada!
Satu Suara!
Satu Darah!
Satu Bangsa dan Negara!
Satu Singapura!
Yoh, ayoh, ayoh, ayoh, Singapura!
Yoh, ayoh, ayoh, ayoh, Singapura!”
Karena menjadi suporter bukan hanya tentang datang ketika tim menang.
Menjadi suporter adalah tentang tetap berdiri ketika tim kalah.
Dari Faris dan 54 rekannya, saya belajar satu hal sederhana: sepak bola boleh membuat kita berbeda warna, berbeda lagu, bahkan berbeda negara.
Tetapi setelah peluit panjang berbunyi, kita tetap bisa berjabat tangan.
Indonesia boleh menang.
Singapura boleh kalah.
Namun malam itu, persahabatan Indonesia-Singapura tetap menjadi pemenangnya.
Salam hormat untuk Singa Brigade.
Kalian kalah di lapangan, tetapi menunjukkan bahwa kebanggaan kepada negara tidak pernah ditentukan oleh skor akhir.
Video by: Iman Nugroho
Editing: Yosafat Ocha
