Jakarta (iddaily.net) – BMKG menyatakan fenomena El Nino 2026 telah aktif dan diperkirakan berpotensi mencapai kategori sangat kuat.
Kondisi tersebut diprediksi memicu musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pada sejumlah sektor strategis.
“El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius. Saat ini kondisinya sudah masuk kategori El Nino kuat, sehingga perlu diantisipasi,” ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam lamannya.
Hasil pemantauan BMKG, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral dan diprakirakan bergerak menuju fase positif pada September hingga Desember 2026.
Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dengan peluang mencapai 48,84 persen, disusul September sebesar 25,41 persen.
Faisal menjelaskan pemerintah memprioritaskan dua langkah utama, yakni menjaga ketersediaan air melalui pengisian waduk dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta mengurangi risiko karhutla melalui pembasahan lahan-lahan yang rawan terbakar.
BMKG memperkirakan risiko karhutla mulai meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Wilayah berisiko tinggi diprediksi meluas, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Lima provinsi yang menjadi prioritas pengawasan meliputi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Menurut Faisal, upaya mitigasi tidak hanya difokuskan pada kekeringan dan karhutla, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi musim hujan pada akhir tahun yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan siklon tropis.
BMKG bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah terus memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca berbasis data meteorologi, kondisi tinggi muka air tanah di lahan gambut, serta pemantauan titik panas (hotspot).
“Kami menjaga agar permukaan air tetap pada kondisi normal sehingga lahan gambut tetap jenuh air dan tidak mudah terbakar,” kata Faisal.
Selain untuk pengendalian karhutla, OMC juga dimanfaatkan menjaga ketersediaan air di sejumlah waduk strategis, termasuk di kawasan Danau Toba guna mendukung irigasi, penyediaan air bersih, dan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Pada sektor pengelolaan lahan, BMKG mendorong penguatan pemantauan hotspot, patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Di sektor kesehatan, BMKG merekomendasikan peningkatan pemantauan kualitas udara, penguatan sistem prediksi dan peringatan dini berbasis konsentrasi PM2.5, peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, serta pemantauan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Di sektor pertanian, BMKG mendorong percepatan masa tanam sebelum puncak defisit air, penggunaan varietas tanaman berumur genjah, optimalisasi distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman, serta pembatasan ekspansi pertanian di wilayah yang sangat rentan terhadap kekeringan.
Dan di sektor ekonomi, BMKG merekomendasikan pemanfaatan prediksi musim dalam perencanaan ekonomi, penguatan pemantauan harga dan produksi pangan, serta peningkatan koordinasi kebijakan ekonomi dan ketahanan pangan.
Adapun sektor energi, BMKG mendorong pengelolaan waduk berbasis informasi cuaca dan iklim agar pasokan air tetap optimal bagi pembangkit listrik, irigasi, dan kebutuhan masyarakat.
Diversifikasi sumber energi melalui optimalisasi PLTG, PLTU, serta energi surya dan angin juga dinilai penting sebagai langkah adaptasi menghadapi musim kemarau.
BMKG menegaskan terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan pemanfaatan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika guna mendukung pemerintah dalam mengantisipasi dampak El Nino, menjaga ketahanan sumber daya air, menekan risiko karhutla, serta meningkatkan kesiapsiagaan nasional menghadapi berbagai potensi bencana hidrometeorologi.
