Jakarta (iddaily.net) – Selama 10 jam, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi sebanyak 6 kali.
Erupsi hari ini, Sabtu (4/7/2026) dengan ketinggian 1 hingga 1,5 Km tidak disertai guguran awan panas.
Padahal sebelumnya, terjadi guguran awan panas hingga sejauh 4 Km beberapa kali.
Aktivitas vulkanik Semeru kembali meningkat setelah rentetan erupsi beruntun terjadi sejak 20 Juni 2026, Pakar Geografi UGM, Dr. Indranova Suhendro ST MSc, Nova mengingatkan bahwa ancaman Gunung Semeru tidak hanya berasal dari erupsi.
Dia menilai bahaya banjir lahar justru menjadi salah satu ancaman paling signifikan karena banyaknya material vulkanik lepas yang tersedia di lereng gunung.
“Material hasil erupsi harian yang berupa pasir, kerikil, dan batu dapat dengan mudah terbawa air hujan menuju sungai,” kata Indranova Suhendro dilansir dari laman UGM.
Nova, panggilan akrabnya menyebut lahar dari hasil erupsi tergolong berbahaya karena dapat datang secara tiba-tiba. Hujan yang terjadi di puncak gunung dapat memicu lahar yang kemudian mengalir melalui sungai-sungai berhulu di Semeru.
“Bisa saja di bawah tidak hujan, tetapi di puncak hujan deras dan tiba-tiba lahar datang. Yang berbahaya itu karena laharnya membawa bongkahan material besar,” ujarnya.
Dia menjelaskan aliran Sungai Besuksemut merupakan jalur utama yang harus diwaspadai. Hal ini karena menjadi lintasan awan panas maupun lahar.
Oleh karena itu, PVMBG secara konsisten mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di radius tertentu maupun di sepanjang alur sungai tersebut.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan bersama tim membuktikan bahwa fraksi kristal yang terkandung di dalam magma Gunung Semeru mencapai 50 persen.
Artinya, magma Gunung Semeru cukup kental karena tidak hanya tersusun oleh cairan tetapi juga padatan atau kristal dengan rasio sekitar 50:50.
“Dengan kondisi ini, maka magma yang keluar akan dierupsikan sebagai kubah lava yang berwujud seperti bisul,” ujarnya.
Semeru juga dikenal dengan erupsi bertipe Vulkanian, selain itu erupsi ini terjadi akibat akumulasi gas yang terperangkap oleh kubah lava yang akhirnya meledak dan melontarkan material ke udara.
“Erupsi Vulkanian sangat intens terjadi di Semeru dengan interval kejadian dalam hitungan jam hingga menit. Namun, dampak umumnya bersifat lokal dan terbatas di sekitar kawah,” terangnya.
