Jakarta (iddaily.net) –Penyanyi dan penulis Dee Lestari resmi merilis album ketiganya bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta, menandai kembalinya ia ke industri musik dengan karya penuh setelah hampir dua dekade sejak album Rectoverso.
Album terbaru ini berisi delapan lagu yang dirancang sebagai sebuah perjalanan emosional tentang cinta, kehilangan, harapan, hingga proses melepaskan.
Sebelumnya, Dee telah memperkenalkan sebagian warna album tersebut melalui tiga single, yakni (Jangan) Jatuh Cinta, Perahu Kertas, dan Kabarku.
Kehadiran album ini juga menghadirkan sejumlah kolaborasi yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah lagu Cuma Satu Nama yang dibawakan bersama Afgan.
Lagu tersebut memiliki makna khusus karena ditulis oleh Dee bersama mendiang suaminya, Reza Gunawan.
Selain itu, album ini turut memuat lagu Hujan Bulan Juni yang berangkat dari puisi legendaris karya Sapardi Djoko Damono.
Lagu tersebut sejatinya pernah dipersiapkan untuk proyek film adaptasi novel berjudul sama pada 2017, namun baru diwujudkan sebagai karya rekaman resmi dalam album terbaru ini.
Secara konsep, susunan lagu dalam album dirancang menyerupai perjalanan hati manusia dalam menghadapi berbagai fase kehidupan.
Lagu pembuka, “(Jangan) Jatuh Cinta”, menjadi semacam pengantar yang mengingatkan tentang risiko dan keindahan mencintai.
Nomor tersebut mendapat sentuhan aransemen dari Rendy Pandugo dengan dukungan vokal dari Teddy Adhitya.
Perjalanan emosional kemudian berlanjut melalui lagu “Patah Hati” yang digarap oleh Gala Yudhatama dan Pandji Akbari.
Nuansa yang lebih gelap hadir dalam “Kabarku”, lagu yang menempatkan tokoh utama pada titik terendah setelah mengalami kehilangan dan kekecewaan.
Lagu ini dikerjakan oleh kelompok kreatif Fellow Amateurs yang beranggotakan Mikha Angelo, Yosua Gian, Geddi Jaddi Membummi, dan Nathania S. Alexandra.
Di pertengahan album, “Hujan Bulan Juni” menghadirkan suasana yang lebih reflektif.
Aransemen yang disusun oleh Gardika Gigih dipadukan dengan elemen live session serta dukungan paduan suara dari Barsena Bestandhi.
Nuansa yang lebih cerah kemudian muncul dalam lagu “Jadi Udara”.
Lagu yang diproduseri oleh Dimas Wibisana tersebut menghadirkan vokal latar dari Arina Ephipania serta sejumlah orang terdekat Dee yang terlibat dalam proses produksi.
Sementara itu, lagu “Perahu Kertas” kembali hadir dengan interpretasi baru melalui sentuhan produksi Petra Sihombing.
Lagu yang telah lama identik dengan nama Dee tersebut ditempatkan sebagai simbol fase ketika perjalanan cinta menemukan arah dan tujuan.
Puncak album hadir melalui “Cuma Satu Nama”, lagu duet bersama Afgan yang menjadi perayaan atas pertemuan dua hati.
Karya tersebut sekaligus menjadi salah satu lagu paling personal dalam album karena melibatkan kontribusi kreatif mendiang Reza Gunawan.
Album kemudian ditutup dengan “Bintang Utara”, sebuah lagu yang mengangkat hubungan antara orang tua dan anak.
Melalui aransemen orkestral karya Lafa Pratomo, Dee menghadirkan refleksi tentang cinta yang tumbuh tanpa syarat dan kemampuan untuk merelakan.
Kembalinya Dee Lestari melalui album “(Jangan) Jatuh Cinta” memperlihatkan konsistensinya sebagai musisi sekaligus penulis lagu yang mengedepankan narasi dan kedalaman lirik.
Dengan kombinasi storytelling yang kuat, kolaborasi lintas generasi, serta tema-tema universal yang dekat dengan pengalaman banyak orang, album ini menjadi salah satu rilisan musik Indonesia yang menarik perhatian pada 2026.
Selain menandai fase baru dalam perjalanan bermusik Dee Lestari, album ini juga menghadirkan sejumlah momen emosional melalui keterlibatan nama-nama penting yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan kreatifnya, termasuk Afgan, Reza Gunawan, dan Sapardi Djoko Damono.
