Jakarta (iddaily.net) –Bila di edisi sebelumnya soal kaki yang berdarah-darah ketika akan melakukan lempar jumrah, episode kali ini soal polisi Arab Saudi.
Sebagai catatan, tentunya, sebagai manusia, peristiwa yang terjadi dalam rangkaian haji tahun 2025 itu terjadi karena kesalahan saya.
Tapi sebagai hamba Allah SWT, saya melihat ini sebagai gambaran, “balasan” yang pernah saya perbuat sebelum berhaji.
***
Semua berawal dari keputusan saya pergi sendirian untuk melakukan lempar jumrah di Mina.
Singkat cerita, setelah saya membersihkan kaki yang berdarah karena ditabrak kursi roda, saya kembali melanjutkan aktivitas saya melempar jumrah Aqabah.
Aqabah, dalam bahasa Arab berarti “jalan yang curam”, dalam konteks haji, jumrah aqabah adalah perlambang berlawanan manusia pada godaan iblis yang paling kuat.
Umat muslim percaya, jumrah Aqabah diilhami oleh kisah Nabi Ibrahim AS, saat melawan godaan Iblis untuk membatalkan niat Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS, sesuai perintah Allah SWT.
Meski akhirnya diketahui, perintah Allah SWT itu adalah ujian, ketika Nabi Ismail yang sudah diujung pedang, diganti Allah SWT dengan domba.
Saya tuntas melakukan jumrah aqabah, dengan melempar kerikil selama 7 kali.
Saya ingat betul, setiap lemparan saya lakukan dengan sepenuh hati.
“Allahu Akbar!”
Wuss!
Kerikil meluncur, menghantam tonggak, dan terjatuh di dasarnya.

***
Masih berbalut ihram, saya melipir meninggalkan areal lempar jumrah Aqabah.
Seluruh rangkaian umrah saya hampir berakhir, dengan fase terakhir, melakukan tahallul atau memotong rambut.
Saya mengikuti jalan menuju ke luar jamarat, untuk mencari jemaah haji yang juga melakukan tahallul.
Normalnya, tahallul hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah melakukan tahallul, dalam rangkaian umrah yang sama.
Di salah satu sudut jamarat, ke arah pintu keluar, saya menemukan gerombolan jemaah yang melakukan tahallul.
Dari fisiknya, besar kemungkinan dari luar Indonesia.
“Apakah bisa menolong saya melakukan tahallul?” tanya saya dalam bahasa Inggris terbata, pada salah satu di antara mereka.
“Tahallul,..tahallul,..” saya mempersingkat kata-kata, sambil tangan kanan saya menunjukkan tanda menggunting di rambut.
Dari sekitar 4-7an orang yang saya tanya, mereka menolak melakukan tahallul, atau memotong rambut saya.
Lah, gimana ini?
Mengapa jemaah haji menolak memotong rambut saya?
Dalam keadaan seperti itu saya berpikir, kalau memang nggak ada yang menolong tahallul, maka tahallul bisa dilakukan sendiri.
Memang begitu ajarannya.
Saya keluarkan pisau Victorinox milik saya, untuk tahallul mandiri.
Pisau ini saya beli di sebuah plaza, kawasan Bintaro, entah tahun berapa.
Entah berapa kali pisau ini akan disita petugas Bandara, karena dianggap melanggar regulasi penerbangan.
Alhamdulillah, saya berhasil mempertahankannya.
Pisau lipat sudah saya buka, dan siap memotong.
Beberapa helai rambut saya pegang dengan tangan kiri, dan saya potong dengan pisau di tangan kanan.
Tidak putus!!!
What!!!
Entah mengapa, rambut saya tidak terputus, walau sudah saya iris-iris.
Di saat kebingungan, ada seorang polisi Arab Saudi melintas tak jauh dari saya.
“Sir, would you help me to do Tahallul?” kata saya sambil menyodorkan pisau lipat (yang sudah terbuka pisaunya).
Polisi itu menghampiri. Merebut pisau saya, sambil mengatakan sesuatu dengan nada tinggi, dalam bahasa Arab.
Saya tidak paham, tapi saya merasa, dia marah.
Dari nada suaranya, sepertinya dia marah.
Mungkin karena saya bawa pisau.
“Sorry, this is just for tahallul,” saya mencoba menjelaskan, berkali-kali.
Ini cuma untuk tahallul.
Dia tetap berkata-kata dengan nada tinggi. Pisau saya tetap digenggamnya.
Entah kenapa, emosi saya terpancing.
Tegas saya berkata: “I will report you,”
Eh, sambil berkata dalam bahasa Arab, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada membentuk huruf X, tanda saya akan diborgol.
Waduh.
“Nusuk!” perintahnya.
Kartu Nusuk saya serahkan.
Kartu Nusuk, identitas digital resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah Arab Saudi, dan wajib dimiliki oleh seluruh jemaah haji.
Tanpa kartu ini, saya tidak bisa melanjutkan aktivitas saya di Arab Saudi.
Waduh
Beberapa polisi dipanggil untuk merapat, guna menangkap saya.
Beberapa saat, kondisi tidak menguntungkan.
Saya memilih pasrah.
Saya bahkan menelepon beberapa kawan, dan mengabarkan: tolong jemput saya di kantor polisi terdekat.
Duh..

***
Entah dapat ide dari mana, saya mendekat ke polisi Arab Saudi yang marah-marah itu.
“Pak, maaf sebelumnya. Saya tidak tahu aturannya. Pisau itu hanya untuk tahallul, tidak untuk maksud lain,..” kata saya dalam bahasa Inggris, sambil mendekap tangan saya di dada.
Polisi itu melihat saya agak lama, kemudian keajaiban terjadi.
Ia mengambil kartu Nusuk milik saya, dan menyerahkan pada saya.
Alhamdulillah!!!!
“Ya la,.. ya la,..” katanya. Kira-kira, menyuruh saya pergi.
Pisau saya tetap digenggamnya.
Lega.
Saya mengambil cover pisau lipat Victorinox dan memberikan padanya:
“If you want to keep that knife, please bring this,.” kata saya, sambil menyerahkan cover pisau.
Dia ambil covernya, langsung dibuang.
Tanpa ba-bi-bu, saya pergi.
***
Saya sampai tenda tempat menginap di Mina, dan menceritakan kejadian itu pada kawan-kawan serombongan.
“Jadi kamu belum tahallul? Ayo sini saya potong rambutnya,” kata Mas Arifin Asydhad, dari Kumparan.
Maturnuwun Kaji Asydhad.
(bersambung)
