Jakarta (iddaily.net) – Tragedi Lumpur Lapindo Sidoarjo memasuki dua dekade atau tepat 29 Mei 2006 atau 20 tahun.
Bencana paling kontroversial dalam sejarah kelam Indonesia yang memakan korban puluhan orang dan kerugian hingga Rp 45 triliun benda itu. berawal dari pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006.
Semburan lumpur berada di Desa Siring, Kecamatan Porong, ini sekitar 12 KM sebelah selatan Kota Sidoarjo, berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan).
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Hingga Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp6 triliun.
Dilansir dari laman Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) volume semburan lumpur mencapai kisaran antara 100.000-120.000 m3/hari, diikuti deformasi geologi yang aktif di sekitar lokasi semburan.
Ahli Geologi berpendapat fenomena gunung lumpur (mud volcano) ini terkait dengan aktivitas vulkanisme dan belum bisa memastikan kapan semburan lumpur tersebut benar-benar akan berhenti.
Lumpur Sidoarjo ini secara geologi terletak pada cekungan sedimen belakang busur vulkanik (back arc basin) namun masih relatif dekat dengan deretan gunung api (G. Penanggungan dan G. Arjuno-Welirang).
Selain itu lokasi keluarnya Lumpur Sidoarjo juga berada di dalam kelurusan sistem Sesar Watukosek yang mengarah Barat Daya-Timur Laut.
Dengan melihat setting geologi, debit semburan yang masih besar, suhu lumpur dan kandungan gas yang keluar dari semburan lumpur mengindikasikan bahwa fenomena ini terkait dengan aktivitas vulkanisme yang berada di bagian Selatan.
Begitu juga komposisi isotop helium dari cairan Lusi mud volcano sangat mirip dengan cairan Volkanik Welirang, indikasi keberadaan gas magmatic.
Meski sudah hampir dua dekade berlalu, aktivitas semburan ternyata belum benar-benar berhenti.
Berdasarkan pengukuran pada 2017, volume semburan masih mencapai sekitar 86.270 meter kubik per hari dengan karakteristik yang fluktuatif.
Artinya, debit lumpur bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi geologi di sekitar lokasi.
