04 June 2021

HARI-HARI MENJELANG “ENDGAME”

*catatan dari markas Watchdoc


Sebuah film tentang awak KPK yang gagal tes wawasan kebangsaan sedang dibuat. Film dengan wawancara 16 narasumber, 20 jam lebih sound on tape, dan dikerjakan dalam waktu singkat. Tulisan ini penggalan proses pembuatan film itu: The Endgame

***

Ragu-ragu saya mengucap salam di depan gerbang kantor Watchdoc, menjelang dini hari, 31 Mei 2021 lalu. Dari samping pagar tempat saya berdiri, markas di perumahan kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur itu terlihat tidak ada aktivitas.

Dari dalam kantor, seorang laki-laki berambut cepak menghampiri, dia tidak mengenali saya, meski kami beberapa kali bertemu. Masker dan helm sepeda nangkring di kepala, penyebabnya

“Oh, mas Iman. Masuk mas..” undang Indra, salah satu kru Watchdoc.

Saya melihat Dandhy D Laksono duduk di teras belakang. Kaos hitam, celana pendek warna gelap, seperti biasa membalut tubuhnya. Wajahnya kuyu. Obrolan basa-basi tak banyak membantu.

“Ini film dengan wawancara terpanjang yang pernah dilakukan Watchdoc. Untuk itu kami perlu bantuan kawan-kawan lain,” jelasnya pendek.

Film yang dimaksud Dandhy adalah The Endgame. Film yang bercerita tentang testimoni 16 pegawai KPK yang gagal tes wawasan kebangsaan (TWK) itu, sedang dalam proses pengerjaan. Saat tulisan ini dibuat, setidaknya 2 minggu sudah proses pengerjaannya berlangsung. Peliputan, wawancara narasumber, hingga mengumpulkan footage pelengkap, dilakukan hampir secara bersamaan.

Watchdoc tidak sendirian. Untuk pembuatan film ini, perusahaan media yang belum lama merilis film dokumenter terpanjang Kinipan itu  mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk jurnalis dari luar Watchdoc. Meskipun begitu, tetap saja, membuat The Endgame bukan sesuatu yang mudah.

Rangkaian wawancara yang dilakukan kepada 16 awak KPK itu menghasilkan 20 jam lebih rekaman video. Belum lagi footages tambahan yang harus dikumpulkan sejak KPK berdiri, hingga pegawainya dijadikan ASN pada tahun ini. Tentu saja, momentum-momentum penting yang terjadi melibatkan lembaga anti rasuah itu tak luput dikumpulkan.

Termasuk momen pertarungan Cicak vs Buaya, jilid 1 dan 2, serta berbagai aksi lain di KPK yang hampir pasti terjadi setiap hari. Apalagi, saat serangan kepada awak KPK berlangsung beberapa waktu lampau. Puncaknya ketika penyidik senior KPK, Novel Baswedan, disiram air keras di dekat kediamannya. Semua bahan-bahan itu didapatkan, dan diolah kembali untuk kebutuhan film The Endgame.

Dandhy mengaku sudah seminggu ini tidur di kantor. Sambil bergurau, jurnalis yang sampai saat ini masih tercatat sebagai “terlapor” di Polda Metro Jaya itu menjelaskan, cara kerja Watchdoc acap kali berkejaran dengan deadline.

“Sudah biasa. Kurang 5 hari rilis film Endgame saja, baru 30 persen pengerjaan selesai, haha.”

Tak terasa, hari sudah berganti saat obrolan di teras belakang kantor Watchdoc bareng Dandhy berlangsung. Selasa, 1 Juni 2021. Sepanjang itu juga, editor video, Hendra dan jurnalis Wira sibuk mengedit di ruang editor, sayap kiri kantor itu. Sementara Indra, melakukan verbatim salah satu wawancara dengan personel KPK.

“Selesai mas. Untuk wawancara kali ini, kuat dalam tema sejarah KPK dan sejarah pelaksanaan TWK,” sergah Indra saat bergabung di teras belakang.

Dandhy dan Indra melanjutkan diskusi tentang pengklasteran materi film. Setidaknya, ada lima klaster yang dibuat dalam film ini. Tentang Kontroversi TWK, kasus yang ditangani KPK, derasnya upaya pelemahan KPK, latar belakang semua persoalan, hingga Integritas awak KPK yang sudah teruji.

“Sialnya”, materi dalam setiap wawancara awak KPK, hampir seluruhnya layak untuk ditayangkan. Tentu, tidak mungkin wawancara 20 jam ditayangkan utuh. Lalu, yang mana yang akan ditayangkan? Yang mana yang akan dibuang? Apakah publik akan kuat melihat film panjang yang isinya hanya parade “talking head” saja?

***

Nasi uduk lauk telur dadar, mengawali obrolan kami di teras belakang markas Watchdoc, Selasa pagi. Dandhy dan Wira berbincang di sela sarapan, tentang progres editing semalaman dan agenda liputan hari ini. Ketua KPK Firli Bahuri melantik 1271 pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Setelah pelantikan usai, bersamaan dengan Hari Lahir Pancasila, 75 pegawai KPK yang tidak lulus TWK resmi berhenti menjadi pegawai KPK.

“Pertaruhannya belum terjawab. Apakah publik akan bertahan menyaksikan film panjang ini?” Dandhy membuka pembicaraan.


Dalam dunia jurnalistik, mengedit statement sebenarnya bukan hal yang susah. Apalagi untuk jurnalis senior sekelas jurnalis asal Lumajang, Jawa Timur ini. Tinggal dicari, mana komentar yang paling menohok, paling penting dan dibutuhkan oleh publik. Namun, itu untuk wawancara pendek, dan berita harian. Lain cerita untuk film panjang.

Dandhy menceritakan, dirinya pernah melihat film panjang yang hampir sama dengan The Endgame. Tentang aktivis media sosial. Di film yang dilihatnya melalui Netflix itu, Dandhy mengaku bosan. Hal itu yang ingin dihindarinya dalam film kali ini. Publik harus tetap berada di depan layar, sepanjang film yang diperkirakan berdurasi 2,5 jam ini.

“Salah satu triknya sedang dicari. Apakah di-roll penuh, atau dibuat penggalan kata yang saling melengkapi?” tanya Dandhy.

Diskusi kecil pagi itu dihentikan oleh kru Watchdoc lain yang berdatangan. Hari ini, mereka berencana melanjutkan penggarapan film dengan melakukan perekaman aktivitas 3 awak KPK yang tidak ikut dilantik. Ini ada aktivitas liputan terakhir yang dilakukan untuk film ini.

“Saya akan mengikuti Rieswin (Rieswin Rachwell-red), salah satu narasumber,” jelas Indra, jurnalis Watchdoc. Selain Rieswin, Novel (Novel Baswedan) dan Tata (Tata Qoiriyah) juga difilmkan hari itu.

Di sudut lain markas Watchdoc, dua editor sedang berbincang. Hendra, editor shift malam menyerahkan pekerjaannya kepada Umam, editor shift pagi. Handover pekerjaan itu menjadi salah satu standard operating procedure (SOP) yang wajib dijalankan. Apalagi, untuk sebuah pekerjaan yang sedang diburu deadline seperti film ini.

Rieswin, salah satu narasumber ditemani beberapa kerabatnya sedang berjalan-jalan di sebuah plaza kawasan Serpong, Tangerang Selatan, ketika tim Watchdoc menemuinya. Awak KPK keturunan Tionghoa itu berniat makan es krim di salah satu konter. Dia mengaku tidak berniat mengikuti secara utuh acara pelantikan ASN KPK yang akan berlangsung hari itu. Sesekali, Rieswin mengintip berita pelantikan ASN itu melalui telepon genggamnya.

Saat pelantikan yang disiarkan langsung melalui saluran Youtube KPK itu, Tata dan tiga rekannya menyaksikan dari apartemen. Begitu juga Novel, yang ketika momen itu terjadi, sedang berada di rumah beserta keluarganya.

“Sebenarnya saya gak mau mengikutinya, tapi karena Watchdoc minta, saya mau, haha..,” kata Rieswin, seperti ditirukan Indra.

***

“Mereka bertanya kepada saya, apakah saya pernah pacaran? Ini pacar yang ke berapa?”


“Mereka bertanya, soal radikalisme (di KPK). Seingat saya, tidak pernah tuh kawan-kawan saya ada yang ngebom, hahaha”

“Ini jelas semua upaya untuk membenturkan integritas,”

“Saya ditanya, apakah saya mau berbohong untuk pimpinan saya? Saya jawab tidak. Saya ikut bekerja untuk KPK, bukan untuk pimpinan saya. Bahkan, di slip gaji kami tertulis Gaji Ini Dibayar dengan Uang Rakyat.”


Penggalan-penggalan statement awak KPK itu terdengar ketika Dandhy dan beberapa awak Watchdoc melakukan review pada hasil edit film the Endgame pada Jumat (4/6/2021) pagi. Deadline semakin dekat. Sehari lagi, film ini akan dirilis. Pada Jumat, film The Endgame memasuki tahapan “Penting”.

Dalam setiap pembuatan film di Watchdoc, setidaknya ada tiga tahapan yang dilakukan.

Tahap satu: Menarik. Semua bahan-bahan pembuatan film dikelompokkan dan dipilih hal-hal menarik yang dimiliki. Hal lain yang dianggap tidak menarik, akan dibuang. Ini bukan langkah yang mudah, lantara hampir semua materi yang didapatkan memiliki sisi menariknya sendiri-sendiri.

Tahap dua: Penting. Bila seluruh bahan yang menarik itu berhasil dikelompokkan, dipilah lagi dengan ukuran “penting” atau “tidak penting”. Hal-hal yang tidak penting, akan dibuang. Menarik tapi tidak penting, untuk apa? Pertaruhan semakin besar.

Tahap terakhir adalah: Relevan.  Relevansi  menjadi ukuran penutup. Pertanyaan yang selalu ada di kepala dalam fase ini adalah: untuk apa ada materi yang menarik dan penting, tapi tidak memiliki relevansi bagi publik? Relevan menurut publik yang mana? Bisa jadi, relevansi terhadap sesuatu bisa berbeda-beda. Di sinilah fase gambling paling besar.

Dan Watchdoc terbukti bisa melewati tiga fase itu dengan baik dalam film Sexy Killers (35 juta viewer), Mengenang Kenangan Jatigede (2,5 juta viewer), Belakang Hotel (1,7 juta viewer) hingga Kinipan (1 juta viewer). Bagaimana The Endgame? Sampai tulisan ini dibuat, trailer 1 dan 2 film itu sudah meraih 60 ribu lebih penonton di Youtube.

“Pada peluncurannya nanti, setidaknya ada 167 tempat (dari total 360 pendaftar) akan melakukan nonton bareng film ini secara bersamaan,” kata Dandhy.

ID NUGROHO
*foto: Dok Watchdoc, ID Nugroho

No comments:

Post a Comment