16 November 2015

PRANCIS, ISIS DAN PERLAWANAN PADA TERORISME


Airmata belum mengering ketika tulisan ini dibuat. Airmata kesedihan yang tumpah karena aksi terorisme di beberapa tempat, di dua negara, pada pertengahan November 2015.

Di Paris, Prancis dan Beirut, Lebanon, 150 orang lebih tewas karena kebrutalan teroris. Di dua tempat itu juga, 300 orang lebih terluka karena aksi yang sama.

Dunia tersengat. Kesedihan keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang yang dicintai, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan kemanusiaan yang terkoyak akibat aksi terorisme, kembali mewarnai media massa, dan memunculkan respon hampir di seluruh dunia.


Kelompok yang merupakan bagian dari the Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS mengaku bertanggungjawab atas aksi pembantaian itu.

Pengakuan itu menambah daftar panjang kebrutalan yang sudah dilakukan ISIS belakangan ini.

TENTANG TERORISME

Terorisme, siapa pun yang melakukannya, apapun alasan yang mendasarinya adalah tindakan yang harus dikecam.

Aksi yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya ini tidak pantas mendapatkan tempat di mana pun.

Apalagi, aksi terorisme membuahkan korban dari orang-orang yang tidak bersalah dalam pusaran konflik utamanya.

Teror, menjadi dasar aksi terorisme. Rasa takut yang diciptakan, digunakan sebagai senjata untuk menggolkan tujuan.

Bila rasa takut sudah tercipta, diharapkan akan mendorong pihak-pihak yang terteror untuk menuruti, mengabulkan tuntutan.

Cap terorisme bukan tanpa kritik.

Negara barat, yang dimotori oleh Amerika Serikat dan sekutunya dinilai banyak memberikan stempel terorisme pada kelompok-kelompok tertentu, yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka.

Namun mengabaikan aksi lain yang nyatanya juga teror, tapi dinilai masih bisa “dipahami”.

Sebut saja menyerangan aparat keamanan dan penggusuran dengan kekerasan Israel pada wilayah penduduk sipil Palestina, misalnya.

Kritikan juga muncul, ketika tindakan negara barat merespon aksi terorisme, justru menciptakan teror baru.

Banyak penduduk sipil yang tewas dalam serangan AS dan sekutunya di Irak, Afghanistan, Suriah dan negara-negara Timur  Tengah lainnya.

ISIS ADALAH TERORIS

Di balik pro-kontra penyebutan terorisme, saya menilai, apa yang dilakukan ISIS dalam sepak terjangnya, pantas disebut teroris.

Pemaksaan, penembakan, pemenggalan, menyerbuan dan lain-lain yang dilakukan ISIS, semakin menguatkan definisi kelompok itu sebagai teroris.

ISIS yang mengatasnamakan Islam, justru faktanya, banyak membunuh orang Islam dalam aksinya.

Bahkan, perempuan dan anak-anak, yang dalam Islam dimuliakan, diserang dan bahkan dibunuh tanpa ampun.

Kelompok itu bertindak dengan mengabaikan ajaran-ajaran kedamaian Nabi Umat Islam, Muhammad SAW.

Dalam kasus serangan di Prancis dan Beirut, pelaku (yang merupakan jaringan ISIS), membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan “konflik” yang selama ini terjadi. Di manakah keislaman ISIS bila sudah seperti itu?

ISIS MERUGIKAN ISLAM

Dampak lain dari serangan ISIS ke Prancis dan Beirut (juga rencana penyerangan lain yang belum dilakukan), justru secara global merugikan Islam.


Mulai muncul kembali gerakan-gerakan yang menilai Islam adalah hal yang buruk.

Bisa dibayangkan, efek dari serangan ISIS kali ini, memunculkan kembali stigma bahwa Islam adalah teroris.

Stigma ini sempat muncul setelah serangan Al Qaida pada 9 September 2001 di menara kembali World Trade Centre (WTC) New York, AS.

Seiring berjalannya waktu, stigma ini berubah. Dunia global mulai menyadari, Al Qaida bukan representasi ajaran Islam.

Lalu, seolah ingin mengulang Al Qaida, ISIS muncul dengan memanfaatkan jargon Islam, namun tindakan yang diambil, justru jahiliyah (masa sebelum mengenal Islam).

Langkah ISIS menyerang negara-negara di Eropa, bertentangan dengan sikap negara-negara itu yang belakangan mulai menerima pengungsi Muslim dengan tangan terbuka.

Pengungsi Muslim yang datang ke Eropa itu, justru dipicu oleh barbarianisme ISIS di Timur Tengah.

Jelas sudah, ISIS merugikan muslim.

MELAWAN TERORISME

Dunia memang pantas mengobarkan semangat melawan terorisme.

Terorisme yang dimaksud di sini adalah melawan tindakan-tindakan yang menebarkan ketakutan, menyerang, tidak menghormati perbedaan, dan pada ujungnya merugikan umat manusia.

Selain ISIS, siapakah kelompok yang diidentifikasi sebagai teroris?

Dengan kata kunci: List of designated terrorist groups, Wikipedia.org memuat daftar kelompok yang disebut sebagai teroris.

Dalam daftar itu terlihat, kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam, begitu banyak, bersanding kelompok lain yang membawa kepentingan berbeda.

Penting untuk dipahami, melawan terorisme tidak selalu dengan menggunakan senjata.

Tindakan deradikalisasi (mengikis hal-hal radikal), menjadi penting sebagai proses awal menekan munculnya aksi terorisme.

Mengajarkan agama, ideologi dan nilai-nilai yang damai, menjadi kunci atas tindakan ini.

Begitu juga dengan penegakan prinsip keadilan. Poin ini menitipberatkan pada persamaan cara pandang, penilaian dan respon yang sama berdasarkan keadilan, untuk sebuah tindakan.

Respon dunia global pada derita rakyat Palestina atas tindakan Israel, menjadi contohnya.

Mengapa tidak ada sanksi untuk Israel atas okupasi yang dilakukan atas tanah Palestina?

Begitu juga dengan pembantaian Suku Rohingnya  di Thailand dan Myanmar.

Karena manusia adalah manusia, di manapun mereka berada, apa pun warna kulit dan agama yang dianutnya. (*)

No comments:

Post a Comment