19 December 2010

Merokok, regulasi tembakau dan kapitalisme

Iman D. Nugroho


Regulasi tembakau kembali dibicarakan dalam sebuah pelatihan di Jakarta. Tiba-tiba muncul pertanyaan: Mengapa tembakau Indonesia terus "diserang"? Sekedar urusan kesehatankah, atau ada skenario lain dari pihak-pihak yang ingin membuat laku tembakau luar negeri?

Memang, tidak mudah menjawab dua pertanyaan itu. Karena baik pihak yang kontra tembakau (baca: perokok), maupun yang pro-tembakau sama-sama memiliki argumentasi kuat mengenai hal itu.

"Tahukah kau, kemana bos pabrik rokok akan berlibur? Ke semua tempat di dunia. Para bos rokok itu kaya raya karena kebiasaan buruk merokok yang kamu lakukan. Apa yang kau dapat? Hanya sakit," kata Shirley Shackleton.

Heritage dan kapitalisme

Shirley yang aktivis anti rokok itu adalah janda Greg Shackleton, salah satu jurnalis yang tewas di Balibo, Timor Timur. Sementara Rieke Dyah Pitaloka, anggota Komisi IX DPR RI dari FPDIP, memiliki prespektif berbeda. Menurutnya, harus dibedakan, sakit karena tembakau, dan ketidakmampuan pemerintah untuk memberi hak kesehatan pada warganya.

Juga, sikap pemerintah memandang rokok kretek sebagai national heritage (baca: warisan budaya). Seperti yang dilakukan oleh pemerintah Cuba, ketika masih dipimpin oleh Fidel Castro. Saat itu, Cuba mencatatkan cerutu Cuba sebagai warisan budaya setempat.

Apa yang terjadi dengan keputusan itu? Tidak ada lagi yang memandang cerutu Cuba dengan pendekatan apapun selain budaya. Di Indonesia tidak demikian. Rokok, meskipun sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya, hanya dilibat sebagai barang konsumsi.

Bagaimana titik temu antara kelompok pro dan kontra? Sebenarnya bukan hal yang sulit. Yang bisa dilakukan adalah respect each other. Bagaimana seorang perokok bisa menghormati orang-orang yang tidak merokok, begitu juga sebaliknya. Bila ingin ketat melakukan regulasi "bebas rokok", perlu kiranya menyediakan regulasi "bebas merokok".

Bagaimana soal bos-bos pabrik rokok yang kaya? Sementara petani tembakau miskin? Itu soal sistem ekonomi. Bukankah kapitalisme (yang notabena berasal dari 'barat' juga) yang menyebabkan itu semua?

No comments:

Post a Comment