15 August 2010

Selamat datang hiburan rakyat…



Jojo Raharjo

Partai tanpa gol di White Hart Lane antara Totenham Hotspurs menjamu Manchester City pada Sabtu (14/8) menandai bergulirnya Barclays Premier League 2010/2011.


Sampai saat ini, Liga Inggris, -selanjutnya kita sebut dengan BPL- masih dipandang sebagai liga yang paling ditunggu di seluruh dunia, termasuk di antara jutaan penggila bola di Indonesia. Mengapa? Entahlah. Sudah 44 tahun Inggris tak mampu mencapai final Piala Dunia sejak mereka juara saat menjadi tuan rumah 1966.

Ini liga paling bergengsi sedunia? Ah, masak.. Bintang Liga Inggris asal Portugal Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro, kini memegang rekor sebagai pemain termahal dunia dengan rekor transfer 80 juta poundsterling justru saat pindah ke Liga Spanyol pada musim 2009/2010. Rekor-rekor dunia sebelumnya juga bukan dipegang pemain yang pindah ke BPL, yakni Luis Figo (dari Barcelona ke Real Madrid, 2000) dan Zinedine Zidane (dari Juventus ke Madrid , 2001).

Mengapa BPL menjadi idola tak lepas dari sisi komersialisme dan tingginya terpaan media itu sendiri. Akuntan publik Deloitte mencatat BPL berada di posisi teratas liga paling menguntungkan sedunia dengan pendapatan rata-rata 700 juta dolar per tahun. Urutan berikutnya dalam 5 besar yakni Seri A Italia, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, dan Major League Soccer AS.

Di Indonesia, berputarnya BPL tahun ini disambut harap-harap cemas karena sampai hari H peluit berbunyi belum ada kepastian televisi mana yang akan menayangkannya. Dalam sejarahnya, BPL –sejak masih bernama Liga Utama Inggris, pernah ditayangkan langsung di SCTV, Trans 7 dan kemudian sejak tiga tahun lalu dipegang oleh televisi berbayar. Awalnya hak siar BPL dipegang teve kabel Astro (2007), Aora (2008), dan menyusul Indovision (2009).

Sampai Sabu (14/8) sore, belum ada kepastian teve mana yang akan mengambil. Pemberitaan di berbagai media pun tak menunjukkan jawaban pasti, termasuk telpon langsung ke customer service maupun pesan facebook ke pejabat public relations Indovision yang terus saya lakukan.

Satu-satunya berita agak melegakan datang saat Jum’at petang, wartawan Bola Darojatoen menampilkan pesan twitter bahwa BPL selama 3 musim ke depan bakal ditayangkan Indovision bersama dua teve gratisan di bawah bendera Media Nusantara Citra (MNC) yakni TPI dan Global TV. Pesan itu sempat teragukan saat pertandingan pertama –partai kacamata antara Spurs vs City tadi- ternyata tak muncul di layar kaca. Saya telpon ke layanan pelanggan Indovision, Sabtu (14/8) jam 19.00 WIB, jawabannya, “Maaf, setahun ke depan Indovision tak dapat hak siar BPL. Saat ini ESPN sedang menayangkan pertandingan softball.”

Syukurlah, akhirnya kejelasan datang di jam 21.00 WIB. Baik ESPN, Starsports (versi Indovision) maupun TPI dan Global TV menayangkan partai Blackburn vs Everton, dan Aston Villa vs West Ham, dilanjut Chelsea vs Albion dan Liverpool vs Arsenal pada Minggu (15/8).

Keputusan MNC mengambil hak siar BPL, yang konon tarifnya mencapai Rp 150 miliar rupiah, patut disyukuri. Peduli amat keputusan itu terjadi di antara kemelut bisnis kubu Hary Tanoesoedibjo versus mbak Tutut dan Yapto Suryosumarno. Rakyat kecil tak peduli soal hubungan pencitraan dan perang bisnis. Yang penting, setelah tiga musim jadi tontonan elit, kini Liga Inggris kembali hadir prodeo.

Buah manggis, enak sekali
Dibeli mahal di Pasar Ciamis
Liga Inggris paling dinanti
TPI dan Global tayangkan gratis…

*Analisa olahraga lain, klik di sini

No comments:

Post a Comment