19 March 2010

Badai, Banjir dan,...capek deh!

Maya Mandley

Banjir bisa terjadi di mana-mana. Tidak cuma di Indonesia yang (sorry to say) tidak terlalu peduli sama yang namanya kelestarian lingkungan. Di negara maju seperti Amerika, mother nature jenis itu juga ikut mampir.

Ingatanku terlempar ketika tinggal di dekat sungai yang katanya sambungan Kali Ciliwung. Sungai yang selalu meluap saat hujan lebat. Kalau nggak salah, tanpa hujan pun, rumah kami tahu-tahu didatangi tamu tak diundang, tanpa kenal waktu. Termasuk saat tengah malam saat semua anggota keluarga tertidur lelap.

Untunglah, saat Aku kelas 1 SMA, ayah mulai sanggup membeli rumah di daerah yang tidak banjir. Cuma ya gitu, saat itu jalannya masih sirtu alias pasir batu. Jadi saat hujan bukan banjir lagi yang harus dihadapi, tapi sepatu becek yang kadang solnya jadi tinggi karena tanah merah. Tapi sekarang sudah aspal. Menurut gossip yang aku dengar, karena warga sekitar memilih salah satu partai dan jadi pemenang pemilu. Dan partai ini memenuhi janjinya untuk mengaspal jalan di daerah pinggiran Jakarta tersebut. Nggak tahulah! Politics bikin rumit.

Kini, tinggal di New Jersey, AS, setengah gak percaya waktu melihat ketika di AS, pun ada banjir. Di TV, aksi national guard (sipil militer) melakukan evakuasi warga saat banjir menenjang AS. Modelnya persis seperti saat rumahku kebanjiran di Jakarta. Aksi reporternya pun tak kalah heboh. Kadang sambil berada di atas perahu, kadang berdiri di atas genangan air setinggi dengkulnya.

Beruntung, Aku tinggal bukan di daerah langganan banjir. Jadi banjir yang jadi berita tak begitu mengganggu aktivitasku. Namun badai nor'easter yang melanda akhir pekan pertengahan Maret sebagai "gantinya". Memang sih, beberapa hari sebelumnya weathermen atau peramal cuaca mengingatkan soal ancaman badai ini. Termasuk di tempat Aku tinggal. Pada hari Sabtu pagi, Aku sempat keluar rumah untuk cari sarapan dan belanja bulanan. Saat itu angin yang berkecepatan sekitar 40 miles/jam itu datang sekali-sekali.

Namun semakin siang, angin semakin kencang. Aku sampai merasakan sendiri rumah tempat aku tinggal seperti bergoyang. Suamiku sempat khawatir dengan pohon besar di belakang rumah. Keadaan ini baru berhenti sehari kemudian. Aku melihat beberapa tiang listrik atau tiang telpon di dekat rumah rubuh.

New York City dan New Jersey diberitakan dalam kondisi parah pasca badai ini. Banyak pohon roboh. Bahkan ada yang menimpa rumah. Belum lagi tiang listrik dan tiang telpon. Bisa ditebak akibatnya. Banyak warga yang listriknya padam. Di beberapa daerah, sekolah bahkan tutup. Karena selain tiang dan pohon roboh, sisa salju yang lumer ditambah hujan (meski tak begitu deras) membuat daerah langganan banjir jadi terendam.

Sialnya, Apunya janji mengunjungi teman di daerah New Jersey utara dekat dengan daerah yang terkena banjir. Gosh! Itulah baru pertama kalinya selama hampir 7 tahun tinggal di Amerika, aku melihat yang namanya kebanjiran. Jalan utama macet karena banyak jalan yang ditutup. Temanku yang mengantar harus cari jalan. Selama dia muter-muter itu aku bisa liat bagaimana rumah-rumah terendam. Lumayan tinggi. Bisa mencapai seperempat bangunan. Dari pantauan camera helicopter berita TV, terlihat daerah yang terendam lumayan luas. Warga pun memilih untuk mengungsi. National guard juga melakukan evakuasi. Ribut di sana- sini karena banjir.

Bagaimana dengan listrik yang padam? Petugas perusahaan listrik juga butuh waktu lumayan lama untuk memperbaiki tiang yang roboh. Sebab kadang mereka juga harus menyingkirkan batang pohon yang lumayan besar. Ahh ..badai oh badai mengapa kau senang sekali mampir dan meninggalkan bekas yang bikin susah semua orang?

| republish | Please Send Email to: iddaily@yahoo.com |

No comments:

Post a Comment

Program

Program