27 March 2010

Leha-leha di Flea Market

Maya Mandley | text and photo

Musim semi sudah dimulai. Umumnya rakyat Amerika sangat antusias menyambutnya. Buat anak sekolah, itu artinya musim liburan musim panas yang tiga bulan sudah di depan mata, buat yang suka gardening, itu artinya bisa memulai kegiatan tanam menanamnya, dan buat aku pribadi itu artinya pergi nonton balapan kuda dan pergi ke Flea Market.


Aku gak tahu pasti apa terjemahan Flea Market. Aku hanya ingat waktu belajar bahasa Inggris di PPIA di Jl Pramuka Jakarta, ada subject soal Flea Market. Dan mereka membandingkannya dengan Flea Market di Jl Surabaya Jakarta. Menurutku arti bebas Flea Market itu pasar loak. Setelah sampai disini, ternyata Flea Market itu sangat trend. Tapi artinya ternyata gak selalu barang loak atau 'junk' yang dijual.

Di kota tempat aku tinggal, ada 1 Flea Market yang dikelola pemerintah kota. Tempatnya sangat teramat luas. Kira-kira dua kali lapangan bola. Belum lagi lapangan parkirnya. Meski tak beraspal, tapi gratis. Kalo yang mau bayar USD 2 juga ada, cuma gak ada bedanya sama yang gratis.Kecuali ada yang jaga di depan pintu. Gak ada yang memandu lagi, kayak tukang parkir di Jakarta or Surabaya.

Mungkin yang bayar itu kalo yang gratis dah penuh, maka tak ada pilihan lain. Barang yang dijual di Flea Market yang berada di Kota bernama Englishtown New Jersey ini bermacam-macam. Mulai dari barang USD 1 (yang umumnya made in china) sampai komputer dan TV bekas. Ada juga yang jualan pakaian (baik bekas maupun baru tapi ada cacatnya), jual sayuran dan tentu saja makanan.

Meski yang dijual macem-macem, di Flea market ini tentu saja tidak meninggalkan arti dasarnya, yaitu Flea (kutu busuk) yang umumnya seneng nangkring di furniture. Makanya kenapa pasar loak disebut Flea Market karena yang dijual adalah furniture bekas yang jadi tempat tinggalnya si Flea. Aku juga pernah liat ada yang jual radio bekas yang menurut penilaianku seperti radio saat pertama kali diciptakan. Ada juga yang jual piringan hitam lengkap dengan playernya.

FLEA MARKET PERTAMAKU

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di benua Amerika, Flea Market di Englishtown ini selalu jadi tempat favoritku saat musim panas. Aku tak selalu harus belanja, kadang aku hanya keliling sampai capek. Karena memang tempat ini tak hanya tempat untuk belanja, tapi juga sebagai tempat hiburan keluarga. Sebab aku juga sering melihat satu keluarga pergi ke Flea Market, lengkap dengan anjing kesayangan mereka.

Flea market bukanya cuma hari sabtu dan minggu aja, alias weekend. Itupun dengan catatan tak ada hujan. Tempatnya yang di daerah terbuka dan kadang di atas tanah merah biasa, sangat dipengaruhi oleh cuaca. Kalo hujan, tentu tak banyak penjual yang menggelar dagangan, dan tentu saja tak ada pembeli juga yang mau main ke Flea Market.

Selain pedagang di lapangan, Flea Maket di Englistown juga memiliki building. Ada 5 building yang diisi kios-kios seperti halnya pasar tradisional di Indonesia. Pedagang di dalam building ini juga jenis nya bermacam-macam. Mulai dari kedai makanan sampai perhiasan. Pedagang di dalam ini bisa buka setiap musim. Karena mereka tak terpengaruh dengan keadaan cuaca diluar.Termasuk saat winter sekalipun.

Flea Market di Englishtown ini termasuk yang paling besar dan paling terkenal di kecamatan tempat aku tinggal. Jaraknya sekitar 45 menit drive dari tempat aku tinggal. Menurut website-nya sih, sejak 2 tahun lalu, selalu buka sepanjang tahun setiap hari sabtu dan minggu dan pada hari libur besar. Malah yang aku denger, saat musim belanja natal bulan Desember yang nota benenya sangat dingin, Pasar ini tetap buka. Sayang aku gak sempat main karena memang gak kuat kalo suhunya sudah mencapai di bawah nol, dinginnya bisa menusuk tulang.

Selain Flea Market di Englishtown, aku juga pernah ke Flea Market di lain kecamatan, di kota bernama Colombus. Flea Market ini gak kalah besar dari Flea Market di Englishtown. Dan hari bukanya mulai kamis hingga minggu. Cuma bedanya, letaknya yang berdekatan dengan negara bagian Pennsylvania, jadi tak heran kalo pengunjungnya juga ada yang dari negara bagian yang bersebelahan dengan New Jersey di sebelah barat ini. Apalagi di seberang Flea Market ini ada toko furniture yang dibuat oleh suku Amish.

SUKU AMISH

Suku Amish termasuk suku yang sangat dijaga kelestariannya. Komunitas mereka ini kalo digambarkan seperti suku Baduy di Jawa Barat. Mereka tak mengenal listrik atau mobil. Kehidupan mereka sangat alami sekali. Untuk penerangan mereka pakai lampu minyak tanah dan mobil pake kereta kuda. Kehidupan mereka lebih didedikasikan kepada Tuhan, bukan duniawi. Di negara bagian Pennsylvania mereka diberi otonomi khusus. Buat yang laki-laki, mata pencaharian mereka dari bercocok tanam di musim panas, dan membuat furniture di musim dingin. Sementara yang perempuan selain menjalankan kewajiban seperti umumnya Ibu rumah tangga, mereka juga kadang menjual kue-kue alias bakery atau menjahit.

Di Flea Market di Colombus, suku amish ini memiliki satu ruangan sendiri di salah satu bangunan. Mereka hanya buka dari kamis hingga sabtu. Sebab hari minggu adalah waktunya untuk Tuhan alias pergi ke gereja dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Di ruangan yang tergolong besar itu, mereka menjual barang-barang hasil kerjainan mereka. Mulai dari furniture, hasil jahitan para wanita, daging, makanan jadi, rempah-rempah, sampai kue-kue hasil buatan para wanita.

Para wanita dan pria suku Amish yang menjaga berpakaian sedikit unik. Yang wanita, kalo aku gambarkan seperti gambar di kemasan susu kental manis merek cap nona, yang aku temui saat aku kecil. Sementara yang pria, memelihara janggut dan kadang memakai topi seperti topi koboy.

Cerita soal suku amish dan keunikannya ini, akan aku ceritakan lain kali. Yang jelas, Flea Market yang sejauh ini aku jumpai, selalu menyenangkan. Kalo untung bisa dapat barang murah dengan kualitas bagus. Tapi kalo pas sial, dapat barang murah dan gak bisa dipake, yang akhirnya berakhir di tempat sampah.


| republish | Please Send Email to: iddaily@yahoo.com |

No comments:

Post a Comment

Program

Program