10 October 2009

[Sebuah Cerpen] Kangen

Senja Medinah

Aku memperhatikan gerak-gerik perempuan berusia 50 tahun itu. Berjarak 30 meter dari tempatnya berdiri saat ini. Ia mematung di bawah pohon akasia yang terletak di depan sebuah universitas swasta, kota pendidikan. Rambutnya yang telah berwarna kelabu menari mengikuti arah angin yang menyapu wajahnya dari arah kiri. Diikuti guguran dedaun dari pucuk-pucuk pohon yang bergoyang-goyang searah. Ia merapatkan tais di ujung lehernya. Sebuah angkot berwarna biru sempat menghalangi pandangku.


Udara memang sangat dingin saat memasuki musim peralihan seperti saat ini. Angin bahkan lebih kencang berhembus akibat elnino, di bulan ini. Setidaknya, begitu yang dikatakan tivi dan beberapa media massa yang kubaca belakangan. Ah, tak sampai hati melihatnya yang sama sekali tak memakai baju rangkap. Ingin sekali aku menghampirinya dan menyorongkan jaket yang kukenakan. Saat kulihat kembali, seorang mahasiswi berpenampilan eksentris tak sengaja menyenggol pundaknya. Ia tak peduli.

Harusnya aku menangkapnya. Memasukkannya ke dalam mobil ambulance yang kubawa dan mengembalikannya ke kamar pengap zal RSJ. Penjara kesadaran yang telah ditinggalinya selama 22 tahun lebih. Tapi aku tak hendak melakukannya, meski aku terancam dipecat jika ketahuan melakukannya. Akan diberi catatan hitam tentang pelanggaran kode etik dan beberapa hukuman lainnya. Ah, aku tak peduli. Sebab aku merasa, tempatnya memang bukan di zal batu itu.

Ia tetap memandang sebuah hotel mewah yang terletak persis di seberang jalan tempatnya berdiri. Hotel asri yang dikelilingi banyak pohon palm di depannya. Tak jelas benar bergaya apa bangunan itu. Ia hanya serupa bangunan megah yang berdiri angkuh menantang gedung universitas berkubah serupa masjid. Mata senjanya begitu sayu. Sedikit berair ku kira. Beberapa kali ku lihat ia mengerjap. Entah apa yang akan dilakukannya. Sedikit kekhawatiran muncul, ia akan melakukan tindakan lebih dari 22 tahun yang lalu. Tindakan yang membuatnya harus terkungkung di penjara kesadaran.

Ia adalah pasien pertamaku. Saat menjadi dokter muda, 22 tahun yang lalu. Pasien pertama yang membuatku iba untuk tidak membiarkannya sendiri. Pasien pertama yang membuatku ingin tetap memperhatikan perkembangannya. Pasien pertama yang membuatku jatuh cinta pada ilmu kejiwaan. Pasien pertama yang membuatku berfikir ulang tentang keberatanku ditempatkan di rumah sakit kecil kota kedua propinsi ini. Sekaligus pasien pertama yang membuatku mengerti perbedaan antara pura-pura gila, pura-pura waras dan pura-pura lainya. Di satu titik, analisaku mengatakan jika Ia adalah orang waras yang hanya ingin menumpahkan kemarahannya secara berlebihan.

Lebih dari 22 tahun yang lalu. Aku mendapatinya dikerangkeng di ruang gelap. Tersungkur mencium lutut di sudut ruangan tanpa penerangan dan sedikit ventilasi. Dua kali tiga yang begitu dibenci oleh penghuni zal. Pengasingan di mana beberapa tahun kemudian justru menjadi tempat favoritnya saat ia ingin “menenangkan” diri.

Aku melihat catatan kesehatannya, secara fisik maupun kejiwaan. Dan alasan mengapa ia dibawa ke tempat untuk jiwa-jiwa yang sakit ini. Mencengangkan. Ia membakar sebuah hotel. Bangunan yang telah kembali berdiri megah dan terletak persis di hadapannya, kini. Sebelumnya, ia ditangani oleh aparat. Tinggal di dalam sel tahanan selama beberapa waktu. Sampai pada suatu percakapan dengan penyidik.

“Apakah saudari dalam kondisi sehat?” seorang penyidik mengawali pertanyaan formal. Sesekali melirik wajah cantiknya. Berkali-kali sebelas jarinya salah memecet huruf dan angka pada tuts keyboard.

“Sedikit capek,” Jawabnya pendek dan percaya diri.

“Apakah saudari dalam kondisi sadar?” Tanya petugas, lagi. Sebuah ballpoint terjatuh menggelinding ke sudut meja, karena terdesak oleh tuts keyboard yang bergerak-gerak ke kanan.

“seratus persen,” Jawabnya tegas tanpa ragu. Sambil meletakkan ballpoint bertinta hitam itu kembali ke tempat semula. Pertanyaanpun berlanjut pada pertanyaan identitas dan kronologis peristiwa. Sejauh ini, semua lancar. Sehingga sang penyidik bersyukur tugasnya menjadi lebih ringan.

“Lalu, mengapa saudari melakukan pembakaran hotel pada malam itu?” Ada jeda yang panjang. Perempuan yang belum melewati separuh masa usia ukuran normal orang hidup di dunia itu mengerjap-ngerjapkan mata. Menahan buncahan air mata yang segera meluncur di pipinya. Ia tampak kesulitan menahan emosi yang meletup-letup mendengar pertanyaan tadi.

“Saya tidak bisa mengatakannya. Karena itu urusan saya pribadi. Terima kasih untuk tidak bertanya masalah itu,” Jawabnya tetap pendek. Jawaban ala artis dari perempuan itu membuat petugas berusia awal 40an itu keruh. Wajahnya semakin rusuh manakala teringat jawaban yang dianggapnya lelucon itu, sementara ia belum pulang setelah semalam begadang karena piket.

“Anda jangan main-main dengan petugas,” Hardik penyidik tadi berusaha memperlihatkan taringnya.

“Tidakkah cukup bagi anda untuk cukup mengetahui kronologinya. Tokh saya juga tidak akan lari untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan,” Jawabnya ketus, tanpa peduli pada kumis tebal sang petugas.

“Tentu saja saya harus tahu kenapa anda melakukan pembakaran itu. Karena ini berkaitan dengan motif. Apakah anda terkait dengan urusan terorisme misalnya. Karena teroris jaman sekarang kan bentuknya tidak lagi bercelana cekak, atau memakai burqa, untuk menutupi kebejatannya. Noordin M Top saja ditemukan bekas sodomi pada duburnya, jadi kan bukan tidak mungkin anda sebagai pelaku terorisme,” Omelan penyidik yang menekan papan nama bertuliskan Brigpol Santoso itu, di luar dugaan, justru membuat perempuan itu mengamuk. Ia mengeluarkan sumpah serapah yang lebih panjang dan lantang, sehingga petugas tadi menamparnya. Tamparan yang telak di pipi perempuan itu tak membuatnya terdiam. Ia justru menggebrak-gebrak meja dengan mengatakan bahwa ia bersumpah tak akan mengatakan apapun tentang mengapa ia membakar hotel itu.

Keterangan saksi mata, keluarga dan sahabatnya pun tak ada yang mengetahui mengapa ia melakukan pembakaran terhadap hotel itu. Catatan kegiatannya sejak SMA hingga kuliah dan saat bekerjapun relative bersih.

Ini juga terjadi ketika ia di hadapan persidangan. Tiga hakim yang memimpin sidang dibuatnya pusing tujuh keliling atas sikapnya yang tak terkendali. Menjerit-jerit dan bersumpah tidak akan mengatakan apapun tentang motifnya, hanya karena ia memiliki alasan pribadi yang tak perlu orang lain tahu.

Hal ini pula yang menyebabkan tim majelis hakim tidak mengirimnya ke lembaga pemasyarakatan, tapi justru ke penjara kesadaran. Saat itu ia menjerit-jerit tak tentu arah dengan memastikan bahwa dirinya masih waras dan melakukan pembakaran hotel itu dalam kondisi waras.

Ia berteriak bukan orang gila. Hal yang sering dilakukan oleh para orang gila baru yang dikirim. Ia juga tidak jarang mengamuk setelah kedapatan melamun dan menangis sesenggukan. Saat itulah obat penenang sering kali disuntikkan ke pembuluh darahnya. Saat melihat jarum suntik mengarah kepadanya, dengan berlutut nyaris menyembah, ia memohon untuk tidak disuntikkan cairan itu. Saat itulah, ia akan langsung tenang.

Saat itulah aku mulai mendekatinya. Bertanya apa yang dia inginkan. Ia meminta buku dan ballpoint. Tak seorangpun yang menganggapnya serius, sehingga seorang perawat hanya memberinya kertas Koran dan meminjamkan sebuah pensil.

“Buku, suster! Bukan Koran,” Hardiknya pada suster tadi. Kalau saja tak ada aku di tempat itu, mungkin sang suster telah menamparnya. Hal yang sering terjadi jika para dokter tidak sedang bertugas. Banyak sekali suster-suster yang sering menumpahkan kemarahan dan masalahnya di rumah pada pasien-pasien tidak waras ini.

Aku menyorongkan sebuah notebook yang kebetulan ku bawa. Ia memandangku menyorotkan terima kasih. Meski tak mengucapkan sepatah katapun. Dan sejak saat itu, ia memang jarang bicara. Hanya tenggelam dalam catatannya. Hanya tenggelam dalam dunia tulis yang dilakukannya sepanjang waktu. Bahkan, sapaanku setiap pagi untuk memeriksa kondisinya hanya diacuhkan saja, kecuali ia meminta buku tulis lagi.

Saat aku merasa ia mulai jinak dan terkendali, aku memilih mengijinkannya mengunjungiku di ruang kerjaku. Hal yang seharusnya tak boleh dilakukan. Tapi entah mengapa aku mempercayainya tak akan membahayakanku. Tak banyak yang berubah. Ia memang suka menungguiku di dalam kantor, sambil terus menulis. Ia hanya ‘mencuri’ ballpoint yang terletak di meja, kalau itu dianggap kesalahan. Ia hanya merampok kertas-kertas kosong yang tergeletak dekat printer jika itu dianggap suatu pelanggaran. Selain itu, ia lebih suka melakukan terapinya di taman, tanpa menjawab satupun pertanyaanku, dan terus tenggelam dalam tulisannya.

Sesekali, ia pernah memintaku mengirimnya ke ruang isolasi. Saat dengan tiba-tiba ia menahan air mata dengan wajah yang teramat menyedihkan. Kalau sudah begini, aku lebih melihatnya sebagai seorang yang telah terserang candu narkoba yang berharap mendapatkan asupan gizi dari putau. Menangis, menggelepar-gelepar. Memegang kepala yang dan menjambak-jambak rambutnya sendiri. Tak jelas benar apa yang iya rapalkan, saat ku kuping ucapannya di ruang gelap itu. Ku kira itu semacam doa. Karena lamat-lamat ku dengar berbahasa arab, ku kira.

Hingga lima tahun pertama, pemandangan semacam itu masih sering ku lihat. Berangsur berkurang pada lima tahun berikutnya. Ia kembali terusik saat aku mengatakan bahwa kondisinya mulai membaik. Di luar dugaanku, ia justru menangis sejadi-jadinya. Meratap dan memintaku tidak mengirimnya kembali keluar.

“Saya tahu, saya bisa kembali membakar hotel itu jika saya ada di luar sana. Biarlah saya menjalani hukuman di RSJ ini,” Jawabnya sambil menyeka air mata.

Aku terkesima. Analisaku tak mungkin salah, bahwa ia mengingat dengan baik peristiwa pembakaran yang dilakukannya. Ia dengan sadar khawatir melakukan tindakan di luar kendalinya kembali. Ia dengan sadar mengaku tak ingin melakukan kesalahan lagi. Tak mungkin ini dilakukannya hanya karena takut pada ancaman penjara. Kasus ini bahkan mungkin polisi, jaksa dan majelis hakimnya telah renta dan memasuki masa pensiun atau bahkan telah mati. Ia bahkan telah mengabiskan hampir dari sepertiga hidupnya di RSJ ini.

Berhari-hari aku tak mendapatkan jawaban, sampai akhirnya aku berhasil mencuri notebook pertama yang pernah ku berikan kepadanya. Di halaman pertama, isinya hanya bertuliskan bahasa dan huruf arab tanpa harakat dengan found yang begitu besar, hampir memenuhi halaman. Aku tak tahu benar apa artinya, karena nilai mengajiku juga sampai juz amma. Aku hanya mengenal huruf-furuf yang tertulis adalah ‘Mim’ yang diganden dengan ‘Ra’, ‘Ya’, ‘Dal’, ‘Wau’ dan ‘Nun’. Ada jeda seperti untuk spasi sebelum akhirnya terdapat sejumlah huruf lain bertuliskan ‘Qof’ yang digandeng dengan ‘Lam’, ‘Ba’, dan ‘Ya’. Halaman selanjutnya, adalah tulisan berbahasa arab murni, tanpa harakat. Aku pusing dibuatnya. Kalaupun ini tidak ditulis dalam bahasa arab, pasti tulisan itu adalah tulisan pegon.

Tulisan itu begitu rapi. Ia bahkan menulisnya dengan huruf-huruf yang kecil-kecil, seolah sengaja menghemat space yang ada. Melihat tulisan yang tertata, aku menjadi ragu atas ketidakwarasannya. Aku memutar otak. Tak mungkin bagiku memintanya bercerita. Karena aku telah sangat gagal melakukannya. Nasibku bahkan tidak lebih baik dari pada Brigpol Santoso. Tidak mungkin pula bagiku untuk mencuri notebook itu dan mencari tahu isinya. Tindakan itu hanya membuatnya semakin jauh dari ku. Hal ini ku ketahui setelah ia mengamuk sejadi-jadinya pada salah satu pasien yang berusaha merampas buku yang sedang ditulisnya.

Aku berspekulasi. Aku meminjaminya laptop, ketika ia hendak memulai ritualnya untuk menulis di dekat jendela, tempat favoritnya. Di luar dugaanku, ia begitu suka menerimanya. Langsung membuka program MS Word dan mulai menulis. Tanpa lelah, ia terus menulis meskipun hari telah lewat siang. Ia bahkan tak hendak meninggalkan ruang kerjaku, kalau saja aku tak mengatakan sudah saatnya aku pulang. Ku janjikan untuk meminjaminya lagi esok hari, dan begitupun seterusnya.

Sialnya, saat aku berusaha mencari folder yang ditulisnya, ia dengan sangat lihai membuatnya tersembunyi. Bahkan, ketika folder tadi ku temukan, ia masih sempat memberikan passwords yang membuatku hampir angkat tangan. Aku bahkan harus mencari seseorang yang pandai membuka passwords untuk mengetahui isinya. Dan, saat passwords itu terbuka, ia tetap menulis dalam bahasa arab. Sial! Layanan internet yang ku pasang pada netbook itu membantunya menulis melalui google.

Begitu seterusnya, sampai pada tulisan hari ke 73 di laptopku, ia menulis semacam cerpen. Pendek. Hanya 2 halaman. Berbahasa Indonesia dan bertulis alphabet Tapi dengan membacanya aku justru mengetahui kedalam hatinya. Ia bahkan tak secuek yang ditampakkannya. Entah untuk siapa cerpen itu tercipta, tapi kalau aku boleh GR pada orang gila satu ini, ia menulis tentang aku dan kegiatanku sebagai dokter.

Diksi yang sangat terpilih. Alur yang begitu rapi. Emosi yang begitu dalam. Anehnya, ia menuliskan nama penulis yang bukan namanya. Ingin menuntaskan penasaran, akupun berusaha mencari nama yang tertulis di bawah karangan pendek itu di sebuah situs internet. Hasilnya, aku baru menyadari jika ia adalah seorang penulis cerpen. Beberapa tulisannya bahkan dimuat di media nasional.

Aku semakin curiga dengan tulisan berbahasa arab itu. Dengan mencari seorang translater di tempat kursus bahasa asing, aku meminta terjemahan beberapa tulisan yang tersimpan di laptopku.

“Apakah ini sebuah novel atau sebuah diary?” Tanya seorang translater saat aku menjemput hasil terjemahan yang aku pesan. Aku menggeleng, dan tak tahu harus memberikan penjelasan apa.

“Tulisan ini sepertinya lanjutan dari tulisan sebelumnya,” Tambahnya lagi seraya menyerahkan flashdisk penyimpan tulisan pasien gilaku itu. Dan, saat aku mulai membaca tulisan terjemahan dari tulisannya, aku tertegun. Menyadari kedalaman hatinya. Menyadari ketertekanannya. Ketertekanan mengatasi rasa cinta yang mengungkungnya hingga kini. Ketertekanan saat cinta itu tak memilihnya karena salah waktu atau salah orang. Ketertekanan karena rasa kangen yang mengurungnya hingga kini. Ketertekanan yang membatnya tak bisa menerima ingatan-ingatan indah, yang justru membuatnya bersedih dan berontak. Ketertekanan yang membuatnya membakar sebuah hotel di depan universitas, tempat pertemuan pertama kali dengan seseorang yang begitu dicintainya. Tempat mencurahkan segala cinta tak terlupakan. Serta tempat pertemuan terakhir yang membuatnya kehilangan.

Di satu tulisan, ia bahkan menulis tentang puisi WS Rendra yang juga diterjemahkan dalam bahasa arab. Aku mengetahuinya dari sebuah terjemahan yang tertulis pengarangnya. Judul yang sama tertulis dalam notebook halaman pertama yang pernah aku temukan. Saat aku berusaha mencari puisi itu, aku tak menemukanya. Mungkinkan penerjemah tadi salah mengartikannya? Ataukah ia yang tak menemukan padanan kata dalam bahasa arab?

Dan hari ini, aku membiarkannya diam-diam keluar dari zal RSJ. Sebab hari ini adalah hari bersejarah baginya. Berdasarkan sebuah tulisan yang juga ditulis dalam bahasa arab. Aku bahkan mengetahui arah pelariannya. Di depan hotel itu.

Ia masih berdiri di posisinya saat sore berganti senja. Ragu untuk bergerak. Tetapi, berdetik kemudian, ia beringsut dengan menoleh kanan dan kiri untuk menyeberang. Seketika aku panik, saat mengetahui arahnya. Aku berusaha tetap tenang. Meski mulai tergesa pula untuk masuk ke dalam hotel itu, tanpa peduli ia mengetahui keberadaanku. Ku putuskan untuk tidak menghubungi siapapun terlebih dahulu. Meski aku tak pernah tahu apa yang akan dilakukannya di dalam, tapi aku yakin ia tidak akan kembali melakukan kebodohannya 22 tahun yang lalu.

Ia tampak sedikit takut dan canggung. Mungkin, ia khawatir kembali dikenali. Tapi, ia terus maju dan segera masuk ke sebuah restoran bernuansa etnik yang ada di lantai dasar. Memilih sebuah kusri di pojok kiri yang sedikit terlindung.

Aku memilih kursi berjarak tiga meja darinya, posisi yang ku anggap strategis jika ia berbuat sesuatu di luar prediksiku. Ketika aku sibuk memesan minuman, ia justru maju ke depan, menghampiri penyanyi kafe yang mengundang pengunjung untuk bernyanyi. Ia berbicara sejenak, sebelum akhirnya group band yang bertugas menghibur pada malam itu memberikan gitar akustik. Ia langsung mencari kursi yang diletakkannya pada posisi persis di depan mic yang diletakkan pada sebatang stand. Sekali lagi aku terkesima dibuatnya.

“Saya tidak ingin menyanyi. Atau setidaknya, nanti saja saya menyanyi,” Ucapnya lebih pada diri sendiri, bahkan seolah acuh pada pengunjung yang ada di sana. “Tapi saya akan membawakan sebuah puisi yang membuat saya hidup hingga hari ini. Yang mengobati saat rindu menyerang saya,” Ia mulai memetik dawai. Satu persatu.

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta,” Bait pertama dibacakannya tanpa gesa. Suasana haru dari petika gitar yang halus mulai mencuri pengunjung yang hadir untuk sekedar melihatnya.

“Kau tak akan mengerti segala lukaku kerena luka telah sembunyikan pisaunya,” Bait kedua dibacakannya dengan kata yang mulai bergetar.

“Membayangkan wajahmu adalah siksa. Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan,” Bait ini, air matanya mulai membuncah di ujung selasar matanya yang indah.

“Engkau telah menjadi racun bagi darahku,” Bait ini kemarahan tanpa daya ditunjukkan wajahnya yang tetap menunjukkan gurat-gurat kecantikan, menurutku.

“Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tungku tanpa api,” Bait terkahir ini mengantarkan air mata ke pipi dan gitar yang sedang dipetiknya. Di bait terakhir ini pulalah, petikan dawai satu-satu berubah membentak indah menuju ke sebuah reff lagu yang tak kalah mendayu,…

… I thought we’d be sexy together, Thought we’d be evolving together, I thought we’d have children together, I thought we’d be family together, But I was sadly mistaken,…

Saat selesai menyanyikan lagu itu, ia segera menghampiriku dan berkata, “Saya siap kembali ke Zal batu itu,” Sambil tersenyum. Tapi entah kenapa, aku lebih suka membawanya ke penerbit dari pada membawanya pulang k RSJ.

1 comment:

  1. kasihan bangat wanita itu, harus menderita karena cintanya...

    sangat menyentuh!

    ReplyDelete

Program

Program