04 November 2008

Masakan Indonesia Berjaya di Amerika

Iman D. Nugroho, New York

"Hai, how are you? You look thiny now, whats happen? I guess thats because you are not often eat here anymore,.." Begitulah bila Nani Tanzil menyapa pelanggannya. Nani adalah pemilik restauran Indonesia di Amerika. Namanya, Minang Asli di wilayah Queens, New York. Tepatnya di 8610 Whitney Ave Flushing, NY.


Minang Asli hanya satu dari belasan restauran di AS yang menawarkan menu Indonesia. Dalam catatan The Jakarta Post, ada 15 restauran yang tersebar di beberapa negara bagian AS. Seperti Borobudur Restaurant, Little Java dan Bamboo Village Restaurant San Francisco, CA, Java Noodles di Austin dan Yanti's Indonesian Cuisine Restaurant di Texas, Yono's, Kuta Satay House, Bali Nusa Indah di New York. Juga ada Indo Cafe Restaurant dan Ramayani di Los Angeles, California dan Temple Bar and Restaurant di Minneapolis, Minneapolis.

Nani menceritakan, membuka restauran di AS memang bukan hal yang mudah. Perlu ada perjuangan untuk mewujudkan impian itu. Belum lagi, berhadapan dengan persaingan yang begitu ketat serta "lidah" orang AS yang belum terbiasa dengan rasa masakan Indonesia. "Namun, hal itu tidak berarti tidak ada kesempatan. Buktinya saya bisa," kata Nani pada The Jakarta Post.

Namun berkecimpung di bisnis masakan Indonesia di New York, US sejak empat tahun lalu, pada 2004. Ketika itu, Nani yang datang ke US secara ilegal ini memutuskan untuk menjadi tukang masak di rumahnya, daerah Sunny Side, Queens Boulevard, New York. Ketika itu, dengan marketing dari mulut ke mulut, reatauran rumahan Nani bisa terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. perlahan tapi pasti, pelanggan asal Indonesia itu memperkalkan masakan Indonesia kepada orang-orang bule.

Tak disangka, mereka menyukainya. Waktu berjalan, jumlah pengunjung di rumah Nani pun tidak lagi cukup menampung tamu. "Saat itu saya memutuskan untuk membuka restauran," kenangnya. Beruntung. Ide itu disambut oleh salah satu kawannya, dan siap menjadi partner. Namun, persoalan modal menjadi kendala. "Akhirnya kami memutuskan untuk meminjam uang di bank sebanyak $100 ribu lebih. Uang itu kami gunakan untuk menyewa tempat, mengurus izin dll," katanya. Singkat kata, sebuah restauran dengan menjadikan masakan Padang sebagai menu andalan pun buka di Queens.

Perjuangan belum berakhir. Di Queens, tempat Minang Asli berada, ada beberapa restauran Indonesia. Bahkan, tidak jauh dari tempat restauran milik Nani berada, ada juga restauran Padang. "Mau tidak mau, mereka adalah kompetitor, tidak hanya itu, saya juga bersaing dengan restauran China, Tailand, India dll, itu bukan hal yang mudah," katanya. Meski demikian, Nani tetap optimis. "Nobody can'nt cook like me, saya yakin saja, bahkan ada kabar akan dibukan satu restauran lagi namanya Indonesia Cuisine, memang namanya persaingan usaha," kata Nani.

Selain Minang Asli, di pusat kota New York City ada dua restauran Indonesia yang cukup terkenal. Bali Nusa Indah dan Kuta Satay House. Berbeda dengan Minangasli yang memposisikan diri sebagai restauran "menengah", dua restauran di Manhattan New York memiliki segmentasi lebih tinggi. Perbedaan harganya beberapa dollar lebih tinggi, dengan suasana lebih lux dan nyaman. "Kita memang berada di jantung kota New York," kata Tjong, waiters coordinator di Bali Indah.

Bali Nusa Indah buka pertama kali pada 1995. Restauran yang dimiliki oleh Mellyana Alatief itu mengadopsi kekhasan Indonesia. Seluruh meja restauran misalnya, dialasi batik dari Jogjakarta. Biasan dindingnya pun beragam, mulai wayang jawa, barong Bali hingga foto-foto klasik pasukan KNIL yang berposes di markas KNIL di Betawi (kini Jakarta). Perbedaan lain yang dimiliki Bali Indah adalah keberagaman menu Indonesia. Mulai Gado-Gado Betawi, Soto Madura, Sop Buntut Blora, Udang Balado hingga martabak. Dari sisi minuman, ditawarkan Es Cendol Jakarta, Es Sarikayo hingga Es Teler. "Semua itu bisa didapatkan di sini," kata Tjong. Untuk menciptakan kesan modern, di Bali Nusa Indah disediakan bar.

Bali Nusa Indah secara khusus "mengimport" chef dari Indonesia. Salah satunya Lukman Zubair, tukang masak asal Gresik yang sudah 20 tahun tinggal di Amerika. "Di sini chef seperti saya harus bisa memasak banyak menu, karena kadang-kadang orang yang datang ke sini sudah mengetahui jenis masakan Indonesia dan minta seperti itu," kata Lukman pada The Post. Lukman adalah mantan chef di sebuah kapal pesiar di AS. Bagi laki-laki asal Gresik, Jawa Timur ini, tinggal di AS memang bukan "titik akhir". "Saya justru ingin kembali ke Indonesia, dan membuka restauran yang sama di Jakarta," kata bapak 5 anak ini.

Baik Minang Asli maupun Bali Nusa Indah, keduanya tetap harus berhadapan dengan beberapa hal yang sama. Mahalnya harga bahan makanan dan baku untuk bumbu masakan. Meskipun sebagian besar bumbu bisa didapatkan di AS, namun tetap saja harus mengikuti standart harga AS yang melambung. Dan sialnya, bumbu-bumbu itu "mutlak" adanya. Untuk membuat rendang daging misalnya, tidak mungkin tanpa santan, bawang, cabe merah, jahe, lengkuas hingga kunyit. Tidak semua bahan-bahan itu ada di pasaran AS.

"Bumbu asal Asia memang mahal, dan itu sudah resiko masakan Indonesia yang kuat di bumbu, biasanya saya mendapatkannya dari toko Thailand," kata Nani, pemilik Minang Asli. Kalau masih tidak bisa didapatkan, maka Nani akan mengimport sendiri bumbu kebutuhannya langsung dari Indonesia. "Mau tidak mau," kata Nani yang mengandalkan sate ayam dan rendang di restaurannya.

Kesulitan kedua adalah persaingan. Meskipun sudah ada kejenuhan dengan masakan China, Thailand dan Jepang, bukan berarti restauran yang menyajikan masakan Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan pasar di AS. Ada beberapa restauran Indonesia di New York yang memutuskan untuk gulung tikar karena sepinya pembeli. Seperti Indo House dan Padang Raya. Dua restauran itu hanya bertahan 6 bulan.

"Tapi bukan berarti tidak ada kesempatan, asalkan mau berusaha, masakan Indonesia bisa jawa di Amerika," kata Nani yang bercita-cita ingin membuka satu restauran lagi di Manhattan, New York ini. Berminat menjalani usaha yang sama? Mengapa tidak!


No comments:

Post a Comment

Program

Program