08 August 2008

Slamet, Separuh Hidupnya Mengabdi di Pusara Bung Karno

Iman D. Nugroho

Lemari panjang setinggi dada laki-laki dewasa itu bagaikan meja kerja bagi Slamet. Di balik lemari yang terletak di Kantor Administrasi makam Proklamator RI Ir. Soekarno di Blitar Jawa Timur itulah, Slamet mendata setiap orang yang mengunjungi makam. “Saya sudah melakukan pekerjaan saya sebagai penjaga makam Bung Karno (panggilan akrab Ir. Soekarno-RED) sejak 29 tahun lalu,” katanya.


Akhir Juli 2008 ini, saat The Jakarta Post mengunjungi Makam Bung Karno, laki-laki kelahiran 21 September 1958 ini baru saja merayakan saat pertama kali dirinya bekerja sebagai penjaga makam. Tepatnya pada 18 Juli 1979, sembilan tahun setelah Bung Karno dimakamkan. “Saya tidak tahu mengapa saya yang terpilih menjaga makam Bung Karno, saat itu saya hanya lulusan SD yang sedang butuh pekerjaan, semua orang menolak bekerja di sini, saya malah menerimanya,” kenang Slamet.

Makam Bung Karno terletak di Kelurahan Bendongerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur.
Bung Karno dimakamkan 21 Juni 1970. Kota Blitar terletak 170 Km sebelah selatan Kota Surabaya. Kota ini dikenal sebagai Kota Soekarno, karena di sinilah berada Istana Gebang, tempat tinggal ayah, ibu dan kakak perempuan Soekarno. Setiap bulan Juni, Kota Blitar melaksanakan Haul Bung Karno dan Hari Kelahiran Pancasila yang dipusatkan di Istana Gebang.

Meskipun kental dengan “atmosfir” Bung Karno, namun tidak semua penduduk Blitar peduli akan hal itu. Apalagi, sejarah Bung Karno sempat diwarnai dengan pro-kontra peristiwa Gerakan Kudeta 30 September (G30S) yang oleh Pemerintahan Orde Baru disebut-sebut didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat menjadi Presiden RI, Soekarno adalah pendukung PKI. Slamet adalah penduduk asli Blitar yang awalnya tidak peduli dengan sosok Bung Karno. “Ketika itu, saya hanya tahu, Soekarno sebagai Proklamator RI,” kenangnya. Meski demikian, Slamet tidak menolak ketika mendapat tawaran bekerja oleh Soetedjo, salah satu pegawai Pemkot Blitar, sebagai penjaga makam.

Bekerja sebagai penjaga makam untuk pertama kali, bukan sesuatu yang membanggakan. Apalagi, jenis pekerjaannya hanya membersihkan makam dan merawat beberapa benda yang ada di sana. Seperti nisan makam yang terdiri dari seonggok batu kali berdiameter 1,5 meter, masjid dan pekarangan. Karena itulah, Slamet juga menerima upah yang jauh dari layak. Hanya Rp.12 ribu/bulannya. “Saya hanya bisa bersabar, dan menerima upah, maklum hanya lulusan SD,” katanya.

Kesabaran itu menuai hasilnya ketika 6 tahun 7 bulan kemudian, tepatnya 31 Maret 1986, Slamet mengalami perbaikan nasib, saat dirinya diangkat menjadi pegawai negeri dibawah Dinas Pariwisata Kota Blitar. “Sejak saat itu, nasib saya perlahan-lahan mulai berubah, hingga saat ini gaji yang saya dapatkan lumayan banyak, hingga Rp.1,8 juta/bulannya,” kata ayah tiga putra dan 1 cucu ini.

Meski pada tahun ini Slamet sudah 29 tahun menjadi penjaga penjaga makam Bung Karno, suami Sriyani ini mengaku tidak tahu banyak tentang pikiran-pikiran Soekarno. Apalagi tentang garis politik yang dianut tokoh pemrakarsa ideologi Mahaenisme itu. Menurut pria berkacamata ini, Soekarno adalah orang hebat yang melahirkan sebuah negara bernama Indonesia. “Saya hanya tahu Soekarno adalah presiden pertama yang memerdekakan Indonesia,” katanya.

Hanya saja, tidak ragu Slamet mengatakan Bung Karno adalah sosok yang penting. Terutama dengan cita-cita Indonesia yang sejahtera aman dan damai. Dan Bung Karno, menurut Slamet menginginkan generasi penerus Indonesia memegang teguh hal itu. “Saya ingat betul kalimat Bung Karno yang mengatakan, Saya titipkan Negara ini kepadamu,” kata Slamet..

Karena sosok Bung Karno itu juga, katanya, hingga saat ini masih banyak orang yang mengunjungi makam Bung Karno. Dalam hari saja saja, jumlah pengunjung makam Bung Karno mencapai 700-1000 orang perharinya. Bila musim libran tiba, jumlahnya meningkat hingga 6000-an orang perharinya. Dan pengunjungnya pun tidak hanya dari dalam negeri, melainkan hingga manca negara. “Yang banyak pengunjung dari Belanda dan Prancis,” kata Slamet.
Kedatangan ribuan orang ke makam Bung Karno membawa berbagai motivasi. Ada yang hanya sekedar berkunjung, ada juga yang datang untuk meneliti. Yang paling banyak, untuk mendoakan ayah mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri itu. “Banyak pengunjung yang maunya mendoakan sampai makam, tapi sesuai SK Walikota, hal itu tidak boleh dilakukan, kalau pengunjung malam hari hanya diberi waktu berdoa 15 menit,” katanya.

Sebagai penjaga makam, tak jarang tidur di areal makam Bung Karno. Slamet percaya, ada sisi mistik yang kuat di makam itu. Salah satu buktinya, kata Slamet adalah mimpi yang diperolehnya saat tidur selama tujuh malam Jumat. Orang Jawa mempercayai, malam Jumat adalah malam yang keramat. “Saat tidur itulah, saya bermimpi ada suara orang yang memberikan lampu minyak dan putih, sepuluh hari itu, saya diangkat menjadi pegawai negeri, Alhamdulillah,” kenangnya.

Sisi mistik dan kharisma Bung Karno itu juga yang menurut Slamet, membuat banyak “orang penting” pernah mengunjungi makam Bung Karno. Mulai Susilo Bambang Yudhoyono, KH. Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Agum Gumelar, Wiranto, hingga Sutrisno Bachir. Juga orang-orang yang akan muncul sebagai kandidat kepala daerah. “Almarhum Presiden Soeharto sendiri, kata Slamet, hanya sekali mengunjungi makam itu, saat makam ini dibangun tahun 1979,” kenangnya.

Satu hal yang membuat Slamet senang menjalani profesinya sebagai penjaga makam adalah kebanggaan ketiga anaknya. Meski, tidak satupun dari ketiga buah hatinya itu yang mau meneruskan posisinya sebagai penjaga makam. “Anak-anak saya bangga, karena saya adalah orang yang dipercaya di makam ini. Tapi tidak ada yang bercita-cita untuk menggantikan posisi saya, haha,..” katanya.



No comments:

Post a Comment

Program

Program