11 July 2007

Perjuangan Pengungsi Lumpur “Minoritas” Belum Berakhir

Feature Hari Penduduk se-Dunia, 11 Juli 2007

Teks foto: Potret pengungsi lumpur minoritas yang masih bertahan di lokasi pengungsian Pasar Baru Porong Sidoarjo hingga saat ini.

-------------------------

Nirina Lavenia Kuswoyo hanya bisa terdiam ketika Meliya Prihatin ,24, ibunya, mulai mencopoti popok yang dikenakan bayi berusia 3 bulan itu. Dibantu Nyonya Kariyono, yang juga nenek Nirina, Meliya membuka bungkus popok bayi yang baru dibelinya dan langsung mengenakan pada Nirina. "Ya beginilah, bayi yang lahir di pengungsian ikut-ikut merasakan kesengsaraan yang dirasakan orang tuanya," kata Nyonya Karoyono sambil tersenyum kecut.


Perjuangan korban semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc yang mengungsi di Pasar Porong, Sidoarjo memang belum usai. Tuntutan ganti rugi 50 persen dan lahan 30 hektar yang dituntut sekitar 766 keluarga atau 7, 51 persen dari keseluruhan korban lumpur itu hingga saat ini belum menemukan titik terang. Tuntutan mereka terpinggirkan. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) masih tersikukuh untuk memberikan ganti rugi berupa uang muka 20 persen dari keseluruhan kerugian.

Hidup yang serba diliputi keprihatinan adalah makanan sehari-hari pengungsi di Pasar Baru Porong. Jangankan hak-hak dasar warga negara yang harusnya dinikmati, bisa hidup hingga keesokan hari saja bagaikan anugerah terbesar. Kios-kios berdinding kain, jatah air yang terbatas, tumpukan sampah dan selimut kumal yang menjadi penahan dingin di malam hari, seakan menjadi saksi bisu kesengsaraan mereka. Belum lagi beban masa depan yang tidak menentu. Menyempurnakan kesengsaraan pengungsi Porong.

Keluarga Kariyono adalah salah satunya. Laki-laki 60 tahun warga Desa Renokenongo Porong ini hingga enam bulan berlalu, masih menghuni lokasi pengungsian Pasar Baru Porong. “Tidak ada pilihan, selama tuntutan kami belum dikabulkan, kami akan tetap bertahan di Pasar Baru Porong,” katanya pada The Jakarta Post. Beruntung, kegigihan Kariyono didukung oleh keluarganya. Hanya berbekal semangat, Kariyono beserta istri, anak dan seorang cucunya menjalani hari-hari di pengungsian.

Mantan petani yang kehilangan lahan karena lumpur ini menceritakan, pilihan untuk terus menuntut ganti rugi 50 persen dan lahan 30 hektar adalah bukan hal yang mudah. Dirinya sadar, tuntutan itu tidak mendapatkan dukungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dalam Peraturan Presiden No.14 tahun 2007 menetapkan pembayaran 20 persen. “Tapi ini adalah aspirasi, Presiden SBY harus mendengar dan menghargai aspirasi ini,” kata Kariyono.

Menjadi minoritas dan tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah, membuat pengungsi yang bertahan di Pasar Baru Porong sering mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Mulai image yang buruk, penghentian fasilitas hingga ancaman akan dievakuasi paksa. Image yang paling menyakitkan adalah kabar yang menyatakan bahwa banyak perempuan pengungsi yang berprofesi sebagai pekerja seks di Terminal Baru Porong, yang berdekatan dengan lokasi pengungsian.

Didik, salah satu pengungsi membantah hal itu. Dia menceritakan, para pekerja seks itu sudah ada sebelum para pengungsi mendiami Pasar Baru Porong. “Silahkan cek sendiri, apakah benar ada warga pengungsi yang menjadi pekerja seks, tidak ada!” tegas Didik. Bahkan, kehadiran pekerja seks itu justru meresakan pengungsi. Harus ada upaya ekstra keras yang dilakukan pengungsi untuk membentengi anak-anak dari efek negatif yang ditimbulkan.

Salah satu upaya itu adalah melakukan patroli bergilir tiap malam. Siapapun yang memasuki lokasi pengungsian dia atas jam 22.00 WIB, harus melapor kepada ketua RT atau petugas jaga. “Kalau ada anak-anak yang masih bermain di terminal pada malam hari, petugas akan melaporkan kepada orang tuanya,” ungkap Didik.

Ancaman Penghentian fasilitas dan intimidasi serta isu rencana pengusiran pun direspon tenang oleh pengungsi. Didik menceritakan, hampir setiap kali pengungsi berhubungan dengan birokrasi, pasti diberitahu bahwa akan ada evakuasi paksa. Bahkan, izin mendirikan fasilitas darurat taman bermain untuk anak-anak pun diwarnai dengan ancaman itu. "Buat apa taman bermain, toh pada pertengahan Juli nanti pengungsi sudah tidak ada," kata Didik menirukan ucapan salah satu aparat desa.“Kami ini sudah kehilangan semuanya, kalau memang mau diusir dari lokasi pengungsian, kami akan memilih bertahan meski nyawa melayang,” kata Kariyono.

Himpitan beribu kesulitan tidak lantas melemahkan perjuangan. Hidup harus terus berjalan. Di sela-sela perjuangan menuntut ganti rugi 50 persen dan lahan 30 hektar, pengungsi porong masih memiliki energi untuk menciptakan mata pencaharian. Keluarga Karyono misalnya, membuat ekstrak bahan minuman tradisional Temulawak, krupuk Puli dan Karak (bekas nasi yang dikeringkan). Ekstrak Temulawak dijual Rp.25 ribu/kg. "Lumayan, uangnya bisa digunakan untuk menghidupi keluarga, meski tidak besar," katanya.

Keoptimisan Karyono itulah yang membuat keluarganya menyimpan harapan, di tengah badai persoalan. Meliya Prihatin, anak kedua Kariyono misalnya, tetap bersikukuh hidup di pengungsian, meski dirinya hamil tua. Hingga tiga bulan lalu, tepatnya 28 April 2007 melahirkan bayinya, Nirina Lavenia Kuswoyo. "Suami saya sedang tugas di Lampung, saya tetap di sini, menemani orang tua," ungkap Meliya Prihatin. "Saya ingin anak saya juga mengingat susahnya hidup di pengungsian," tambahnya. Perjuangan panjang memang belum berakhir.


No comments:

Post a Comment