14 May 2007

Sedimentasi Lumpur Kali Porong Meluas

Lumpur panas Lapindo Brantas Inc terus dibuang ke Kali Porong, Sidoarjo Jawa Timur.

Pembuangan lumpur panas Lapindo Brantas Inc ke Kali Porong yang terus dilakukan, memperparah sedimentasi atau pengendapan di kali yang mengarah ke selat Madura itu. Jangka waktu yang tidak terlalu lama, hal itu akan membunuh ekosistem sungai dan laut yang pada gilirannya akan mencemari kehidupan manusia yang ada di hilir Kali Porong dan pesisir Selat Madura.


Dalam pengamatan The Jakarta Post, sedimentasi terlihat di sepanjang lokasi pembuangan (spillway) yang terletak di Kecamatan Pejarakan, Porong, 2 KM dari pusat semburan lumpur. Sedimentasi berwarna coklat muda dan abu-abu itu membuat warna air kali menjadi keabu-abuan. Permukaan air yang ada di sekitar lokasi endapan pun mengeluarkan asap putih yang diperkirakan mengandung zat berbahaya.

Pejabat Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Ahmad Zulkarnaen mengatakan, BPLS menyadari sepenuhnya resiko yang akan dihasilkan dalam pembuangan lumpur ke Kali Porong. Namun sementara ini BPLS tidak punya pilihan selain melakukan tindakan itu. "Pembuangan harus kita lakukan, karena volume lumpur terus bertambah, sementara ini pembuangan ke Kali Porong adalah satu-satunya solusi," kata Zulkarnaen, Senin (14/5) ini pada The Post.

BLPS yang baru bekerja selama dua ini, kata Zulkarnaen berhadapan dengan berbagai persoalan menyangkut manajemen lumpur. Terutama dengan kemarahan masyarakat yang datang bergantian. "Bayangkan saja, ketika lumpur sudah over toping, kita terpaksa harus mengalirkannya ke pond yang masih tersisa, masyarakat di sekitar pond itu marah-marah," katanya. Masyarakat baru bisa tenang ketika lumpur dibuang ke lokasi yang dianggap "aman", yaitu Kali Porong.

Karena itulah, BPLS mengkonsentrasikan diri untuk memperlancar proses pembuangan lumpur ke Kali Porong. Dan itu pun bukan persoalan yang gampang. Pompa yang mengalirkan lumpur ke Kali Porong seringkali berhenti mendadak karena overheat. Senin siang ini saja, pompa di spillway sempat berhenti beberapa kali karena suhu lumpur terlalu panas untuk dialirkan. "Kalau dilihat, ada mesin yang mati, tapi juga ada yang hidup, hal itu karena overheat," katanya.

BPLS menyadari sepenuhnya, sedimentasi akan membuat ekosistem sungai berubah. "Kita menyadari itu tapi bagaimana lagi, kalau memang ekosistem yang dipersoalkan, ukurannya pun harus jelas," katanya. Misalnya saja perlu ada survey biota Kali Porong, untuk menentukan apa saja biota yang ada, dan dampaknya setelah lumpur dibuang. Dalam waktu dekat, BPLS akan melakukan survey biota itu.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Ridho Syaiful Ashari mengaku heran pada langkah BPLS yang terus melakukan pembuangan lumpur ke Kali POrong. "Ekosistem jelas berubah, dan tidak itu saja, yang paling parah adalah kematian ekonomi pesisir," kata Ridho Syaiful pada The Post. Dan pada akhirnya, akan semakin banyak orang menderita karena keputusan itu.

Ridho mencontohkan, di hilir Kali porong ada ribuan orang yang memanfaatkan air kali untuk pertambakan, air minum dan mandi. Semua itu akan kehilangan fungsinya bila kali Porong tercemar. "Apakah BPLS berpikir soal ini, belum juga bila pencemaran itu masuk ke Selat Madura dan mencemari laut Jawa, ini akan lebih parah lagi," katanya. Karena itu, lebih bijak bila BPLS menghentikan tindakan itu dan coba mencari solusi yang lebih aman dan berprespektif ramah lingkungan.

Sementara itu, aksi mogok makan pengungsi di Pasar Porong, terus berlanjut. Meski jumlahnya berkurang, dari 200 orang menjadi sekitar 40 orang, namun aksi ini dilakukan lebih militan. Kaki seluruh pemogok makan di rantai. Agar tidak ada lagi orang yang mengakhiri aksi mogok makannya. Sekitar 3000-an pengungsi di Pasar Porong menolak jatah makan yang diberikan Departemen Sosial Kabupaten Sidoarjo. Mereka lebih memilih untuk mendapatkan jatah makan dalam bentuk uang cash.

No comments:

Post a Comment