31 October 2006

Warga Pasuruan Taklukkan Lumpur Dengan Skilot

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Air lumpur itu sontak terbelah ketika papan luncur dari kayu yang ditumpangi Abdullah melintas di atasnya. Air berwarna abu-abu terpercik kemana-mana ketika kaki pemuda asal Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Pasuruan itu menendang air, mempercepat laju papan luncur. "Ayo,..ayo,..ayo,.." teriak penonton yang memadati arena perlombaan skilot Selasa (31/10) ini. Dalam hitungan detik, Abdullah melintasi garis finish, membuatnya tercatat sebagai juara skilot tahun 2006. Penonton pun bersorak.

Kemeriahan kental terasa dalam perombaan skilot dan perahu hias 2006 di desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, Selasa ini. Ribuan orang dari berbagai kota di Jawa Timur tumpah ruah di arena balap di atas lumpur yang lokasinya berjarak 70 KM dari Surabaya itu. Mereka menikmati sajian musik dangdut dan pasar tradisional dadakan yang digelar di areal seluas 2 Ha, sembari menyaksikan perlombaan skilot tentunya.

Sekilas, skilot tidak ubahnya sebuah perlombaan kecepatan dengan menggunakan papan selancar seperti snowboard dan ski es. Bedanya, bila snowboard dan ski es dilakukan di atas es, skilot menggunakan lumpur sebagai arena perlombaan. Perlombaan tradisional yang hanya ada di Pasuruan ini diilhami oleh kebiasaan masyarakat nelayan di daerah pesisir Jawa Timur dalam mencari kerang yang terjebak di dalam lumpur.

Karena berjalan di lumpur sangat susah, masyarakat pencari kerang menggunakan papan berukuran 30x100 cm untuk mempermudah berjalan di atas lumpur. Di sela-sela kebiasaan mencari kerang dengan menggunakan papan luncur itu, masyarakat mengenal sebuah permainan kecepatan. Sejak saat itulah budaya "skilot" mulai dikenal. Biasanya skilot dilakukan di pinggir pantai, ketika masa mencari kerang mulai dilakukan saat laut surut.

Asmawi, penduduk asli Lekok Pasuruan yang dikenal sebagai ahli skilot mengatakan, meski tampak sangat sederhana, perlu keahlian khusus dalam mengendalikan skilot. Terutama keahlian mengolah keseimbangan tubuh. "Kalau kita lihat, hal itu sangat sederhana, tapi coba Anda kendarai skilot, pasti kesulitan," kata Asmawi pada The Jakarta Post. Skilot dikendarai dengan posisi tubuh merendah, dan dua tangah memegang kendali. Lutut salah satu kaki menjadi tumpuan, sementara kaki yang lain berfungsi sebagai dayung dengan menendang lumpur.

Dalam posisi itu, kemampuan tubuh untuk mengolah napas, sangat diperlukan. Bahkan bagi Asmawi, napas yang panjang pun tidak cukup, bila dilakukan dalam posisi itu. "Terus terang saja, faktor kekuatan napas sangat penting untuk pengendara skilot, kalau tidak kuat napasnya, bisa-bisa kita akan kekelahan dalam beberapa meter saja," kata Asmawi sembari tersenyum.

Abdussalam, salah satu tokoh masyarakat Lekok Pasuruan mencatat, perlombaan itu mulai dilakukan secara kontinyu pada pertengahan tahun 1980-an. "Pemerintah menganggap budaya tradisional itu sebagai potensi wisata, sejak saat itu mulai dilakukan lomba-lomba yang dilakukan oleh pemerintah," kata Abdussalam pada The Jakarta Post. Hingga pada pertengahan tahun 1990-an, Pemerintah Daerah Jawa Timur membuatkan arena khusus skilot di daerah Tanah Lekok Pasuruan.

Arena khusus skilot berbentuk tapal kuda dengan panjang lintasan sejauh 100 meter. Di bagian tengah, dibuat tanggul yang digunakan untuk berkumpulnya atlet skilot. Dasar lintasan dipenuhi oleh lumpur dan air. Bila ada pertandingan khusus, lintasan itu diberi pembatas dari tali dengan rumbai-rumbai dari kertas warna-warni mencolok. Masyarakat yang menyaksikan pertunjukan itu berjajar di pinggir lintasan.

Sebagai pertandingan tradisional, skilot tidak memiliki peraturan yang mengikat. Alat ski-nya disediakan oleh panitia perlombaan. Untuk memilih jalur pun, panitia melakukan undian dengan cara hopimpa dan suit. Peserta yang sudah menempati posisi start sudah berada di atas papan. Ketika aba-aba hitungan mudur tanda lomba dimulai dilakukan, dengan sekuat tenaga peserta skilot mulai mendayung dengan salah satu kaki.

Dalam lomba skilot kali ini, diikuti oleh 44 peserta dewasa dan empat anak-anak yang berasal dari komunitas nelayan dan petambak di Pasuruan. "Meski aturannya sederhana, tapi lomba ini juga mengenal diskualifikasi, yaitu ketika peserta lomba tidak mendayung dengan satu kaki, melainkan menjadikan kedua kaki untuk berlari, itu kesalahan yang sering dilakukan," kata Mujiyin, Ketua Panitia Perlombaan.

Yang menarik, skilot juga menyediakan hadiah berupa uang total sejumlah Rp.1,8 juta untuk tiga pemenang. Masing-masing peserta yang bersedia mendaftar menjadi peserta pun diberi hadiah dana partisipasi Rp.10 ribu perorang. Sebuah nilai yang cukup besar bagi masyarakat Pasuruan. "Siapa pun akan mendapatkan uang dari lomba ini, yang penting untuk memeriahkan budaya tradisional," kata Mujiyin.

No comments:

Post a Comment

Program

Program