23 July 2006

SURAMNYA LP ANAK BLITAR DI HARI ANAK NASIONAL

*Plus Foto-foto Istimewa. Dilarang keras mempublikasi ulang, tanpa seizin pemilik!>>>*With Special Picture. Do not republish! If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: 08165443718

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika Amir,16 dan Agus,14 (keduanya bukan nama sebenarnya), mendorong gerobak kecil, menyusuri lorong Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak di Blitar, Jawa Timur, Minggu (23/07) ini. Di atas gerobak itu, tertata jatah makan siang berupa puluhan nasi putih dan sayuran yang akan dibagikan kepada narapidana anak yang mendiami tempat seluas sekitar tiga hektar itu.

Begitu sampai di depan sel, dengan cekatan Amir mengambil satu nampan berisi 5-7 porsi nasi, dan menaruhnya di dekat pintu kamar. Hampir bersamaan, Agus meraih satu nampan lain berisi sayuran yang meletakkannya di samping tumpukan nasi. "Hampir setiap hari pekerjaan ini kami lakukan agar teman-teman tidak kelaparan,..haha," kata Amir kepada The Jakarta Post yang mengunjungi tempat itu, Minggu ini.

Amir dan Agus adalah dua dari 126 anak yang mendiami LP Anak di Blitar. Keduanya "dipaksa" mendekam di tempat itu sebagai vonis atas perbuatan yang dilakukannya. Amir misalnya. Remaja asal Tulungagung Jawa Timur ini divonis enam tahun penjara atas tindak kriminal perampasan dengan kekerasan. "Karena saat itu sedang mabuk, saya mau saja ketika diajak teman untuk merampok," kenangnya.







Sudah empat tahun Amir menjalani hukumannya. Karena sikapnya yang kooperatif dan penurut, Amir kerap kali mendapatkan remisi. "Kalau tidak ada perubahan, kurang setahun beberapa bulan lagi saya akan keluar," kata pemuda yang tangan kirinya penuh dengan tato ini. Sementara Agus, memilih untuk bungkam, malu menceritakan apa yang sudah dilakukannya.

Nasib anak-anak di Indonesia kembali menjadi sorotan, seiring momentum Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada Minggu (23/07) ini. Satu peristiwa besar menyangkut anak-anak terjadi di Trenggalek Jawa Timur, Mei lalu. Ketika empat anak SDN Gandusari Trenggalek, memperkosa Kuntum (bukan nama sebenarnya), salah satu teman sekelas mereka.

Peristiwa yang kini ditangani oleh PN Trenggalek itu mendapat perhatian publik karena perlakuan hukum atas keempat terdakwa, DMS (12), SND (11), PTT (11) dan KKH (11) yang ditahan satu areal dengan narapidana dewasa di LP Trenggalek. "Ini jelas sebuah pelanggaran, karena dalam UU Perlindungan Anak sudah diatur bahwa penahanan anak harus dilakukan di LP khusus anak," kata Nonot Suryono, aktivis Surabaya Children Crisis Center (SCCC) yang juga koordinator Penasehat Hukum terdakwa kasus Trenggalek.







TIDAK RAMAH ANAK

Di Jawa Timur, LP khusus anak hanya ada di Blitar. Meskipun mengklaim sebagai LP khusus anak, tapi kondisi riil di LP itu tidak jauh berbeda dengan LP dewasa. Salah satunya dengan masih banyaknya jeruji tajam yang memisahkan satu ruang dengan ruang yang lain. "Seharusnya, secara fisik LP anak itu tidak berbeda dengan rumah biasa, hanya pengamanan dan pengawasan lebih ketat," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Sri Adiningsih pada The Post.

Dalam pengamatan The Post, kondisi bagian dalam LP khusus anak dengan 450 ruang itu memang menyeramkan. Dua pintu terali besi menjadi gerbang awal untuk memasuki LP yang dibangun tahun 1961 itu. Antara ruang administrasi dan sel anak dibatasi dengan pagar besi setinggi tiga meter dengan ujungya yang runcing.

Ruang-ruang sel anak berada mengelilingi lapangan upacara,lapangan sepak bola dan masjid. Di sel seukuran 7x4 meter yang alasnya hanya berupa semen tanpa tegel itu, dihuni 6-7 orang anak. Untuk anak-anak yang dianggap "bermasalah" atau akan ditempatkan di salah satu sel isolasi yang terletak di ujung timur LP anak. Saat ini ada satu anak yang ditempatkan di sel isolasi itu. "Anak itu sering melakukan sodomi, kalau dia dicampur dengan anak lain bisa berbahaya," kata salah satu petugas.



Kamar mandi untuk tahanan berada, bersampingan dengan tempat menjemur pakaian."Hanya ada dua sumber air di dalam LP, itu pun kondisinya tidak bersih, saya sudah mengusulkan untuk menambah sumur dan menyediakan kran air di beberapa tempat, tapi tetap tidak dilakukan," kata Sri Adiningsih. Hal kebersihan air ini sempat membuat seluruh narapidana anak terkena penyakit gatal kulit.

Ruang-ruang kelas untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Kejar Paket C terletak di belakang masjid di sebelah barat LP. Di tempat inilah, terpidana mendapat pendidikan ilmu pengetahuan, kepribadian, hingga dilatih untuk mandiri. Beberapa guru dari sekolah negeri di Blitar didatangkan khusus ke LP untuk mengajar. Tahun 2006 ini, LP Khusus Anak meluluskan enam murid SD, delapan murid SMP dan 5 murid kejar paket C.

Pendidikan berbagai kegiatan seni juga dilakukan. Seperti karawitan, tari, membuat kerajinan tangan dari kayu, keset ijuk hingga ketrampilan jahit menjahit. Hasil kerajinan tangan itu dijual khusus kepada orang tua dan pembezuk yang datang ke LP Anak. Sarana hiburan seperti kegiatan olah raga juga disediakan, meski kondisinya memprihatinkan. Seperti tenis meja, lapangan voley dan satu ruangan untuk menonton televisi. "Sekarang televisinya lagi rusak," kata salah satu petugas LP.





KENDALA DANA

Kepala LP Anak Blitar, Mishcan mengungkapkan, berbagai problematika yang ditemui di LP Anak Blitar adanya kenyataan yang tidak perlu disembunyikan. Pihak LP pun sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, namun semua yang dilakukan terbentur dengan persoalan minimnya dana.

"Seperti keinginan untuk merubah bentuk fisik LP dengan menghilangkan pagar-pagar dan jeruji tajam itu, semuanya butuh dana yang tidak sedikit, darimana kami mendapatkan dana itu?" kata Mischan pada The Post. Selama ini, LP Anak sama sekali tidak dianggarkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Propinsi maupun daerah.

Untuk biaya operasional LP, pegawai LP "dipaksa" untuk meminta kucuran dana dari Pemerintah Kabupaten Blitar. Jumlahnya tidak banyak, sekitar Rp.800 juta per tahun. "Untuk uang makan penghuni LP saja, setiap tahunnya mendapatkan jatah Rp.289 juta, padahal standartnya kami membutuhkan tiga ratusan juta lebih," tegas Mischan. Kondisi itu memaksa pengelola LP membuat pengetatan anggaran di berbagai bidang.

Belum lagi untuk mencukupi kebutuhan lain, seperti pembelian sabun cuci dan peralatan sehari-hari yang diperlukan anak. Muncul persoalan bila jumlah terpidana anak selalu bertambah, sementara dana yang ada tidak bertambah. Solusi yang dilakukan adalah meminta dana dari berbagai sumber yang dianggap memiliki keperdulian.

Penglola LP anak juga terus berupaya meningkatkan pengetahun stafnya, terutama menyangkut pamahanan yang berprespektif anak. Saat ini, pengelola LP anak sudah bekerja sama dengan berbagai universitas di Surabaya dan Malang untuk belajar tentang psikologi anak. "Seluruh staf yang berjumlah 81 orang mendapatkan materi psikologi anak, semoga hasilnya lebih baik bagi anak," katanya.

1 comment:

  1. Anonymous4:37 pm

    semoga kedepannya LP Blitar lebih memahami masalah anak., yang terutama dari segi psikologisnya, karena sebenarnya mereka tidak menginginkan berada disana., melainkan ada banyak faktor yang melatarbelakangi.,

    ReplyDelete

Program

Program