Jakarta (iddaily.net) – Berangkat dari mimpi, kini pentas dunia berada dalam genggaman H Mustofa Dimyani.
Setidaknya dalam sebulan dia mengekspor 6-8 kontainer makanan dan minuman.
Bukan perjalanan mudah. Bahkan memulainya benar-benar dari nol. Seorang perintis bisnis yang punya keberanian memulai untuk mewujudkan mimpi.
Awalnya H Dimyani ingin membantu ibunya mendatangkan tepung tapioka untuk memproduksi kacang atom. Kebetulan ibunya tinggal di Malaysia, menemani sang ayah yang menjadi TKI.
Di antara waktu yang dimiliki, ibunda H Dimyani membuat kacang atom. Ternyata tepung yang dibutuhkan tak tersedia di Malaysia.
Pria yang akrab disapa Kaji Dim itu lantas mencoba mengirimkannya dari Indonesia. Dia menitipkan ke pengusaha yang mengirimkan barang ke Malaysia.
“Ternyata begitu sampai di Malaysia, barang-barang di kontainer berwarna putih. Kena tepung saya,” ungkap Kaji Dim, Senin (12/10/2026) di Hotel Lojikka Tulungagung.
Dari pengalaman itu Kaji Dim mulai mencari cara dan mempelajari seluk-beluk ekspor makanan dan minuman. Dia mencari pasar di Malaysia.
Awalnya bapak satu anak ini menargetkan pasar WNI yang tinggal di Negeri Jiran. Maka segala macam makanan, minuman dan bahan pangan yang umum dibutuhkan dikirim ke sana.
“Awalnya hanya satu kontainer. Sekarang 6-8 kontainer setiap bulan,” terang Kaji Dim.
Sebagai rasa syukur, peringatan ulang tahun perusahaannya, Sadean Lestari International ke-22, Kaji Dim menggelar acara di Ballroom Hotel Lojikka Tulungagung. Sekaligus peluncuran buku otobiografinya “Anak Desa Menyuapi Dunia”.
“Saya mengundang pihak-pihak yang telah mendukung saya sekaligus sebagai penebus dosa. Selama 22 tahun ini belum pernah mengucapkan terima kasih,” tutur warga Aryojeding, Tulungagung ini.
Namun ada satu sosok yang sangat istimewa bagi Kaji Dim. “Ini ibu saya, jimat saya satu-satunya,” ujarnya sambil menggandeng tangan sang ibu ke atas panggung.
Kaji Dim berharap pencapaian dan buku yang diluncurkannya bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi pengusaha-pengusaha muda Tulungagung.
“Tulungagung memiliki banyak pengusaha muda dan peluang menjadi eksportir terbuka lebar,” tandasnya.
Dulu Dibimbing, Kini Membimbing
Salah satu tokoh pengusaha senior yang sangat berjasa bagi Kaji Dim adalah H Sutrimo. Pemilik yang juga pendiri perusahaan kacang atom Gangsar itu inspirasi bisnisnya.
Termasuk produk kacang atom yang pertama diekspor ke Malaysia adalah milik Sutrimo.
“Sampai sekarang saya masih mengekspor Gangsar,” ungkap Kaji Dim.
Ketika diundang ke atas panggung, Sutrimo membenarkan pernyataan Kaji Dim. Dia salah satu orang yang pembimbing bisnisnya.
“Awal ke Malaysia, saya yang membimbing. Kacang Gangsar dibawa ke Malaysia. Tapi sekarang saya minta tolong Kaji Dim membimbing anak cucu saya di Malaysia,” ungkap pria yang akrab disapa Abah Trimo ini.
Sementara Ketua Kadin Tulungagung M Rifqy Firmansyah punya kesaksian berbeda. Dia baru mengenal Kaji Dim sekitar dua tahun lalu.
“Awalnya saya tak tertarik dan agak cuek. Setelah 1 tahun ini bertemu dan diskusi akhir tahu pemikirannya yang luar biasa,” ungkapnya.
Salah satu ide Kaji Dim yang kemudian menjadi program Kadin adalah menciptakan 100 CEO anak muda di Kadin. “Tanpa dia tahu, inspirasinya dari Kaji Dim,” terang Rifqy.
Rifqy makin mengenal secara mendalam Kaji Dim ketika hadir berdua ke Jeddah memnuhi undangan Pemprov Jawa Timur. “Banyak idenya dan itu mengubah mindset tentang dunia bisnis,” ungkapnya.
Sementara Komandan Kodim Tulungagung Letkol Arh Hanny Galih Satrio dalam kesempatan yang sama mengaku salut dengan ketekunan Kaji Dim.
Menurutnya, tak semua orang berani bermimpi dan berani mewujudkan mimpinya.
Satu lagi, kata Letkol Hanny, Kaji Dim sosok yang tak pernah berhenti belajar.
“Keputusannya mengambil program S3 di UIN Satu Tulungagung salah satu buktinya,” tandasnya.
Dandim Letkol Hanny berharap pencapaian Kaji Dim dan peluncuran otobiografinya sebagai langkah awal. “Semoga ini adalah awal untuk prestasi-prestasi berikutnya,” tutupnya.
