THE BEST FIVE OPINIONS
Hemat Energi atau Sekadar Imbauan?
Oleh: Ekky Dirgantara


Seruan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tentang Gerakan Hemat Energi datang pada momen yang tepat ketika tekanan energi global mulai terasa hingga ke level daerah.
Namun, pertanyaannya sederhana: apakah ini akan benar-benar mengubah perilaku, atau sekadar berhenti sebagai imbauan?
Kita sudah terlalu sering mendengar ajakan “hemat energi” tanpa perubahan struktural yang nyata. Imbauan tidak pernah salah, tapi juga jarang cukup.
Di satu sisi, langkah mendorong subsidi LPG 3 kilogram agar tepat sasaran adalah kebijakan yang masuk akal.
Data desil yang digunakan pemerintah memberi dasar rasional: kelompok bawah yang benar-benar membutuhkan harus dilindungi, sementara kelompok mampu seharusnya keluar dari skema subsidi.
Masalahnya bukan pada konsep melainkan pada eksekusi.
Selama ini, distribusi LPG subsidi kerap bocor.
Kelompok yang seharusnya tidak berhak masih bisa mengakses, sementara kelompok rentan justru kesulitan mendapatkan pasokan di lapangan.
Tanpa pengawasan yang ketat dan sistem distribusi yang transparan, “penajaman subsidi” hanya akan menjadi jargon teknokratis.
Imbauan untuk tidak panic buying juga logis. Pemerintah dan Pertamina Patra Niaga memastikan stok aman.
Tapi kita tahu, panic buying bukan semata soal ketersediaan barang melainkan soal kepercayaan publik.
Begitu masyarakat merasa informasi tidak konsisten atau distribusi tidak merata, panic buying akan terjadi, bahkan ketika stok sebenarnya cukup.
Di titik ini, komunikasi publik menjadi krusial.
Bukan sekadar menenangkan, tapi meyakinkan dengan data yang terbuka dan distribusi yang benar-benar terasa di lapangan.
Lebih jauh, gerakan hemat energi akan sulit berdampak signifikan jika hanya dibebankan ke rumah tangga.
Konsumsi energi terbesar justru ada di sektor industri, transportasi, dan sistem logistik.
Tanpa intervensi yang lebih besar di sektor-sektor tersebut, ajakan hemat energi berisiko menjadi beban moral bagi masyarakat, bukan solusi sistemik.
Di sinilah tantangan sebenarnya.
Apakah pemerintah daerah berani melangkah lebih jauh dari sekadar imbauan?
Misalnya dengan insentif untuk efisiensi energi di sektor usaha, penguatan transportasi publik, atau bahkan pembatasan konsumsi energi yang lebih terukur?
Tanpa itu, gerakan hemat energi akan berhenti sebagai kampanye bukan perubahan.
Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan seruan.
Publik membutuhkan kepastian: bahwa energi tersedia, subsidi tepat sasaran, dan kebijakan dijalankan secara adil.
Jika itu bisa dijamin, masyarakat tidak perlu diimbau untuk tenang mereka akan tenang dengan sendirinya.
****
Oleh: Hertasning Ichlas


Melalui perang di Iran, belakangan ini banyak pihak memikirkan bagaimana Syiah dipahami sebagai “teologi perlawanan.” dan “protes”.
Pembacaan seperti yang ditawarkan Thanassis Cambanis & Sajad Jiyad (2023) Adel Hashemi (2022), Hamid Dabashi (2011), maupun lebih lampau oleh Juan Cole dan Nikki R. Keddie (1986), menunjukkan bahwa gagasan tersebut “arguably” tidak lahir dari romantisasi semata, melainkan memiliki akar teologis sekaligus material yang panjang dan kompleks.
Karena itu, saya menganjurkan kita membaca karya-karya tersebut dengan lebih saksama, daripada tergesa-gesa mengidealisasi Syiah terutama dari bahan-bahan update-an di medsos dalam konteks perang Iran hari ini.
Banyak emosi dan euforia dari perang ini yang menurut saya dangkal.
Selama masih hidup di dunia, materialisme sejarah dan praktik perlawanan tidak pernah berjalan lurus; ia penuh tikungan, ambiguitas, jatuh dan bangun diikuti konsekuensi yang sering kali tidak kita bayangkan dari kejauhan sementara kita mendengungkan euforia seraya berlindung di balik pertempuran bangsa dan negara lain seperti Iran.
Dalam euforia dukungan terhadap sebuah perjuangan, mudah bagi kita untuk bersorak atas heroisme dan kemenangan.
Namun, pertanyaan yang lebih humble dan mawas diri jarang diajukan: apakah kita juga siap menghadapi kemungkinan kekalahan, kehancuran, dan biaya kemanusiaan yang menyertainya?
Saya, yang jelek-jelek gini pernah ketiban keberkahan bersama tamu lain (karena merekalah saya ikutan ngalap berkah) mencium tangan, pundak —dan dapat hadiah cincin serta kafiyeh shalat milik Rahbar Syahid Ali Khamenei merasa risih mengidealisasi syiah.
Sebab dalam pengidealisasian itu, tanpa kita sadari, ada kecenderungan untuk mengeksklusi alih-alih menginklusi.
Kita membangun sekat antara yang dianggap “Islam beneran” dan “tidak”, antara yang “berjuang” dan yang “tidak cukup” padahal realitasnya jauh lebih berlapis dan penuh nuansa-nuansa.
Pada akhirnya, perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah milik satu mazhab atau tradisi tertentu. Bahkan bukan tentang agama dan preferensi sektarian.
Ia adalah dorongan etis yang inheren dalam banyak agama, bahkan juga hadir dalam nalar manusia merdeka yang tidak beragama.
Mungkin di situlah kita perlu menempatkan refleksi kita: tidak sekadar pada glorifikasi, menyempit soal “Kita dan Kami” tetapi pada pemahaman yang lebih jernih tentang apa yang dipertaruhkan.
Selain menjaga agar narasi perlawanan terhadap penjajahan tetap terbuka, kritis, merangkul, dan tidak kehilangan kemanusiaannya.
****
Oleh: Bismo Agung

Ada satu jenis tulisan yang belakangan ini terasa semakin akrab di ruang publik kita.
Nadanya tenang, bahasanya rapi, dan isinya seolah mengajak kita untuk menjadi lebih bijak.
Ia tidak marah, tidak menyudutkan, bahkan tampak adil karena memberi ruang pada berbagai sisi.

Ada satu jenis tulisan yang belakangan ini terasa semakin akrab di ruang publik kita.
Nadanya tenang, bahasanya rapi, dan isinya seolah mengajak kita untuk menjadi lebih bijak.
Ia tidak marah, tidak menyudutkan, bahkan tampak adil karena memberi ruang pada berbagai sisi.
Di tengah arus informasi yang serba cepat dan sering kali emosional, kehadirannya seperti jeda yang menawarkan kejernihan.
Namun justru karena itu, ia layak dibaca dengan kehati-hatian yang sama besarnya.
Sebab tidak semua yang terdengar bijak sepenuhnya netral.
Ada tulisan yang tidak berupaya memenangkan perdebatan secara langsung, melainkan perlahan menggeser cara pandang pembaca.
Ia tidak menolak kritik, tetapi mengajak untuk meragukan arahnya.
Ia tidak membantah argumen, tetapi memindahkan perhatian dari substansi ke latar belakang, dari persoalan ke kemungkinan motif.
Di titik tertentu, pendekatan ini tidak lagi sekadar mengajak memahami, tetapi mulai membentuk cara kita menilai.
Dalam perkembangan terakhir, muncul kecenderungan yang patut dicermati dengan lebih jernih: hadirnya berbagai suara yang tampil sebagai analis atau pakar, dengan gaya yang terukur dan berbasis data, namun bekerja dalam lanskap wacana yang tidak sepenuhnya steril dari kepentingan.
Ini bukan sesuatu yang selalu tampak kasat mata, melainkan bergerak di wilayah yang lebih halus—di dalam cara argumen disusun.
Melalui tulisan-tulisan yang tampak objektif, sering kali terjadi penyederhanaan yang tidak terasa. Data dipilih secara selektif, konteks dipersempit, dan kesimpulan dibangun secara bertahap hingga terlihat wajar.
Dalam proses seperti ini, logical fallacy tidak hadir sebagai kesalahan mencolok, melainkan sebagai bagian dari alur yang tampak masuk akal.
Di sinilah pentingnya kewaspadaan pembaca dari mahluk yang saya sebut The Eraser.
Mahluk yang hadir ketika sebuah kritik terhadap pemerintah butuh penghapus, atau pemecah keyakinan atas sikap kritis khalayak.
Bukan untuk menolak setiap pandangan yang berbeda, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang kita terima benar-benar berdiri di atas penalaran yang utuh.
Karena dalam bentuknya yang paling halus, pembentukan opini tidak lagi bekerja melalui tekanan, tetapi melalui pengaturan sudut pandang.
Tulisan-tulisan semacam ini juga kerap menempatkan berbagai posisi dalam kerangka yang tampak seimbang.
Pemerintah, oposisi, dan kelompok kritis dipandang memiliki potensi bias masing-masing.
Pendekatan ini tentu memiliki nilai, tetapi jika tidak disertai pembacaan konteks yang memadai, ia berisiko mengaburkan perbedaan yang justru penting untuk dipahami.
Akibatnya, semua hal terasa relatif, dan pembaca didorong untuk menunda penilaian tanpa batas yang jelas.
Kehati-hatian memang bagian penting dari nalar publik. Namun jika keraguan terus dipelihara tanpa arah, ia dapat menjauhkan kita dari kemampuan untuk melihat persoalan secara tegas ketika diperlukan.
Karena itu, membaca hari ini tidak cukup hanya dengan mencari apa yang terdengar masuk akal.
Kita juga perlu bertanya: bagaimana sebuah argumen dibangun, apa yang disertakan, dan apa yang mungkin tidak disampaikan.
Bukan untuk menjadi curiga pada segala hal, melainkan untuk menjaga agar ruang berpikir tetap terbuka dan tidak diarahkan tanpa disadari.
Pada akhirnya, kualitas percakapan publik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi juga oleh sejauh mana kita, sebagai pembaca, mampu mengenali cara sebuah narasi bekerja.
Dan mungkin, di tengah banyaknya tulisan yang terasa benar, kewaspadaan justru menjadi bentuk paling sederhana dari tanggung jawab intelektual.
****
Oleh: Joseph E Ikanubun
Membaca/menonton berita-berita terkait perang AS + Israel versus Iran, kita seperti sedang membaca beberapa koran di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.
Ketika itu konflik bernuansa SARA terjadi di Maluku dan Maluku Utara.
Tidak sulit untuk mengklasifikasi koran-koran mana yang memihak kelompok "A" dan mana yang memihak kelompok "B".
Bahkan konon satu grup perusahaan media besar, demi meraup keuntungan, membuat dua koran; yang pro kelompok "A", dan pro kelompok "B".
Lebih dari 26 tahun kemudian, saat krisis Timur Tengah, kita masih juga disuguhi berita-berita di media massa dengan framing tertentu yang memihak salah satu kelompok.
Kondisi makin runyam ketika akun-akun media sosial (medsos) ikut mengompori dengan informasi-informasi yang tidak akurat, bahkan hoaks.
Mirisnya, kalangan wartawan pun dengan mudah dikelompokkan, paling tidak dari emot, like, dan komen mereka di unggahan medsos yang bertebaran.
Dua dari sembilan elemen jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel adalah kebenaran, dan disipin verifikasi.
Dua dari lima fungsi pers sebagaimana UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers adalah informasi dan edukasi.
Di tengah krisis ini, media massa dan jurnalis punya peran penting yang tetap harus dijaga dan dikerjakan.
*****
Ciri-ciri Akun Buzzer Media Sosial
Oleh: Sandyawan Sumardi
Inilah ciri-ciri akun buzzer (buzzerRp) media sosial berdasarkan pola umum yang sering kita temukan:
(1). Akun itu tidak menggunakan foto diri asli di profilenya.
(2). Akun itu sengaja dikunci oleh pemiliknya.
(3). Nama pengguna (username) acak atau panjang: Seringkali menggunakan kombinasi nama dan angka acak (contoh: @user12345678, @nama_acak_99), menunjukkan akun tersebut dibuat secara massal atau otomatis (bot).
(4). Aktivitas me-retweet/share berlebihan: Akun tersebut jarang membuat konten orisinal, melainkan intens me-retweet, membagikan ulang, atau menyukai konten dari satu pihak tertentu secara terus-menerus tanpa henti.
(5). Komentar seragam (copy-paste): Sering meninggalkan komentar yang sama persis di berbagai postingan berbeda untuk menggiring opini.
(6). Tanggal pembuatan akun baru dan pengikut sedikit: Akun biasanya baru dibuat, namun sudah sangat aktif, dan jumlah pengikutnya sedikit atau bahkan nol.
(7). Fokus konten hanya pada satu isu/isu politik: Timeline atau histori postingan hanya berisi serangan atau pembelaan terhadap figur, partai, atau produk tertentu.
(8). Agresif dan menyerang. Narasi yang digunakan cenderung emosional, provokatif, memicu kebencian, atau membela kelompok tertentu.
Nah, melalui pola ini, semoga kita, masyarakat umum dapat segera mengenali akun yang sengaja dibuat untuk memanipulasi opini publik.
Leiden, 3 Maret 2026
*****
Oleh: Edi Purwanto
Pagi itu, 2004. Rumput Lapangan Gelora Sepuluh Nopember masih basah oleh embun.
Para wartawan berdiri menyebar di tepi lapangan, menunggu momen.
Di salah satu sudut kanan gawang, seorang lelaki bertubuh gempal duduk tenang.
Wajahnya sangar.
Kulitnya legam.
Di tangannya, kamera Nikon dengan lensa tele panjang menjulur seperti meriam kecil yang siap menembak cahaya.
Namanya Eric Siswanto. Tapi kami mengenalnya sebagai Eric Ireng.
Julukan itu melekat bukan karena ia keras, barangkali karena kulitnya yang gelap dan keakraban khas anak lapangan.
Di balik raut wajah yang membuat orang segan, ada senyum tipis yang jarang gagal mencairkan suasana. Ia fotografer senior Harian Surya.
Aku? Hanya wartawan junior dengan kamera cekrek dan roll film yang harus diputar manual.
Hari itu kami meliput pertandingan sepak bola yang diikuti Kapolda Jatim saat itu, almarhum Irjen Pol Firman Gani.
Aku berdiri agak jauh, mencoba mencari sudut. Minder? Tentu saja.
Kamera seadanya, pengalaman minim, dan di sebelahku duduk seorang jebolan Stikosa AWS yang reputasinya sudah panjang di lapangan.
Tiba-tiba ia melirik.
“Kene cedak ambek aku.”
Aku mendekat. Duduk di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bagaimana ia bekerja.
Tidak tergesa. Tidak panik. Matanya membaca arah bola, tubuh pemain, bayangan cahaya. Jemarinya ringan, tapi pasti.
“Carane ngene, lo. Ben entuk gambar sing apik.”
Kalimat sederhana. Tapi di situlah kelas dimulai. Tanpa podium, tanpa papan tulis. Hanya rumput lapangan dan suara sorak-sorai.
Aku mengikuti arah lensanya. Menunggu. Saat Irjen Pol Firman Gani bersiap menendang bola ke arah gawang, aku menahan napas. Lalu: cekrek.
Satu momen. Satu bunyi. Satu keberanian.
Aku pamit lebih dulu karena deadline Surabaya Post tak pernah menunggu.
Dua kali sehari: pukul 12.00 dan 21.00. Pukul 10.00 aku sudah di studio, mencetak foto. Dari dua frame yang kuambil, satu dipilih redaktur sebagai foto utama halaman Surabaya.
Kapolda tertangkap tepat sebelum kaki menyentuh bola. Ekspresi tegang. Energi membuncah. Hidup.
Redaktur memuji. Teman-teman mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu: ada jejak tangan Eric di foto itu.
Sejak hari itu, tak ada lagi jarak senior dan junior. Di lapangan, kami bercanda. Aku bahkan berani sesekali menggojloknya.
Ia tak pernah pelit ilmu. Tak pernah merasa lebih tinggi. Di antara kerasnya dunia redaksi dan ketatnya tenggat waktu, ia menyisakan ruang untuk berbagi.
Tahun berganti. Kamera berubah. Dari roll film ke digital. Dari cekrek ke burst mode. Tapi satu hal tak berubah: cara Eric memandang lapangan. Ia selalu datang lebih awal, memilih sudut, duduk tenang, dan membiarkan momen mendekatinya.
Dua puluh satu tahun berlalu tanpa terasa.
Pagi ini, kabar itu datang seperti awan mendung yang tak diundang. Linimasa para wartawan dan fotografer Surabaya dipenuhi satu kalimat yang sama: Eric Ireng meninggal dunia.
Aku tercenung. Aku tidak bisa hadir takziah mengantar kepergianmu. Aku hanya bisa menggulirkan foto-foto itu. Entah saat mengajar dan berbagi hasil jepretan profesional.
Selamat jalan, Mas Eric Ireng.
Terima kasih telah mengajari kami bahwa memotret bukan sekadar menekan tombol. Ia adalah soal kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati.
Al Fatihah.












.jpg)











Tidak ada komentar