Jakarta (iddaily.net) – Kabar menggembirakan datang dari kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Sebanyak 19 individu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) berhasil diidentifikasi melalui pemantauan kamera pengintai atau camera trap yang dipasang di sejumlah titik kawasan hutan.
Dari jumlah tersebut, terdapat 7 macan tutul jantan, 10 betina, dan dua anakan.
Temuan ini menjadi kabar penting bagi upaya pelestarian salah satu satwa endemik yang keberadaannya semakin terancam.
Identifikasi tersebut merupakan hasil analisis pada Agustus 2026 terhadap rekaman kamera pengintai yang dikumpulkan hingga Maret 2026.
Program pemantauan ini melibatkan 160 kamera pengintai yang dipasang melalui rangkaian kegiatan Java-Wide Leopard Survey (JWLS).
Berdasarkan hasil survei, keberadaan macan tutul Jawa terdeteksi di 46 stasiun kamera atau sekitar 58 persen dari seluruh titik pemantauan.
Deteksi paling banyak ditemukan di kawasan hutan yang relatif terjaga. Hal ini menunjukkan pentingnya keberadaan habitat yang masih memiliki kondisi ekosistem baik untuk mendukung kehidupan satwa liar.
Selain menggunakan rekaman kamera, tim peneliti juga mengumpulkan 44 sampel kotoran atau scat macan tutul untuk pemeriksaan DNA.
Data tersebut membantu peneliti mempelajari populasi, wilayah jelajah, hingga kondisi genetik satwa yang menjadi predator puncak di ekosistem hutan Pulau Jawa.
Field Coordinator Java-Wide Leopard Survey (JWLS) Region Timur, Ummi Farikhah atau akrab disapa Ika, mengungkapkan bahwa survei di kawasan TNBTS juga menemukan 46 jenis satwa lainnya.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 jenis di antaranya berpotensi menjadi mangsa alami macan tutul Jawa,” kata Ika dikutip dari Antara.
Ketersediaan sumber pakan alami menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan hidup predator tersebut.
Ika menilai perlindungan dan pemulihan habitat perlu terus diperkuat. Pemantauan populasi secara berkala, konektivitas antarhabitat, serta kemampuan pengelola kawasan dalam menangani konflik antara manusia dan satwa juga perlu ditingkatkan.
Program Java-Wide Leopard Survey merupakan kolaborasi Bakti BCA, Kementerian Kehutanan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pelestarian macan tutul Jawa tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga ekosistem hutan secara keseluruhan.
Sebagai predator puncak, keberadaan macan tutul menjadi salah satu indikator penting kesehatan ekosistem hutan yang berfungsi menjaga tata air dan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, keterlibatan masyarakat sekitar kawasan konservasi juga menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan satwa.
Warga perlu memahami perilaku macan tutul, menjaga jarak aman, serta bersama-sama mencegah perburuan liar.
Meski temuan 19 individu memberikan harapan bagi konservasi, ancaman terhadap kelangsungan hidup macan tutul Jawa masih perlu diperhatikan.
Fragmentasi habitat dan penurunan keragaman genetik menjadi sejumlah risiko yang harus diantisipasi.
Karena itu, perlindungan kawasan hutan dan pemantauan populasi secara berkelanjutan menjadi langkah penting agar macan tutul Jawa tetap dapat bertahan di habitat alaminya.
