Jakarta (iddaily.net) – Produksi padi di Jawa Timur pada 2026 diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat potensi penurunan produksi pada periode panen akhir tahun atau Oktober hingga Desember.
Dalam rilis terbarunya pada 2 November 2026, BPS Jawa Timur memperkirakan produksi padi sepanjang 2026 mencapai 10,61 juta ton gabah kering giling (GKG).
Jumlah tersebut meningkat 0,17 juta ton atau 1,62 persen dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 10,44 juta ton.
Sejalan dengan itu, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 6,12 juta ton, meningkat 1,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,03 juta ton.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati menjelaskan, peningkatan produksi terutama ditopang hasil panen pada dua periode pertama tahun ini.
“Pada periode Januari-April, produksi padi meningkat 0,21 juta ton GKG. Sementara periode Mei-Agustus mengalami kenaikan 0,15 juta ton GKG,” kata Herum Fajarwati di Surabaya, Jawa Timur.
Sebaliknya, produksi pada periode Oktober-Desember diperkirakan berpotensi turun 0,19 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama pada 2025.
BPS juga memperkirakan luas panen padi di Jawa Timur sepanjang 2026 mencapai 1,85 juta hektare, meningkat 0,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
5 Kabupaten menjadi penyumbang terbesar luas panen dan produksi padi di Jawa Timur, yakni Bojonegoro, Lamongan, Jember, Ngawi, dan Tuban.
Ke-5 daerah tersebut memberikan kontribusi sebesar 35,40 persen terhadap keseluruhan produksi padi di provinsi ini.
Dari sisi ketersediaan lahan, luas baku sawah Jawa Timur tercatat 1.206.475 hectare dan angka tersebut menyusut 1.502 hektare dibandingkan 2024.
“Meski mengalami penyusutan, Jawa Timur masih memiliki luas baku sawah terbesar dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia,” tambahnya.
BPS menjelaskan, angka luas panen Januari-September 2026 menggunakan data tetap berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA).
Sementara periode Oktober-Desember masih menggunakan angka potensi berdasarkan pengamatan KSA September sehingga realisasinya dapat berubah.
Data tersebut menunjukkan peningkatan produksi pangan Jawa Timur masih perlu diikuti upaya menjaga produktivitas dan ketersediaan lahan pertanian, terutama menghadapi potensi penurunan hasil panen pada akhir tahun.
