Jakarta (iddaily.net) – Direktur Eksekutif baru Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Anthonius Jimmy Silalahi, menyoroti kondisi pers Indonesia yang menghadapi tantangan serius di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Jimmy, perkembangan teknologi tidak hanya mengubah proses produksi dan distribusi berita, tetapi juga menghadirkan tantangan mendasar terkait kualitas jurnalistik, independensi media, dan kepercayaan publik.
“Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita,” ujar Jimmy dalam acara serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
“Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik,” lanjutnya.
Serah terima jabatan tersebut menandai pergantian kepemimpinan LPDS dari Kristanto Hartadi, yang mengundurkan diri setelah menjabat sejak 2023, kepada Jimmy.
LPDS Hadapi Tantangan Pendidikan Jurnalistik di Era AI
Jimmy menilai, berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi bangsa justru menuntut kehadiran pers yang semakin kuat dan berkualitas.
Masyarakat, menurutnya, membutuhkan pemberitaan yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan mampu memberikan edukasi.
Hal tersebut sejalan dengan amanat UU Nor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menempatkan pers sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus lembaga kontrol sosial.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Jimmy menegaskan LPDS akan tetap berpegang pada mandat utamanya sebagai lembaga pendidikan pers, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“LPDS lahir dari amanat Dewan Pers pada 1987 untuk mendidik pers. Komitmen itu tidak berubah: melatih wartawan agar menghasilkan berita berkualitas yang mengedukasi publik. Tantangannya hari ini adalah beradaptasi, termasuk menghadapi kecerdasan buatan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pendidikan jurnalistik di era AI tidak cukup hanya mengajarkan penggunaan perangkat teknologi untuk menulis berita atau memverifikasi fakta.
Lebih dari itu, wartawan perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami etika jurnalistik, dan mempertahankan peran manusia dalam proses peliputan.
“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” kata Jimmy.
Dewan Pers Soroti Banjir Informasi dan Disrupsi Algoritma
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga menyoroti perkembangan pers digital yang berlangsung pesat.
Menurut Totok, pertumbuhan media digital membawa tantangan berupa banjir informasi, perubahan distribusi konten akibat algoritma, serta kehadiran AI yang membuat batas antara berita berkualitas dan konten biasa semakin kabur.
“Sekarang ini pers digital tumbuh luar biasa, tetapi juga menghadapi tantangan berat. Banjir informasi, disrupsi algoritma, dan kehadiran AI membuat batas antara berita berkualitas dan sekadar konten menjadi kabur,” ujar Totok.
“Di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik,” tambahnya.
Totok menegaskan, Dewan Pers akan terus mendukung program pendidikan pers agar wartawan Indonesia memiliki kompetensi profesional dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik di era digital.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas pemberitaan di tengah perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi masyarakat.
Kristanto Hartadi Tetap Dukung LPDS
Dalam sambutan perpisahannya, Kristanto Hartadi menyatakan tetap akan mendukung LPDS meskipun tidak lagi menjabat sebagai Direktur Eksekutif.
“Saya tidak akan ke mana-mana. Saya akan terus berada di sini dan mendukung penuh keberadaan serta perjuangan LPDS ke depan. LPDS ini rumah kita bersama, dan saya akan terus mengabdi untuk memastikan lembaga ini tetap relevan dan maju,” ujar Kristanto.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran LPDS serta berharap kepemimpinan baru dapat membawa lembaga tersebut semakin adaptif menghadapi perubahan zaman.
Jimmy sendiri menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA), yayasan yang menaungi LPDS.
Ia juga mengajak pemerintah, kalangan swasta, dan industri media untuk berkolaborasi membangun ekosistem pers yang sehat melalui inovasi program pelatihan jurnalistik di berbagai daerah.
“Oleh sebab itu, LPDS mengajak semua pihak, baik swasta maupun pemerintah, untuk berkolaborasi menyiapkan pers yang berkualitas dengan melakukan berbagai inovasi program pelatihan kejurnalistikan di seluruh penjuru tanah air,” ujarnya.
Jimmy menutup sambutannya dengan menegaskan pentingnya pers yang berkualitas bagi kemajuan bangsa.
“Untuk menjadi bangsa yang maju, harus memiliki pers yang maju. Mari mewujudkannya bersama LPDS,” pungkasnya.
LPDS merupakan lembaga pendidikan jurnalistik yang dibentuk berdasarkan keputusan Dewan Pers melalui sidang pleno pada 1987. Selama hampir empat dekade, LPDS telah melatih ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia dan berperan dalam penguatan profesionalisme serta etika jurnalistik.
