Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa meluas dalam waktu singkat, terutama ketika vegetasi mengering, angin bertiup kencang, dan api menjalar di kawasan yang sulit dijangkau petugas.
Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko bagi masyarakat, petugas pemadam, relawan, hingga pendaki gunung dan kebakaran di kawasan pegunungan juga memiliki tantangan tersendiri.
Selain medan terjal, perubahan arah angin dan terbatasnya akses menuju titik api dapat mempersulit proses pemadaman serta evakuasi.
Lantas, mengapa kebakaran hutan bisa cepat meluas? Mengapa jalur pendakian harus ditutup ketika terjadi kebakaran? Bagaimana cara mencegah kebakaran di kawasan konservasi dan memberikan pertolongan pertama kepada korban luka bakar?
1. Mengapa kebakaran hutan cepat meluas?
Dilansir dari laman resmi BMKG, salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran api adalah kondisi bahan bakar alami, seperti rumput, semak, daun kering, ranting, dan vegetasi lainnya.
Ketika bahan-bahan tersebut kehilangan kelembapan, api lebih mudah menyala dan menjalar.
BMKG memantau potensi karhutla melalui sejumlah indikator cuaca dan kekeringan bahan bakar.
Salah satunya Initial Spread Index (ISI), yang menggambarkan potensi penyebaran api dan sangat dipengaruhi kecepatan angin.
Angin dapat membawa panas dan percikan ke vegetasi di sekitarnya. Akibatnya, api berpotensi menyebar melampaui titik awal kebakaran.
Topografi juga berpengaruh. Lereng terjal dapat menyulitkan pergerakan petugas dan peralatan pemadam. Sementara itu, akses jalan yang terbatas membuat pengiriman air dan proses evakuasi menjadi lebih menantang.
Meski demikian, cuaca panas dan kering bukan dengan sendirinya penyebab awal setiap kebakaran. Sumber penyalaan, kondisi vegetasi, kelembapan, angin, dan karakteristik wilayah perlu diperiksa untuk memahami penyebab suatu kejadian.
2. Mengapa jalur pendakian ditutup saat terjadi karhutla?
Penutupan jalur pendakian bukan sekadar pembatasan aktivitas wisata dan kebijakan tersebut langkah pengamanan saat kebakaran mengancam kawasan gunung atau jalur yang digunakan pengunjung.
Ada beberapa risiko yang perlu diperhitungkan.
Pertama, api dapat bergerak mengikuti arah angin dan membahayakan pendaki yang berada di sekitar titik kebakaran.
Kedua, asap dapat mengurangi jarak pandang serta mengganggu pernapasan. Kondisi ini berbahaya terutama bagi orang yang memiliki gangguan pernapasan atau sedang melakukan aktivitas fisik berat.
Ketiga, jalur evakuasi bisa terhambat oleh medan terjal, pohon tumbang, atau kebakaran yang memotong akses keluar.
Keempat, keberadaan pengunjung dapat mengganggu pergerakan tim pemadam dan penyelamat.
Karena itu, pendaki sebaiknya mematuhi penutupan resmi, tidak memasuki kawasan yang dibatasi, dan menunggu pengumuman pembukaan kembali dari pengelola.
Sebelum mendaki, periksa informasi resmi pengelola taman nasional atau kawasan konservasi yang dituju. Jangan hanya mengandalkan unggahan lama di media sosial.
3. Bagaimana mencegah kebakaran di kawasan konservasi?
Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan pengelola kawasan, petugas, masyarakat, pengunjung, dan pihak yang beraktivitas di sekitar hutan.
Dilansir dari laman kemenkes, langkah yang dapat dilakukan antara lain:
– Tidak membuang puntung rokok sembarangan.
– Tidak meninggalkan api unggun dalam keadaan menyala.
– Memastikan kegiatan memasak di area yang diizinkan dilakukan dengan aman.
– Tidak membakar sampah atau vegetasi di kawasan yang dilarang.
– Tidak meninggalkan bahan yang berpotensi memicu api.
– Segera melaporkan asap atau titik api kepada petugas.
– Mematuhi pembatasan aktivitas ketika pengelola mengeluarkan peringatan bahaya.
Pengelola kawasan juga perlu memperkuat patroli, edukasi pengunjung, deteksi dini, kesiapan personel, serta koordinasi dengan instansi penanggulangan kebakaran.
Masyarakat tidak disarankan memasuki kawasan terbakar atau mencoba memadamkan api besar tanpa pelatihan dan peralatan yang memadai. Tindakan tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan menghambat petugas.
4. Apa yang harus dilakukan jika kebakaran terjadi di jalur pendakian?
Ketika melihat api atau asap di jalur pendakian, keselamatan diri harus menjadi prioritas.
Langkah pertama: segera beri tahu petugas. Sampaikan lokasi sedetail mungkin, arah pergerakan api jika terlihat, jumlah orang dalam rombongan, dan kondisi anggota yang membutuhkan bantuan.
Langkah kedua: ikuti instruksi petugas. Gunakan jalur evakuasi resmi apabila dinyatakan aman. Jangan memaksakan perjalanan menuju puncak atau menerobos area yang tertutup.
Langkah ketiga: jauhi asap dan api. Jangan mendekati sumber kebakaran untuk mengambil foto atau video. Hindari bergerak menuju jalur yang dipenuhi asap atau berada di arah rambatan api.
Langkah keempat: tetap bersama rombongan. Lakukan penghitungan anggota dan bantu orang yang kesulitan bergerak tanpa membahayakan diri sendiri.
Langkah kelima: hubungi layanan darurat apabila diperlukan. Berikan koordinat atau penanda lokasi, kondisi korban, serta jalur akses yang diketahui. Jika sinyal telepon tidak tersedia, ikuti prosedur komunikasi darurat yang ditetapkan pengelola.
Jangan mencoba melintasi kobaran api atau memadamkan kebakaran besar seorang diri. Arah angin dan kondisi api dapat berubah dengan cepat.
5. Bagaimana pertolongan pertama pada korban luka bakar?
Korban kebakaran dapat mengalami luka bakar akibat kontak langsung dengan api, benda panas, atau material yang terbakar. Paparan asap juga berpotensi menyebabkan cedera saluran pernapasan.
Pertolongan pertama harus memperhatikan keselamatan penolong. Jangan memasuki area kebakaran untuk mengevakuasi korban apabila situasi masih berbahaya.
Jika korban sudah berada di tempat aman, lakukan langkah berikut:
Hentikan paparan panas dan jauhkan korban dari sumber bahaya apabila dapat dilakukan dengan aman.
Dinginkan luka bakar menggunakan air mengalir yang sejuk selama sekitar 20 menit.
Lepaskan perhiasan atau benda yang tidak menempel pada kulit di sekitar area luka sebelum terjadi pembengkakan. Jangan menarik pakaian yang melekat pada luka.
Tutup luka dengan penutup bersih yang tidak melekat pada luka.
Jangan mengoleskan pasta gigi, mentega, minyak, atau bahan rumahan lainnya. Hindari penggunaan es langsung pada luka bakar.
Cari pertolongan medis, terutama jika luka luas atau dalam, mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin atau sendi utama, atau korban mengalami kesulitan bernapas.
Jika korban mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, atau luka bakar berat, segera minta bantuan medis darurat. Jangan menunda evakuasi hanya untuk menyelesaikan pertolongan pertama.
Keselamatan Harus Jadi Prioritas
Kebakaran hutan tidak hanya mengancam pepohonan dan satwa liar, tetapi juga keselamatan petugas, relawan, pendaki, dan masyarakat di sekitar kawasan.
Pencegahan, deteksi dini, pelaporan cepat, dan kepatuhan terhadap penutupan kawasan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.
Ketika kebakaran terjadi, masyarakat sebaiknya tidak mendekati titik api demi dokumentasi. Informasi yang akurat dan laporan lokasi yang jelas jauh lebih berguna bagi petugas dibandingkan tindakan yang menambah risiko di lapangan.
