Jakarta (iddily.net) – Gunung Semeru sering erupsi karena merupakan gunung api aktif dengan sistem vulkanik yang masih bekerja.
Aktivitas tersebut berkaitan dengan pergerakan dan suplai magma dari bawah permukaan menuju bagian atas gunung.
Dilansir dari Badan Geologi Kementerian ESDM tercatat Gunung Semeru memiliki aktivitas vulkanik yang khas, termasuk erupsi bertipe Vulkanian dan Strombolian.
Erupsi gunung api pada dasarnya terjadi ketika magma dan material vulkanik dari dalam bumi bergerak menuju permukaan.
Pada Gunung Semeru, pemantauan PVMBG menunjukkan adanya aktivitas magmatik di kedalaman relatif dangkal.
Tekanan dan pergerakan material dari dalam tubuh gunung dapat memicu pelepasan material melalui letusan maupun embusan.
Semeru Memiliki Kawah Aktif
Gunung Semeru memiliki kawah aktif yang dikenal sebagai Jonggring-Seloko, berada di sisi tenggara Puncak Mahameru.
Aktivitas di kawasan kawah tersebut berkaitan dengan proses erupsi Gunung Semeru.
Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi Semeru dapat disertai pembentukan kubah lava dan lidah lava.
Pada kondisi tertentu, aktivitas tersebut dapat diikuti aliran awan panas ke lembah-lembah di sekitar gunung.
Mengapa Erupsinya Bisa Berulang?
Gunung api tidak selalu bekerja seperti letusan besar yang terjadi satu kali kemudian berhenti.
Selama sistem magma masih aktif, pelepasan material vulkanik dapat berlangsung secara berkala dengan intensitas yang berbeda-beda.
Karena itu, Semeru dapat mengalami erupsi berulang meskipun tidak selalu menghasilkan letusan besar.
Aktivitas tersebut dipantau menggunakan berbagai metode, termasuk pengamatan visual, kegempaan, dan deformasi tubuh gunung.
Erupsi Tidak Selalu Berarti Letusan Besar
Dilansir dari website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Gunung Semeru bisa memiliki bentuk dan kekuatan yang berbeda.
Ada aktivitas berupa letusan abu, sementara pada kondisi tertentu dapat terjadi awan panas maupun guguran lava.
Itulah sebabnya status aktivitas gunung dan rekomendasi keselamatan harus selalu mengikuti hasil pemantauan terbaru.
Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia.
Karena itu, pendaki dan wisatawan perlu memahami berbagai potensi bahaya sebelum beraktivitas di kawasan gunung.
Badan Geologi mencatat beberapa potensi bahaya Gunung Semeru, mulai dari awan panas, guguran lava, lontaran material vulkanik hingga lahar.
Berikut Penjelasannya:
1. Awan Panas Guguran
Awan panas guguran merupakan salah satu bahaya yang perlu diwaspadai di Gunung Semeru.
Material vulkanik yang bergerak dari bagian gunung dapat meluncur mengikuti lembah atau alur sungai.
Karena kecepatannya tinggi dan suhunya sangat panas, fenomena ini sangat berbahaya bagi manusia.
2. Guguran Lava
Gunung Semeru juga dapat mengalami guguran lava.
Material lava yang berada di bagian lereng dapat bergerak turun mengikuti kondisi medan.
Karena itu, kawasan sekitar aliran material vulkanik harus dihindari ketika masuk dalam zona bahaya.
3. Lontaran Material Vulkanik
Erupsi dapat menghasilkan lontaran material dari kawah.
Badan Geologi memasukkan lontaran material erupsi sebagai salah satu potensi bahaya di sekitar puncak.
4. Lahar
Bahaya lain yang perlu diperhatikan adalah lahar, terutama ketika material vulkanik hasil erupsi bercampur dengan air hujan.
Aliran lahar dapat bergerak melalui sungai dan lembah yang berhulu di kawasan Gunung Semeru.
Beberapa aliran yang disebut dalam informasi Badan Geologi antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang dan Besuk Kembar.
5. Perubahan Kondisi Gunung
Salah satu hal yang membuat aktivitas di gunung api berisiko adalah kondisinya dapat berubah.
Status aktivitas, zona bahaya, dan rekomendasi keselamatan dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
Karena itu, informasi lama dari pendakian sebelumnya tidak bisa dijadikan patokan untuk perjalanan berikutnya.
PVMBG mengimbau pendaki dan wisatawan sebaiknya:
– Mengikuti aturan resmi pengelola TNBTS.
– Mengecek informasi aktivitas Gunung Semeru sebelum berangkat.
– Tidak memasuki kawasan yang dinyatakan sebagai zona berbahaya.
– Mengikuti arahan petugas di lapangan.
– Tidak memaksakan pendakian ketika kondisi gunung atau cuaca tidak memungkinkan.
Keselamatan harus menjadi prioritas utama ketika berada di kawasan Gunung Semeru.
