Jakarta (iddaily.net) – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut lebih dari 60 orang meninggal dunia hingga hari ketiga pascagempa, Senin (17/8/2026).
Tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih melakukan penyisiran di sejumlah wilayah terdampak, terutama Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
BNPB menyebut operasi SAR melibatkan ribuan personel gabungan yang dikoordinasikan Basarnas. Kekuatan tersebut terdiri atas 63 personel Basarnas dan 1.799 potensi SAR.
Pada hari ketiga pascagempa, Basarnas tidak lagi menerima laporan warga hilang. Meski demikian, penyisiran tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang masih tertimbun atau membutuhkan pertolongan.
Sementara itu, pelayanan medis darurat terus dilakukan. Dua rumah sakit lapangan telah dikirimkan ke Kabupaten Manggarai dan Nagekeo untuk memberikan pelayanan kepada korban gempa maupun warga yang fasilitas kesehatannya terdampak.
Kementerian Kesehatan juga mengerahkan tim manajemen krisis kesehatan dan tim Emergency Medical Team (EMT), serta mengirimkan obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan dan oksigen konsentrator.
BNPB menyatakan pendataan korban dan dampak kerusakan masih terus diperbarui di lapangan.
Sebelumnya, BMKG dalam pemutakhiran pada 17 Agustus pukul 11.00 WIB mencatat korban meninggal sebanyak 53 orang dan 137 orang luka-luka. Perbedaan angka tersebut terjadi karena proses pendataan korban masih berlangsung.
5 Ribu Mengungsi Pascagempa M 7,7 NTT, Sikka Terbanyak
Lebih dari 5.000 warga mengungsi setelah gempa bumi M 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka dengan jumlah 3.356 jiwa.
Para pengungsi di Sikka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan sekitar 2.000 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.
Sementara di Kabupaten Manggarai tercatat 2.078 jiwa mengungsi, pengungsi di Kabupaten Nagekeo sekitar 500 jiwa dan sejumlah wilayah lain di luar NTT.
BNPB menyebut pemenuhan kebutuhan dasar dan logistik menjadi salah satu prioritas dalam penanganan darurat.
Di Kabupaten Manggarai, kebutuhan mendesak yang diidentifikasi antara lain puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, tandon air bersih dan genset.
Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena sebagian warga masih membutuhkan tempat berlindung serta pasokan kebutuhan dasar setelah rumah mereka rusak akibat gempa.
BNPB terus melakukan pendataan dan pemutakhiran jumlah pengungsi di wilayah terdampak.
Bantuan Gempa NTT: 150 Tenda-1,6 Ton Beras Dikirim ke Palue
Pemerintah terus mempercepat distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa bumi M 7,7 NTT dan bantuan dikirim melalui jalur udara dan laut untuk menjangkau wilayah yang aksesnya terdampak gempa.
Salah satu distribusi dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, pada Senin (17/8/2026).
Bantuan yang dikirim meliputi 150 unit tenda keluarga, 400 matras, enam genset beserta enam jeriken bahan bakar minyak (BBM) berkapasitas masing-masing 20 liter, serta 10 boks peralatan listrik.
Selain itu, dikirim 600 paket sembako, 100 dus air minum, 1,6 ton beras untuk kebutuhan sekitar satu minggu, 300 selimut, 100 paket hygiene kits, 100 paket kidsware dan 150 liter minyak goreng.
Bantuan tersebut diangkut menggunakan kapal dan tiba di Pulau Palue pada Senin sore.
Sebelumnya, bantuan tahap pertama telah dikirim menggunakan speedboat milik Polair pada Minggu (16/8/2026).
Dukungan juga mencakup obat-obatan dan pengerahan delapan tenaga medis dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan.
BNPB sebelumnya telah membuka Posko Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk menerima dan menyalurkan bantuan dari kementerian/lembaga, BUMN, swasta maupun masyarakat menuju wilayah terdampak di Flores.
Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara maupun laut untuk mempercepat penyaluran, terutama ke wilayah kepulauan yang menghadapi kendala akses akibat kerusakan infrastruktur.
