Jakarta (iddaily.net) – Penanganan darurat bencana pascagempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu terus dipacu.
Berdasarkan data pembaruan kumulatif yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (27/8/2026), total korban meninggal dunia mencapai 105 jiwa, dengan 1.678 orang luka, dan 179.037 warga terpaksa bertahan di posko pengungsian.
Hasil pemantauan terupdate dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Kamis pagi pukul 05.00 WIB, total aktivitas gempa susulan (aftershock) di zona patahan Flores Back-Arc Thrust telah menyentuh angka 8.193 kali kejadian.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr Wijayanto ST MSc menjelaskan bahwa durasi aktivitas seismik susulan ini merupakan fase yang lumrah pascabencana tektonik berskala besar.
“Proses stabilisasi ini merupakan bagian alamiah dari pelepasan energi kerak bumi untuk mencapai keseimbangan baru setelah gempa utama. Kami memperkirakan rangkaian gempa susulan masih akan terus berlangsung dalam kurun waktu tiga hingga empat minggu ke depan,” ujar Dr Wijayanto dalam keterangan resminya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat yang berada di tenda penampungan maupun area permukiman tidak terpancing isu-isu bohong yang tidak bertanggung jawab.
“Masyarakat dimohon untuk terus menghindari bangunan yang kondisinya retak atau sudah rusak strukturnya akibat guncangan sebelumnya. Pastikan informasi perkembangan terbaru hanya bersumber dari kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi,” tegasnya.
Sementara dampak kerusakan infrastruktur fisik di lapangan juga dilaporkan kian meluas.
Tercatat sebanyak 84.562 unit rumah warga mengalami kerusakan dan wilayah Kabupaten Manggarai Timur salah satu area terdampak paling massif.
Dengan rincian 7.486 rumah rusak berat, 5.247 rusak sedang, dan 7.794 rusak ringan.
Sedangkan di Kabupaten Manggarai, sebanyak 7.455 unit rumah dilaporkan rusak berat.
Selain permukiman, guncangan berulang ini merusak fasilitas publik seperti sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, serta memicu longsoran yang memutus akses jalan utama.
Guna mempercepat penanganan, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penyaluran dana siap pakai (DSP) senilai total Rp 200 miliar untuk penanganan darurat dan logistik.
Pos Pendukung Logistik Nasional (Posduklognas) BNPB sejauh ini telah menyalurkan ribuan ton bantuan ke titik-titik pengungsian utama melalui jalur udara dan laut.
