Jakarta (iddaily.net) – Fenomena El Nino yang semakin menguat perlu diantisipasi sejak dini karena berpotensi membawa dampak serius bagi Indonesia.
Mulai dari kemarau lebih panjang, kekeringan, krisis air bersih hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peringatan tersebut disampaikan pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair), Dr Hijrah Saputra ST MSc.
Dilansir dari Unair News, dia menekankan pentingnya langkah mitigasi dilakukan sebelum dampak El Nino semakin meluas.
Menurut Hijrah, El Nino terjadi ketika angin pasat melemah sehingga massa air laut hangat bergeser dari wilayah Indonesia menuju Pasifik Tengah dan Timur.
Kondisi tersebut menyebabkan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik meningkat dan menggeser pusat pembentukan awan hujan.
Akibatnya, Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering.
Hijrah menjelaskan, kekuatan El Nino dapat diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI).
Nilai di atas 0,5 derajat Celsius menunjukkan kondisi El Nino, dengan kategori lemah pada 0,5–0,9, sedang 1–1,4, kuat 1,5–1,9 dan sangat kuat apabila mencapai 2 derajat celsius atau lebih.
El Nino Berisiko Picu Krisis Air dan Pangan
Menurut Hijrah, dampak El Nino bagi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya hujan.
Fenomena tersebut dapat memicu kemarau panjang, meningkatkan risiko kebakaran hutan, mengurangi ketersediaan air bersih serta mengganggu sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Kondisi kering juga dapat memberikan dampak lebih luas terhadap lingkungan dan meningkatkan emisi karbon akibat kebakaran.
Karena itu, mitigasi tidak seharusnya dilakukan setelah bencana terjadi. Persiapan perlu dilakukan sejak awal agar masyarakat dan pemerintah memiliki cadangan serta strategi menghadapi kondisi yang lebih kering.

Empat Langkah Mitigasi yang Disarankan
Hijrah menyebut ada empat langkah utama yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak El Nino.
Pertama, mengoptimalkan cadangan air dengan mengisi dan menjaga ketersediaan air di bendungan.
Kedua, melakukan modifikasi cuaca terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Ketiga, mempercepat masa tanam untuk mempertahankan kelembapan tanah dan mengurangi risiko terganggunya produksi pertanian.
Keempat, melakukan diversifikasi pangan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menurut Hijrah, langkah tersebut penting untuk mengurangi dampak El Nino, khususnya terhadap sektor air dan pangan.
BMKG: Kondisi Kering Masih Berlanjut
Peringatan pakar Unair tersebut sejalan dengan perkembangan iklim yang dipantau BMKG.
Dalam laporan terbarunya, BMKG menyebut fenomena El Nino kuat dan kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap berkurangnya suplai hujan di Indonesia.
Sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut dan meningkatkan potensi kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
BMKG juga sebelumnya mencatat kondisi kering yang semakin dominan, dengan curah hujan kategori rendah mencapai 92,93 persen wilayah pada Dasarian II Juli 2026.
Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami kekeringan dan kejadian karhutla.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api.
Mitigasi sejak dini dinilai penting agar dampak El Nino terhadap ketersediaan air, pertanian, pangan dan lingkungan dapat ditekan.
