Surabaya (iddaily.net) – Lembaga lingkungan ECOTON mengajak puluhan pelajar, mahasiswa, dan relawan melakukan aksi penyelamatan ekosistem mangrove melalui kegiatan Make Mangrove Green Again di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah plastik yang menjerat akar-akar mangrove.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 21 siswa homeschooling tingkat SD hingga SMP, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), serta sejumlah relawan.
Selain melakukan aksi bersih-bersih, peserta juga memperoleh edukasi mengenai pentingnya hutan mangrove sebagai pelindung wilayah pesisir dan habitat berbagai biota laut.
Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Selain melindungi garis pantai dari abrasi, vegetasi ini mampu menyerap karbon dalam jumlah besar atau dikenal sebagai blue carbon, menyaring polutan, serta menjadi tempat berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, hingga burung.
Founder ECOTON, Prigi Arisandi menjelaskan, sampah plastik yang melilit akar mangrove dapat mengganggu proses pertumbuhan pohon.
Menurutnya, plastik tidak hanya menghambat perkembangan akar, tetapi juga berpotensi menutup lentisel, yaitu pori-pori pada batang dan akar mangrove yang berfungsi sebagai jalur pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
“Apabila lentisel tertutup oleh sampah plastik, proses respirasi mangrove akan terganggu sehingga memengaruhi pertumbuhan bahkan kelangsungan hidup pohon,” jelas Prigi saat memberikan edukasi kepada peserta di atas perahu yang menyusuri kawasan mangrove.
Ia juga mengingatkan bahwa sampah plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan gesekan akan terurai menjadi mikroplastik.
Partikel berukuran sangat kecil tersebut lebih sulit dibersihkan dan berpotensi mencemari ekosistem mangrove hingga masuk ke rantai makanan laut.
Edukasi Langsung di Alam
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu. Selama perjalanan, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman mangrove, satwa yang hidup di dalamnya, fungsi ekologis mangrove, hingga ancaman pencemaran sampah plastik terhadap kawasan pesisir.
Usai sesi edukasi, seluruh peserta turun langsung membersihkan kawasan pantai dan melepaskan sampah plastik yang melilit akar mangrove.
Dalam waktu sekitar 30 menit, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah berkapasitas 25 kilogram.
Sampah yang ditemukan didominasi botol plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan sachet, sedotan, sandal, serta berbagai limbah plastik yang terbawa aliran sungai menuju kawasan mangrove.
Anak-anak Belajar Menjaga Lingkungan
Salah seorang peserta, Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku terkejut melihat banyaknya sampah yang menjerat akar pohon mangrove.
“Tadi aku ambil sampah plastik yang melilit akar pohon. Banyak sekali dan susah dilepas. Sampah ini berasal dari orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Semoga semua orang membuang sampah di tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Nashwa, siswi kelas 1 SD yang baru pertama kali mengikuti aksi bersih pantai.
Ia mengaku berhasil mengumpulkan dua karung sampah yang berisi botol plastik, kemasan minuman, sedotan, dan berbagai jenis sampah lainnya.
“Mulai sekarang harus mengurangi penggunaan plastik supaya tidak mencemari laut. Biasanya kalau pergi aku membawa botol minum dan wadah makan sendiri dari rumah agar tidak menghasilkan sampah plastik,” katanya.
## Orang Tua Apresiasi Pembelajaran Berbasis Lingkungan
Salah satu orang tua peserta, Ariesta, menilai kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak karena memberikan kesempatan belajar langsung di alam.
Menurutnya, melalui kegiatan seperti ini anak-anak dapat memahami fungsi mangrove, pentingnya menjaga lingkungan, serta membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sejak dini.
Ia berharap kebiasaan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai tidak hanya diterapkan saat mengikuti kegiatan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di rumah.
Dorong Masyarakat Kurangi Sampah Plastik
ECOTON menegaskan bahwa menggabungkan edukasi dengan aksi nyata menjadi cara efektif menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak usia dini.
Dengan melihat langsung dampak sampah plastik terhadap mangrove, peserta diharapkan terdorong mengubah kebiasaan sehari-hari untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Melalui program Make Mangrove Green Again, ECOTON juga mengajak masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Pasalnya, sebagian besar sampah yang mencemari kawasan mangrove berasal dari aliran sungai yang bermuara ke laut.
Langkah sederhana seperti membawa botol minum dan wadah makan sendiri, menggunakan tas belanja pakai ulang, serta memilah sampah sejak dari rumah dinilai menjadi kontribusi nyata dalam menjaga mangrove sebagai benteng alami pesisir sekaligus habitat penting bagi berbagai biota laut.