Malang (iddaily.net) –Ini cerita tentang Desa Taji, di Kabupaten Malang.
Desa ini dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil Java kaffa atau Java Coffee jenis Arabica terbaik sejak jaman kolonial Belanda.
Cita rasa yang spesial membuat kopi dari desa Taji banyak dicari dan menjadi kopi favorit pada masa itu.
Sayangnya, pada 1990 seluruh pohon kopi di desa Taji justru dibabat habis.
Bahkan pohon kopi yang berada di kawasan hutan Perhutani juga ditebang dan hanya tersisa pangkal batangnya.
Hal ini karena warga setempat beramai-ramai beralih menanam sayur.
“Sehingga kawasan kopi terbilang hilang total dari desa Taji di era itu” tambah Laksono Budi, Ketua Komunitas Malang Sejuta Kopi.
Akhirnya kopi Taji mati suri.
Pada 2011, seorang anggota Babinsa Koramil Jabung yakni Serka Heri Purnomo berupaya meyakinkan dan mendampingi masyarakat untuk melakukan reboisasi.
Tujuannya agar ada akar tanaman keras yang menahan laju air hujan di lereng sehingga tidak terjadi longsor lagi sekaligus menghidupkan kembali legenda Kopi Taji.
Ada tiga jenis tanaman kopi yang ditanam di desa Taji.
Yaitu Arabica, Robusta dan Liberica.
Ketinggian 1.200 mdpl membuat pohon kopi Arabica tumbuh dengan subur.
Begitu juga dengan pohon kopi Robusta.
Meski idealnya Robusta ditanam di kawasan dengan ketinggian kurang dari 1.000 mdpl, ternyata pohon kopi jenis ini mampu berbuah lebat dan mempunyai cita rasa yang khas.
Hampir menyerupai kopi Arabica.
Ciri khas kopi desa Taji adalah aroma dan rasa kopinya terasa lebih lembut dan ada sedikit rasa asam jawa.
Akhirnya sebanyak 365 KK yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai petani kembali menanam kopi.
Baik di kebun maupun di pekarangan rumah.
Hasilnya titik longsor pun mulai berkurang sementara kopi yang ditanam sudah mulai bisa dipanen.
Pada tahun-tahun berikutnya reboisasi kopi pun berlanjut.
Sedikitnya ada 25 ribu bibit kopi yang didatangkan ke desa Taji.
Diawali dengan pemilihan varietas bibit, penanaman hingga tahap perawatan.
Begitu juga dengan proses petik.
Jika dahulu dilakukan secara sembarang, kini dipilih yang berwarna merah tua untuk memastikan hanya yang benar-benar masak pohon yang akan diolah.
Proses panen ini disebut petik merah.
Tahapan selanjutnya yakni perendaman kopi atau rambang.
Rambang dilakukan untuk memisahkan kopi dengan kualitas baik dan yang tidak.
Kopi yang mengapung memiliki kualitas kurang baik sehingga harus dipisahkan.
Setelah proses rambang selesai, berikutnya yakni pemisahan kulit dan biji kopi.
Baru kemudian dijemur dibawah terik matahari untuk memaksimalkan kandungan senyawa rasa kopi dalam bentuk biji mentah atau biasa disebut green bean.
Setelah itu biji kopi disangrai.
Sejak itu kualitas dan produksi kopi di desa Taji meningkat.
Pada tahun 2023 produksi kopi di desa Taji mencapai 4,5 ton per tahun dari areal luas lahan lahan kopi mencapai 85 hektare yang tersebar di seluruh desa.
Kearifan lokal dan ketekunan petani kopi desa Taji membuktikan bahwa kopi bukan hanya mengenai rasa.
Tapi dialog antara alam dan manusia.