Jakarta (iddaily.net) – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Rabu (4/11/2026) pagi. Erupsi tersebut disertai awan panas guguran (APG) yang meluncur sejauh sekitar 3 kilometer ke arah tenggara, tepatnya menuju Besuk Kobokan.
Peristiwa tersebut terpantau sekitar pukul 05.06 WIB melalui kamera pengawas (CCTV) milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang yang terpasang di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo.
Koordinator Pos Pantau Curah Kobokan, Sugiono, mengatakan jarak luncur awan panas kali ini terlihat cukup jelas melalui kamera pengawas.
“Jarak luncur yang kemarin kurang terlihat tapi yang sekarang sangat nampak jelas kisaran 3.000 meter. Belum ada dampak sama sekali bagi masyarakat karena masih jarak aman,” ujar Sugiono, dikutip dari iNews, Rabu (4/11/2026).
Sementara berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru yang dirilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi juga tercatat pada pukul 05.05 WIB.
Letusan tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi sekitar 267 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati secara visual.
Saat ini, aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, warga diminta menjauhi area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena berisiko terkena lontaran batu pijar.
Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar juga perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
PVMBG mengingatkan masyarakat untuk mematuhi rekomendasi keselamatan dan mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui kanal informasi resmi Badan Geologi serta BPBD setempat.
