Surabaya (iddaily.net) – Kematian ikan secara massal ditemukan di Sungai Jagir, Wonokromo, Surabaya. Tim Ecoton yang melakukan pemantauan pada Senin (7/9/2026) menemukan sejumlah ikan mati dan beberapa lainnya dalam kondisi tidak normal atau “mabuk” di permukaan sungai.
Koordinator Ronda Sungai Ecoton 2026, Jofanny Ahmad Arianto, mengatakan ikan yang ditemukan mati antara lain bader bang, bader putih, hampala, dan keting.
Pemantauan dilakukan di dua lokasi, yakni Pintu Air Jagir dan kawasan depan Stikosa AWS. Hasil pengukuran awal menunjukkan sejumlah parameter kualitas air tidak memenuhi baku mutu Kelas II berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021.
Salah satu temuan penting adalah kadar fosfat. Konsentrasinya mencapai 0,6 mg/L di Pintu Air Jagir dan 1,2 mg/L di depan Stikosa AWS, sementara ambang baku mutu yang digunakan sebesar 0,2 mg/L.
Selain fosfat, kadar oksigen terlarut (DO) juga berada di bawah standar. DO tercatat 2,4 mg/L di Pintu Air Jagir dan 3,1 mg/L di depan Stikosa AWS, sedangkan baku mutu Kelas II mensyaratkan sedikitnya 4 mg/L.
Ecoton menduga tingginya beban pencemar dan rendahnya oksigen terlarut dapat berpengaruh terhadap kondisi ikan. Namun, hasil uji awal tersebut belum dapat memastikan fosfat sebagai penyebab tunggal kematian ikan dan masih diperlukan pemeriksaan parameter lain secara lebih menyeluruh.
Sebelumnya, kondisi sungai berbusa dilaporkan terjadi di sekitar Bendungan Rolak Gunungsari.
Berdasarkan keterangan Perum Jasa Tirta (PJT), busa tersebut berasal dari sisa proses pemadaman kebakaran di PT Wings, Driyorejo, Gresik, yang kemudian terbawa aliran sungai menuju wilayah hilir.
Ecoton mengimbau masyarakat tidak menangkap, menjual, ataupun mengonsumsi ikan yang ditemukan mati atau dalam kondisi mabuk di Sungai Jagir hingga ada kepastian mengenai penyebab pencemaran dan keamanan ikan.
Untuk mencegah kejadian serupa, Ecoton mendorong pengawasan lebih ketat terhadap outlet limbah industri, termasuk pemasangan CCTV serta sensor kualitas air yang dapat dipantau secara real-time.
Pemulihan ekosistem dan populasi ikan juga dinilai perlu dilakukan setelah kualitas air dinyatakan aman.