Jakarta (iddaily.net) – Perjalanan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di Nahdlatul Ulama tidak terjadi secara singkat.
Sosok yang kini dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031 tersebut telah lama aktif dalam dunia pesantren dan organisasi NU.
Sebelum menduduki posisi tertinggi di jajaran tanfidziyah PBNU, Gus Kikin dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Ketua PWNU Jawa Timur dan pengurus PBNU.
Menjadi Pengasuh Tebuireng
Dilansir dari NU Online, Gus Kikin dipercaya menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8, meneruskan kepemimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang wafat pada 2020.
Tebuireng memiliki posisi penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama karena pesantren tersebut didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Sebagai pengasuh, Gus Kikin meneruskan tradisi pendidikan pesantren sekaligus mengembangkan berbagai bidang pendidikan di lingkungan Tebuireng.
Posisi tersebut juga membuat Gus Kikin semakin dekat dengan jaringan pesantren dan tokoh-tokoh NU di berbagai daerah.
Aktif di Kepengurusan NU
Gus Kikin bukan sosok baru dalam organisasi NU.
Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur pada 2008-2022.
Pada 2022, Gus Kikin kemudian dipercaya masuk dalam jajaran PBNU dengan bidang yang berkaitan dengan ekonomi.
Kiprah tersebut berlanjut ketika Gus Kikin ditunjuk sebagai Pj Ketua PWNU Jawa Timur pada Januari 2024.
Tak lama kemudian, ia terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024-2029.
Pengalaman panjang tersebut menjadi salah satu modal Gus Kikin ketika kemudian mendapat dukungan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Diusung Jadi Calon Ketum PBNU
Menjelang Muktamar ke-35 NU, nama Gus Kikin masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
PWNU Jawa Timur dan sejumlah PCNU di wilayah tersebut kemudian memberikan dukungan dan menugaskan Gus Kikin untuk maju.
Gus Kikin menyatakan kesiapannya menjalankan amanah tersebut apabila memang dipercaya. Ia juga menekankan bahwa pencalonannya bukan semata-mata ambisi pribadi, melainkan bagian dari amanah organisasi.
Salah satu gagasan yang dibawanya adalah memperkuat kembali nilai-nilai dasar NU, termasuk perhatian terhadap Qanun Asasi, serta mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
Terpilih Ketum PBNU 2026-2031
Puncak perjalanan Gus Kikin di NU terjadi dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memperoleh dukungan tertinggi dengan 472 suara.
Lima nama calon kemudian diserahkan kepada sembilan anggota AHWA untuk dimusyawarahkan.
Melalui musyawarah tersebut, AHWA akhirnya secara mufakat menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.
Mekanisme tersebut menjadi bagian penting dalam Muktamar ke-35 NU karena penetapan ketua umum dilakukan melalui musyawarah AHWA.
Keputusan terpilihnya Gus Kikin ini diumumkan langsung oleh anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, serta kiai sepuh anggota majelis lainnya.
“Setelah melakukan musyawarah dari lima calon yang diajukan, maka anggota AHWA secara mufakat untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketum PBNU masa khidmah 2026-2031,” kata Kiai Anwar saat membacakan keputusan AHWA, di ruang sidang pleno Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin pagi.
Pesan Gus Kikin Setelah Terpilih
Setelah mendapatkan amanah sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menyerukan pentingnya kekompakan dan kebersamaan.
Pesan tersebut menjadi perhatian karena perjalanan Muktamar ke-35 NU sebelumnya juga diwarnai dinamika dan perbedaan pandangan di antara peserta.
Gus Kikin kini menghadapi tantangan untuk menyatukan berbagai kelompok dan potensi di dalam tubuh NU.
Dengan latar belakang sebagai pengasuh pesantren, pengusaha dan organisatoris NU, Gus Kikin akan memimpin PBNU untuk periode lima tahun ke depan.
Perjalanan Gus Kikin dari lingkungan pesantren Jombang hingga menjadi Ketua Umum PBNU menunjukkan bagaimana pengalaman panjang di pesantren dan organisasi NU membawanya ke panggung kepemimpinan nasional.
