Jakarta (iddaily.net) – Anime merupakan salah satu produk budaya Jepang yang paling dikenal di dunia. Dari kisah robot, ninja, samurai, hingga percintaan dan kehidupan sehari-hari, anime berkembang menjadi bentuk animasi dengan cerita dan genre yang sangat beragam.
Namun, bagaimana sebenarnya asal usul anime dan kapan animasi Jepang mulai berkembang?
Istilah anime saat ini identik dengan animasi buatan Jepang.
Sejarahnya ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar kemunculan serial televisi populer pada era modern.
Perjalanan anime dimulai dari eksperimen animasi pada awal abad ke-20, kemudian berkembang melalui industri film, televisi, manga, hingga akhirnya menjadi bagian penting dari budaya populer global.
Apa Itu Anime?
Secara sederhana, anime adalah istilah yang digunakan untuk menyebut animasi Jepang.
Di Jepang sendiri, kata anime merupakan bentuk pendek dari animēshon, yang berasal dari kata ‘animation’.
Karena itu, istilah tersebut sebenarnya dapat digunakan secara lebih luas untuk menyebut animasi.
Namun di luar Jepang, anime kemudian memiliki pengertian yang lebih spesifik, yakni animasi yang berasal dari Jepang atau memiliki karakteristik kuat dari industri animasi Jepang.
Anime tidak hanya ditujukan untuk anak-anak. Seiring perkembangannya, anime memiliki genre yang sangat beragam, mulai dari aksi, petualangan, komedi, romantis, fantasi, horor, olahraga, sejarah, hingga cerita dengan tema sosial dan filosofis.
Awal Mula Anime pada Awal Abad ke-20
Sejarah anime dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20, ketika para pembuat film Jepang mulai bereksperimen dengan teknik animasi yang sebelumnya berkembang di negara-negara seperti Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan Rusia.
Sejumlah karya animasi Jepang mulai muncul pada sekitar 1910-an.
Salah satu karya yang masih bertahan hingga sekarang adalah Namakura Gatana karya Jun’ichi Kōuchi, yang berasal dari 1917.
Pada masa tersebut, teknologi animasi masih sangat sederhana. Para animator harus membuat gambar secara manual dengan teknik yang berbeda-beda untuk menciptakan ilusi gerakan.
Banyak karya animasi Jepang dari periode awal kemudian hilang karena berbagai faktor, termasuk kerusakan akibat Gempa Besar Kantō 1923 dan kondisi industri film pada masa itu.
Perkembangan Animasi Jepang Sebelum Perang Dunia II
Memasuki dekade 1930-an, animasi mulai menjadi salah satu bentuk produksi film di Jepang.
Para animator bereksperimen dengan berbagai teknik untuk membuat produksi animasi lebih murah dan efisien.
Pada periode ini pula, animasi Jepang harus bersaing dengan film animasi dari luar negeri.
Perkembangan tersebut kemudian berlanjut hingga masa Perang Dunia II.
Pada masa perang, industri animasi Jepang juga digunakan untuk membuat film propaganda dan film instruksional.
Kondisi tersebut membuat perkembangan teknik animasi terus berlangsung, meskipun tujuan produksinya berbeda dengan anime yang dikenal saat ini.
Industri Anime Mulai Berkembang Setelah Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia II berakhir, industri animasi Jepang mengalami masa sulit.
Di sisi lain, masuknya berbagai film animasi asing, terutama produksi Amerika Serikat, turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan animator Jepang.
Salah satu titik penting terjadi ketika Toei Animation mengembangkan produksi film animasi berskala besar.
Pada 1958, Toei merilis Hakujaden atau The Tale of the White Serpent, yang dikenal sebagai film animasi warna panjang pertama Jepang.
Film tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan industri animasi Jepang.
Toei kemudian menjadi salah satu studio yang berpengaruh dalam perkembangan anime dan melahirkan banyak animator yang kelak bekerja pada berbagai proyek animasi Jepang.
Osamu Tezuka dan Lahirnya Anime Televisi Modern
Jika membahas asal usul anime modern, nama Osamu Tezuka tidak dapat dilewatkan.
Tezuka dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan manga dan anime Jepang.
Namanya semakin dikenal melalui karakter Astro Boy, atau Tetsuwan Atom dalam bahasa Jepang.
Manga Astro Boy mulai diterbitkan pada awal 1950-an dan kesuksesan manga tersebut kemudian membuka jalan bagi adaptasi televisinya.
Pada 1 Januari 1963, Fuji Television menayangkan serial animasi Tetsuwan Atom selama 30 menit. Serial tersebut kemudian dikenal luas di luar Jepang sebagai Astro Boy.
Situs resmi Tezuka Osamu menyebut serial Astro Boy sebagai serial animasi Jepang berdurasi 30 menit pertama yang turut membentuk dasar perkembangan budaya animasi Jepang modern.
Mengapa Astro Boy Begitu Penting?
Astro Boy bukan sekadar anime populer.
Kesuksesan serial tersebut membantu membentuk model baru dalam industri animasi televisi Jepang.
Produksi anime televisi membutuhkan biaya yang relatif besar, sementara waktu tayang dan jumlah episode sangat banyak.
Karena itu, tim Tezuka mengembangkan berbagai cara untuk menghemat proses produksi, termasuk mengurangi jumlah gambar yang diperlukan dan menggunakan gambar diam dalam bagian tertentu.
Menurut Nippon.com, strategi produksi tersebut membantu menekan biaya sehingga anime televisi dapat diproduksi secara berkelanjutan.
Astro Boy juga memiliki penonton yang sangat luas dan situs resmi Tezuka mencatat serial tersebut pernah mencapai rating penonton 40,7 persen di Jepang dan kemudian ditayangkan di sejumlah negara lain.
Kesuksesan inilah yang membantu membuka jalan bagi berkembangnya industri anime televisi.
Dari Astro Boy hingga Anime Beragam Genre
Setelah keberhasilan Astro Boy, semakin banyak serial anime diproduksi untuk televisi.
Pada 1960-an muncul berbagai judul yang kemudian dikenal luas, seperti Kimba the White Lion, Speed Racer, Sally the Witch, dan sejumlah serial lainnya.
Anime kemudian tidak lagi hanya mengandalkan cerita untuk anak-anak.
Berbagai genre mulai berkembang dan menyasar kelompok penonton yang berbeda.
Ada anime tentang robot, olahraga, petualangan, fantasi, kehidupan sekolah, percintaan, hingga cerita yang mengangkat persoalan sosial dan politik.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan anime mampu bertahan dan terus menemukan penonton baru.
Anime dan Manga Saling Berkaitan
Salah satu ciri penting industri hiburan Jepang adalah hubungan erat antara manga dan anime.
Banyak anime dibuat berdasarkan manga yang telah populer. Sebaliknya, kesuksesan anime juga dapat meningkatkan popularitas manga aslinya.
Astro Boy menjadi salah satu contoh awal hubungan tersebut.
Model serupa kemudian digunakan pada banyak karya populer lainnya.
Hubungan antara manga, anime, merchandise, gim, musik, film, dan berbagai produk lain akhirnya berkembang menjadi sebuah ekosistem industri yang sangat besar.
Ciri Khas Anime Jepang
Anime memiliki sejumlah karakteristik visual dan penceritaan yang membuatnya mudah dikenali.
1. Desain karakter yang ekspresif
Karakter anime sering memiliki ekspresi wajah yang kuat.
Mata yang besar, bentuk rambut yang khas, serta ekspresi berlebihan menjadi bagian dari gaya visual yang berkembang dalam anime dan manga.
Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua anime menggunakan mata besar atau desain karakter yang sama. Gaya visual anime sangat beragam tergantung studio, sutradara, periode, dan genre.
2. Cerita yang panjang dan berkembang
Anime tidak selalu menggunakan format cerita yang selesai dalam satu episode.
Banyak serial memiliki cerita panjang yang berkembang dari episode ke episode.
Karakter dapat mengalami perubahan, konflik berkembang secara bertahap, dan hubungan antartokoh menjadi bagian penting dalam cerita.
3. Genre sangat beragam
Anime memiliki genre yang luas.
Ada shonen yang banyak menyasar pembaca atau penonton laki-laki muda, shojo yang secara tradisional menyasar perempuan muda, seinen, josei, isekai, mecha, olahraga, horor, hingga drama kehidupan sehari-hari.
Karena itu, anggapan bahwa anime hanya untuk anak-anak tidak lagi relevan.
4. Musik menjadi bagian penting
Lagu pembuka atau opening (OP) dan lagu penutup atau ending (ED) menjadi bagian yang sangat identik dengan anime.
Tidak sedikit lagu anime kemudian menjadi populer secara mandiri dan memperkenalkan penyanyi maupun grup musik kepada pasar internasional.
5. Perpaduan budaya Jepang dan cerita universal
Anime sering memasukkan unsur budaya Jepang, seperti kehidupan sekolah, festival, makanan, mitologi, samurai, kuil, hingga kehidupan masyarakat Jepang.
Namun cerita yang dibawa dapat memiliki tema universal seperti persahabatan, keluarga, perjuangan, kehilangan, cinta, dan pencarian jati diri.
Perpaduan inilah yang membuat anime dapat diterima oleh penonton dari berbagai negara.
Anime Mulai Mendunia
Perkembangan anime tidak berhenti di Jepang.
Sejak 1960-an, sejumlah serial animasi Jepang mulai ditayangkan di luar negeri. Astro Boy, Speed Racer, dan sejumlah judul lainnya menjadi pintu masuk anime ke pasar internasional.
Pada awalnya, sebagian anime yang masuk ke pasar luar Jepang mengalami pengeditan dan penyesuaian tertentu.
Namun memasuki dekade 1980-an dan terutama 1990-an, semakin banyak penonton internasional yang mulai mencari anime dalam bentuk yang lebih dekat dengan versi aslinya.
Popularitas anime kemudian berkembang pesat melalui judul-judul seperti Dragon Ball, Sailor Moon, Pokémon, Naruto, One Piece, dan berbagai karya lainnya.
Anime dan Studio Ghibli
Selain serial televisi, film animasi Jepang juga memiliki peran besar dalam memperkenalkan anime kepada dunia.
Salah satu nama yang sangat berpengaruh adalah Studio Ghibli.
Studio yang didirikan oleh Hayao Miyazaki, Isao Takahata, dan Tokuma Shoten tersebut menghasilkan sejumlah film animasi yang mendapatkan perhatian internasional.
Karya seperti My Neighbor Totoro, Princess Mononoke, dan Spirited Away menunjukkan bahwa animasi dapat menghadirkan cerita yang kompleks, emosional, dan dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia.
Spirited Away bahkan menjadi salah satu film anime yang paling dikenal di dunia dan memperkuat posisi animasi Jepang dalam industri film internasional.
Anime di Era Digital
Memasuki era internet dan layanan streaming, penyebaran anime semakin cepat.
Penonton tidak lagi harus menunggu tayangan anime masuk ke stasiun televisi lokal.
Platform digital memungkinkan penonton di berbagai negara menyaksikan anime dengan jarak waktu yang jauh lebih pendek dari sebelumnya.
Perubahan ini juga membuat komunitas penggemar anime berkembang melalui media sosial, forum, komunitas cosplay, fan art, hingga berbagai acara budaya pop.
Anime akhirnya tidak lagi hanya menjadi produk hiburan Jepang, tetapi berkembang menjadi fenomena budaya global.
Anime di Indonesia
Anime telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Sejumlah anime populer masuk melalui televisi dan kemudian menjadi bagian dari kenangan masa kecil berbagai generasi.
Judul seperti Doraemon, Dragon Ball, Sailor Moon, Naruto, One Piece, dan Detective Conan memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia.
Perkembangan internet kemudian membuat pilihan anime yang dapat diakses masyarakat Indonesia semakin luas.
Kini penggemar anime tidak hanya menonton serial, tetapi juga mengikuti komunitas, membeli merchandise, membaca manga, menghadiri acara jejepangan, hingga melakukan cosplay.
Dari Animasi Sederhana Jadi Budaya Populer Dunia
Perjalanan anime berlangsung lebih dari satu abad.
Berawal dari eksperimen animasi Jepang pada awal 1900-an, industri ini berkembang melalui film, studio animasi, televisi, manga, dan teknologi digital.
Kemunculan Astro Boy pada 1963 menjadi salah satu tonggak terpenting dalam lahirnya model anime televisi modern.
Setelah itu, industri anime terus berkembang dan melahirkan berbagai genre serta gaya visual.
Kini anime telah menjadi bagian dari budaya populer dunia.
Kekuatan anime bukan hanya pada gambar bergerak, tetapi juga pada kemampuannya membangun karakter, menghadirkan cerita panjang, mengeksplorasi berbagai genre, serta menggabungkan unsur budaya Jepang dengan tema yang dapat dipahami penonton dari berbagai negara.
Dari Astro Boy hingga anime modern, perjalanan panjang tersebut menunjukkan bagaimana animasi Jepang berhasil berubah dari hiburan lokal menjadi salah satu industri budaya paling berpengaruh di dunia.
