Jakarta (iddaily.net) – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pengajian dan pembacaan shalawat.
Di berbagai daerah, peringatan kelahiran Nabi berkembang menjadi tradisi yang berpadu dengan budaya lokal.
Keragaman tersebut membuat perayaan Maulid Nabi memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Ada Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta, Panjang Jimat di Cirebon, Molotan di Situbondo, hingga berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan lainnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyebut Maulid Nabi sebagai salah satu peristiwa yang melahirkan beragam ekspresi budaya di Indonesia.
Pemerintah juga mencatat tradisi yang berkaitan dengan Maulid berkembang dari Aceh hingga Papua.
1. Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta
Salah satu tradisi Maulid yang paling dikenal adalah Sekaten. Tradisi ini berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Dilansir dari Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat Sekaten sebagai upacara tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sekaten ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014.
Di Yogyakarta, Sekaten merupakan rangkaian tradisi Keraton yang digelar pada bulan Mulud dalam kalender Jawa.
Salah satu bagian pentingnya adalah dikeluarkannya dua gamelan pusaka, Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, untuk kemudian dimainkan di Masjid Gedhe.
Keraton Yogyakarta pada 21 Agustus 2026 juga memberitakan dimulainya rangkaian Hajad Dalem Sekaten Mulud Be 1960/2026 melalui prosesi Miyos Gangsa.
2. Panjang Jimat di Cirebon
Di Cirebon, peringatan Maulid Nabi dikenal salah satunya melalui tradisi Panjang Jimat yang berkembang di lingkungan keraton.
Tradisi ini berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Islam masyarakat Cirebon.
Catatan kajian budaya yang tersimpan dalam Garba Rujukan Digital Kemendikbud menyebut Panjang Jimat sebagai salah satu tradisi Maulid di lingkungan Kesultanan Cirebon.
Kawasan keraton Cirebon sendiri memiliki sejumlah bangunan dan perangkat tradisi yang berkaitan dengan pelaksanaan peringatan Maulid.
Salah satunya adalah Langgar Agung yang juga dikenal sebagai Masjid Panjang Jimat.
3. Molotan di Situbondo
Di Situbondo, Jawa Timur, terdapat tradisi Molotan yang berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi.
Data Warisan Budaya dari Kemendikbud mencatat bahwa tradisi Molotan menjadi salah satu kegiatan masyarakat Situbondo pada bulan Rabiul Awal.
Dalam tradisi tersebut terdapat pembacaan teks Nor Bhuwwat yang berisi kisah Nabi Muhammad SAW.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mengemas peringatan Maulid dengan unsur budaya dan sastra yang berkembang di daerahnya.
4. Tradisi Keagamaan di Aceh
Aceh juga memiliki tradisi peringatan Maulid Nabi yang kuat.
Dilansir dari Dinas Syariat Islam Aceh, pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam memasukkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam agenda kegiatan keagamaan daerah.
Dalam laporan kegiatan 2025, Dinas Syariat Islam Aceh mencatat pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW sebagai salah satu kegiatan hari besar Islam.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Maulid memiliki posisi penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Aceh.
5. Saman dalam Tradisi Maulid di Gayo
Di wilayah Gayo, Aceh, tradisi Saman juga dapat menjadi bagian dari kegiatan pada hari besar keagamaan, termasuk Maulid Nabi Muhammad SAW.
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud mencatat adanya Bejamu Besaman, yang dilaksanakan pada hari-hari besar keagamaan, termasuk Maulid Nabi.
Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana kesenian dan kehidupan keagamaan dapat berjalan berdampingan dalam masyarakat setempat.
6. Jamasan Gong Kyai Pradah di Blitar
Di Blitar, Jawa Timur, terdapat tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah yang dilaksanakan dua kali dalam setahun, salah satunya pada bulan Rabiul Awal yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat tradisi turun-temurun tersebut sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Sutojayan, Kabupaten Blitar.
Tradisi Jamasan Gong Kyai Pradah juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Namun, dalam pemberitaan mengenai tradisi ini perlu dibedakan antara pencatatan tradisi budaya oleh pemerintah dan keyakinan masyarakat terhadap makna atau khasiat tertentu yang menyertainya.
Tradisi Berbeda, Semangat yang Sama
Beragamnya tradisi Maulid Nabi di Indonesia menunjukkan bagaimana masyarakat di berbagai daerah memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Ada daerah yang menonjolkan seni musik tradisional, pembacaan kisah Nabi, kegiatan keraton, pembagian makanan, hingga berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.
Kementerian Kebudayaan menilai keragaman tersebut sebagai bagian dari kekayaan ekspresi budaya Indonesia.
Peringatan Maulid tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga memperlihatkan proses akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal.
Pada akhirnya, Sekaten, Panjang Jimat, Molotan, maupun berbagai tradisi Maulid lainnya memiliki bentuk yang berbeda.
Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Indonesia dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
