Jakarta (iddaily.net) – Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, memiliki kerentanan tinggi terhadap pencemaran sampah laut (marine debris).
Sampah plastik yang terbuang ke perairan tidak akan hilang begitu saja, melainkan terfragmentasi menjadi partikel-partikel mikroskopis yang dikenal sebagai mikroplastik.
UKM Pencinta Alam Wanala Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Karsa Lestari Bawean, di SD Islam Terpadu (IT) Al Huda Bawean, Gresik.
Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa mikroplastik merupakan ancaman nyata yang sudah menjadi perhatian dari berbagai bidang, mulai dari kesehatan hingga ekonomi.
“Harapannya, melalui sosialisasi yang kami sampaikan, siswa-siswi SD IT Al Huda Bawean bisa menjadi pelopor yang memiliki kesadaran lebih terhadap ancaman mikroplastik,” kata Ketua Operasional PLHAB UKM Wanala, Bima Ardhia Vardhan dilansir dari News Unair.
Dia menyebut pengaruh pencemaran terhadap rantai makanan dan kesehatan ekosistem laut juga menjadi urgensi.
Sebab, mikroplastik yang ada di lautan mudah tertelan oleh biota laut dan ikan.
Saat ikan tersebut dikonsumsi masyarakat Bawean, racun dan partikel plastik berpindah ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan, yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Pulau-pulau kecil seringkali menghadapi kendala dalam pengelolaan dan pendaurulangan sampah dan langkah paling efektif adalah pencegahan dari hulu melalui edukasi reduksi penggunaan plastik.
Selain penyampaian materi mengenai pengenalan mikroplastik, anak-anak juga praktik langsung melihat kandungan mikroplastik yang ada pada sampel air yang diambil dari perairan di daerah Sangkapura, Bawean.
