Jakarta (iddaily.net) –Setahun lalu di Arab Saudi.
Waktu-waktu seperti sekarang ini adalah persiapan menuju puncak haji: wukuf di Arafah.
Mas Supardi Hardy (wartawan Kabarbaik.co), salah satu anggota grup, menghadiahi saya sepasang sepatu sandal dari karet.
Beruntung, sandal ukuran 44 masih available di toko kelontong di Jeddah, tak jauh dari hotel tempat kami menginap.
***
Dengan berkain ihram, kami menuju padang Arafah- yang berjarak 100-an KM dengan menggunakan bus.
Di Arafah, tenda-tenda sudah menunggu.
Kami ditempatkan di salah satu tenda, tak jauh dengan ruang makan, dan aula yang juga digunakan sebagai tempat salat.
Pagi menjelang.
Kami bersiap menuju Jabal Rahmah, sekitar 2-3 KM dari tenda.
Sandal putih hadiah dari mas Hardy nyaman di kaki ketika berjalan menuju ke bukit batu setinggi 71 meter itu.
Bukit ini dipercaya sebagai tempat Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu untuk pertama kali.
Begitu sampai di Jabal Rahmah, saya bermaksud mendaki bukit itu, menuju ke tonggak putih, yang dipercaya sebagai titik pertemuan Adam dan Hawa.

Jalur yang biasanya dibuka, kali ini ditutup dengan water barrier. Beberapa polisi menjaga di sekitarnya.
Saya memperkenalkan diri sebagai jamaah haji Indonesia, dan meminta izin untuk melewatinya, tapi ditolak secara halus.
Alasan mereka, jemaah sudah memadati Jabal Rahmah.
Jalan memutar, menjadi salah satu solusinya. Saya berhasil naik ke punggung bukit, namun tidak sampai ke atas.
Bukit batu itu sudah memutih oleh jamaah haji berkain ihram.
Di punggung bukit Jabal Rahmah itulah, saya melakukan live report untuk CNN Indonesia.
Kaki Lecet-Lecet
Setelah semua selesai, saya merasakan kaki saya pedih.
Sandal putih hadiah dari mas Hardy, membuat kaki saya lecet di beberapa titik.
Saya periksa sandal putih itu, entah mengapa, bentuknya menjadi lebih kecil dari sebelumnya.
Ukuran 44, menjadi sekitar 42 bahkan 41. Cuaca yang panas, membuatnya menyusut, dan mengecil.
Saya butuh plester perawat luka untuk menutupi iritasi yang mulai berair.
Sambil menahan pedih, saya ke counter obat-obatan, masih di area Jabal Rahmah.
“Saya butuh plester untuk iritasi kaki,” kata saya pada penjaga counter, dalam bahasa Inggris sederhana.
Penjaga itu mengambil satu kotak plester.
“Saya tidak butuh sebanyak itu, hanya beberapa saja,” saya menjelaskan.
“Tidak bisa. Harus beli satu kotak,” ia menjawab, dalam bahasa Inggris terbata.
Beli sekotak? Kenapa banyak banget? Harus bayar? Kenapa gak gratis, kan ini momen dunia.
Meski menggerutu dalam hati, saya tetap bayar..
Saya kembali melanjutkan aktivitas saya, meliput suasana Jabal Rahmah.
Ketika siang semakin terik, saya kembali ke tenda, sekaligus melakukan wukuf.
Sore menjelang, rombongan kami menembus macet dari Arafah ke Muzdalifah, dan singgah beberapa jam di sana untuk berganti hari, lalu lanjut ke Mina.
Lempar Jumrah Berdarah

Langit pagi masih memerah, ketika saya memilih menuju jamarat untuk melakukan lempar Jumrah.
Jalanan yang sesak dengan jemaah haji dari berbagai negara, membuat jalan kaki sejauh 2KM terasa dekat.
Jalanan mulai menanjak, saat akan memasuki komplek lempar jumrah.
Tiba-tiba, sebuah kursi roda yang diduduki jemaah haji perempuan berusia lanjut, dan didorong oleh seorang pemuda– mungkin kerabatnya, menabrak kaki kiri saya.
Ujung pijakan kaki penumpangnya, pas menghajar tumit, dan menyobek kulitnya.
Darah mengucur.
Sambil terpincang-pincang, saya menepi. Menahan sakit, dan berusaha menutup luka dengan tissue.
Seorang jemaah haji menghampiri saya, dan menawarkan bantuan. Saya menolaknya.
Sambil menahan sakit, saya teringat, masih ada sekotak plester yang saya beli di Arafah.
Astaghfirullah…
Saat itu saya tersadar. Mungkin inilah jawaban, kenapa saya “diminta oleh-Nya” membeli plester luka sekotak.
Karena keesokan harinya di Mina, kaki saya berdarah-darah.
Saya mohon ampun dalam hati, sembari menutup luka– yang sampai sekarang, bekasnya masih ada.
Saya kembali melanjutkan lempar jumrah.
“Allahu Akbar!”
(bersambung)
